Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Achsanul Qosasi

Anggota III BPK RI

Sense of Crisis

Image

Presiden Joko Widodo | Biro Pers Istana

AKURAT.CO, Ada doa dalam Islam yang diriwayatkan dalam Sahih Ibn Hibban. Bunyinya “Allahumma la sahla illa ma ja’altahu sahla, wa anta taj’alul hazna idza shi’ta sahla”—Ya Allah, tak ada yang mudah kecuali Engkau memudahkannya, dan Engkau pula yang membuat kesulitan menjadi kemudahan jika Engkau menghendakinya!

Oleh santri pesantren dan murid-murid sekolah, doa ini biasanya digunakan pada saat menempuh ujian. Konon, sesuai artinya, doa ini membuat mudah para santri atau murid dalam menjawab atau mengerjakan soal-soal. Wallaahu a’lam.

Akan tetapi, jika kita baca lebih jauh dalam literatur Islam, membaca doa ini pada dasarnya adalah salah satu cara dalam menghadapi krisis. Membaca dan menghayati hadis doa ini merupakan cara untuk menguatkan pikiran, hati dan fisik, bahwa kemudahan dan kesulitan itu tergantung pada kehendak Sang Pencipta kemudahan dan kesulitan itu sendiri.

baca juga:

Membaca cuitan dalam Twitter pribadi Presiden Jokowi, Kamis 9 Juli 2020, hadis doa ini bisa dikatakan berhubungan dengan kesadaran dan tindakan terkait sense of crisis. Sebab, dibaca dalam berbagai kamus, sense of crisis mengacupada adanya sudut pandang, pemahaman, rasa, kesadaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi krisis. Sense of crisis berhubungan dengan kemampuan untuk mendapat informasi dan gagasan, mengolahnya dalam pikiran dan hati, menumbuhkan pengetahuan dan kesadaran baru dan atas dasar itu terlahir tindakan yang tepat.

Orang yang benar-benar membaca doa di atas, oleh karena itu, tiba pada satu kesadaran atas dasar pengetahuan dan rasa (sense) bahwa kemudahan dan kesulitan itu benar-benar ada, silih-berganti dan sama-sama merupakan kehendak Allah. Dan dalam menghadapi kedua kehendak yang bertolak-belakang itu, sejak awal sampai akhir harus dipenuhi oleh keyakinan akan kekuasaan Sang Pencipta keduanya.

Berpikir atau berpandangan bahwa pandemi saat ini bukan krisis, dan oleh karena itu berperilaku seolah-olah tak terjadi apa-apa, tentu saja merupakan anomali. Dan hadis doa di atas menjadi semacam peringatan, bahwa kemudahan dan kesulitan itu, kapanpun, di manapun dan pada siapapun pasti terjadi.

Jika kemudian ada para pejabat negara yang bingung atau dinilai masih belum mampu bekerja maksimal di tengah badai pandemi ini, itu menjadi indikasi bahwa ada persoalan dengan sense of crisis. Sehingga amat wajar jika Presiden Jokowi menyampaikan persoalan ini ke masyarakat luas melalui media sosial.

Dan untuk itu, Presiden Jokowi memberi tips yang amat sederhana: “Bagaimana bekerja dengan sense of crisis di tengah pandemi ini? Ya, lebih keras dan lebih cepat. Dari kerja biasa ke kerja luar biasa. Dari cara-cara rumit ke cara-cara cepat dan lebih sederhana. Dari yang SOP (Standard Operational Procedures) normal, ke SOP yang smart shortcut.”

Deskripsi proses dari orang-orang yang bekerja berdasar sense of crisis ini sangat sederhana: lebih tekun, giat, lebih lama, lebih cepat, beda dari biasa dan sederhana. Tetapi, dan ini yang tempo hari membuat Presiden diberitakan ‘marah’, indikasinya harus terlihat jelas di setiap jeda dan akhir setiap langkah dan tindakan, yakni terbukti lebih efektif dan efisien. Efektif dan efisien tidak dibuktikan semata-mata dengan habisnya anggaran atau tindakan berhemat, tetapi dibuktikan dengan korelasi antara setiap rupiah yang keluar dengan manfaat nyata pada rakyat.

Kembali pada pengalaman di masa nyantri di pesantren, soal kemudahan dan kesulitan dalam menempuh ujian tentu bukan satu-satunya tantangan terkait sense of crisis. Berbagai doa juga senantiasa dipanjatkan supaya kegiatan belajar bisa tetap jalan di tengah berbagai keterbatasan fasilitas.

Akan tetapi, segala keterbatasan itu terasa membentuk cara berpikir, bersikap dan bertindak dalam ukuran-ukuran yang bagi banyak orang boleh jadi dipandang tidak normal atau biasa. Setiap sore, misalnya, sebagai anak dan murid, saya harus menyalakan 2 lampu strongking (petromaks), 7 lampu templek dan 1 obor. Itu harus saya jalani selama bertahun-tahun.

Jika dilihat sepintas, tak ada yang istimewa dari penugasan atau kebiasaan tersebut. Tetapi, dalam pandangan saya, seperti dalam mengelola negara, di sana berlaku home economy. Bagi seorang anak dan santri, yang sedang digodok untuk mampu bertahan hidup dan berkembang dalam silih-ganti  kemudahan dan kesulitan, ini menjadi semacam berkah dalam mengasah sense of crisis. Nilai-nilai dan praktik home economy tersebut membentuk kebiasaan dan kesadaran.

Di ranah pemerintahan negara ini, yang menurut hemat saya menjadi salah satu sebab kenapa Presiden Jokowi harus berbicara sense of crisis, mungkin bukan hanya karena soal keterlambatan tetapi juga masalah kepekaan, keluasan pandangan atau bahkan sikap mbalelo. Dalam hal ini, ungkapan keterlenaan di ‘menara gading’ mungkin bisa membantu kita.

Sejak abad ke-19, metafor tour d'ivoire atau ivory tower mengacu pada tempat, kedudukan dan suasana yang serba mulia, enak, dan menyenangkan. Orang yang hidup di menara gading berarti terpisah dari dunia nyata, baik secara fisik atau mental. Mereka sibuk dengan pikiran atau urusannya sendiri dan mengabaikan realitas kehidupan sehari-hari.

Kita tahu, selanjutnya, Presiden Jokowi berasal dari wong cilik—kalau tidak dari kelas menengah bawah—yang terbiasa hidup di kota kecil atau bahkan di kampung-kampung. Ketika sudah duduk sebagai presiden pun, beliau selalu berusaha blusukan ke kampung-kampung. Dari kata-kata, sikap dan perbuatan beliau kita bisa merasakan bahwa sikap ‘kekampungan’ itu tak pernah luntur.

Akan tetapi, tak demikian halnya dengan orang-orang yang membantu beliau dalam pemerintahan. Meskipun banyak juga yang memulai hidup dan karir dari bawah, sense kekampungan mereka tak demikian kuat. Indikasinya sangat sederhana, yakni dengan melihat frekuensi dan durasi bersama masyarakat, program-program yang langsung menyentuh masyarakat dan laku hidup kemasyarakatan apa yang mereka jalankan.

Terakhir, terkait sense of crisis di tengah badai pandemi, pilihan terbaik kita tentu adalah mendukung program-program pemerintah yang baik dan dilakukan secara benar. Dan, seraya menundukkan kepala, hati dan pikiran kita lebih rendah lagi, berdoa  “Allahumma la sahla illa ma ja’altahu sahla, wa anta taj’alul hazna idza shi’ta sahla”—Ya Allah, tak ada yang mudah kecuali Engkau memudahkannya, dan Engkau pula yang membuat kesulitan menjadi kemudahan jika Engkau menghendakinya!

Wallaahu a’lam bi al-shawaab.

Editor: Dian Rosmala

berita terkait

Image

News

Brigjen Rusdi Hartono Akui Rekomendasi Komnas HAM Tidak Diserahkan ke Polri

Image

News

FOTO Presiden Jokowi Tinjau Langsung Bencana Banjir di Kalsel

Image

Ekonomi

Syekh Ali Jaber Wafat, Medsos Bergema Ungkapkan Duka Cita

Image

News

Presiden Jadi Penerima Vaksin Pertama Hari ini, PKS: Momentum Perbaikan Penanganan Pandemi

Image

News

Mahfud Sebut Presiden Belum Serahkan Nama Calon Kapolri ke DPR

Image

Olahraga

Kemenpora

Pemerintah Segera Susun Grand Design Keolahragaan Nasional

Image

News

Kompolnas Serahkan Lebih dari Satu Nama Calon Kapolri ke Presiden Jokowi

Image

News

Usai Reses DPR, Komisi III Minta Presiden Jokowi Kirim Surat Pengangkatan Calon Kapolri

Image

News

Jokowi: Setelah Sinovac, Indonesia Telah Amankan Pasokan Vaksin dari Amerika, Inggris dan Jerman

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Gaya Hidup
Lawan Covid-19

Hoax Vaksin Dibalik Ngeyelnya Warga dan Lambannya Pemerintah Atasi Pandemi

Wawancara pakar epidemiologi, dr. Pandu Riono, MPH,Ph.D

Image
Gaya Hidup

Buka di Bintaro, Kopi Ko Acung Jual Sop Singkong Kuah Sapi Khas Sambas

Kedai Kopi Ko Acung mengusung slogan "Selalu Bahagia”.

Image
Gaya Hidup

Meski Masih PPKM, Tempat Wisata di Garut Kembali Dibuka

Sanksi terkait pelanggar peraturan masih menunggu Surat Edaran dari Bupati

Image
Gaya Hidup

Selamat, Seluruh Chef Indonesian Rayakan Ulang Tahun ICA ke-14

ICA bisa menjadi bagian dari team Gastrodiplomasi Indonesia

Image
Gaya Hidup

Lapar Tersembunyi, Yuk Kenali Hidden Hunger

Anemia juga bisa menjadi penyebab munculnya hidden hunger

Image
Gaya Hidup

Tenang, Nikmati Momen Liburan Keluarga di Desa Wisata Ekang

Si kecil dapat berinteraksi dengan beragam hewan

Image
Gaya Hidup

5 Manfaat Buah Nanas bagi Kesehatan, Mampu Tingkatkan Imunitas!

Nanas mengandung vitamin C tinggi. Karena itulah nanas bisa dijadikan sebagai sumber utama antioksidan untuk menangkal radikal bebas.

Image
Gaya Hidup
Lawan Covid-19

Syarat Sebelum Terima Vaksin COVID-19

Usai divaksin, tidak ada makanan khusus atau olah raga tertentu yang dilarang

Image
Gaya Hidup

Hikmah Pandemi, Sarian Skincare Catat Hasil Fantastis

Kamu ingin menjadi distributor Sarian Skincare?

Image
Gaya Hidup

Resep Pancake Havermut Kacang Merah, Sarapan Sehat Keluarga

Pancake havermut kacang merah bisa ditaburi potongan pisang ataupun saus madu

terpopuler

  1. Ucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Presiden Resmikan Brand Ekonomi Syariah

  2. 7 Potret Memesona Nora Alexandra dengan Pakaian Khas Bali, Cantik Paripurna!

  3. Gak Mau Kalah Sama RI, Paman Sam Pilih Wanita Pertama Sebagai Bendahara Negara

  4. Turnamen Berakhir, Pebulutangkis Indonesia Pulang Hari Ini

  5. Humor Gus Dur; Rapat IPPNU

  6. 5 Meme Lucu Liverpool Dikalahkan MU di Piala FA, Trio Firmansah Babak Belur

  7. Bren Esports, Penakluk Tim Indonesia Juarai M2 World Championship

  8. 5 Amalan Pembuka Pintu Rezeki yang Patut Dibaca Setiap Hari

  9. Dikabarkan Billy Syahputra Positif Covid-19, Ibunda Amanda Manopo Ingatkan Jangan Makan Gorengan

  10. Gagal Terus Bina Rumah Tangga, Vicky Prasetyo Anggap Salah Metode Pernikahan

fokus

Kaleidoskop 2020
Akurat Solusi: Kenaikan Cukai Tembakau
Lawan Covid-19

kolom

Image
Abdul Hamid

Ilusi Dilema Demokrasi dan Integrasi

Image
UJANG KOMARUDIN

Menanti Gebrakan Kapolri Baru Pilihan Jokowi

Image
Kementrian Luar Negeri Republik Azerbaijan

Tragedi Black January

Image
UJANG KOMARUDIN

Kapolri Baru

Wawancara

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Gesits Buktikan Kendaraan Listrik Ramah Perawatan | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

VIDEO Gesits, Cita-cita Bangsa Ciptakan Kendaraan Listrik | Akurat Talk (1/2)

Image
Video

Bukan Mistis, Gangguan Jiwa Adalah Gangguan Medis | Akurat Talk (3/3)

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Maya Nabila, Mahasiswa S3 ITB yang Baru Berusia 21 Tahun

Image
News

5 Fakta Penting Habib Muhammad bin Ahmad Al-Attas, Tunaikan Haji Lebih dari 29 Kali

Image
News

4 Fakta Penting Deva Rachman, Istri Kedua Syekh Ali Jaber yang Jarang Tersorot