image
Login / Sign Up

Kasus Kian Meroket, Obat Kunci Perawatan COVID-19 Justru Beredar di Pasar Gelap India

Endarti

Wabah Corona

Image

Obat anti-virus produksi Gilead Sciences, remdesivir, beredar di pasar gelap Delhi dengan harga mencapai 6-7 kali lipat | Reuters

AKURAT.CO, Berada di peringkat ke-3, kasus infeksi Virus Corona di India telah mencapai angka 723.185 orang dengan kematian menyentuh angka 20.198 jiwa. Berdasarkan data dari Worldometer, kasus infeksi di India melampaui Rusia.

Ironisnya, India kini juga dihadapkan pada masalah lain, yaitu berkembangnya pasar gelap yang menjual obat kunci untuk COVID-19, tocilizumab hingga remdesivir.

Dalam liputan investigasinya, BBC melaporkan bahwa remdesivir dan tocilizumab yang sekarang langka telah dijual dengan harga berlebihan di pasar gelap di Old Delhi.

baca juga:

Jurnalis BBC dari Delhi, Vikas Pandey, menjelaskan bagaimana saat ia dan timnya berupaya menghubungi orang-orang yang bekerja di pasar gelap membanderol remdesivir dengan harga hampir 6-7 kali lipat.

"Saya bisa memberi Anda tiga botol - tetapi masing-masing akan berharga 30 ribu rupee (Rp5,7 juta) dan Anda harus segera datang," tulis Pandey mengutip kata seorang pria yang mengaku bekerja di 'bisnis obat-obatan'.

Sementara seseorang yang lain menuntut harga hingga 38 ribu rupee (Rp7,3 juta) per botolnya.

Harga yang ditawarkan di pasar gelap tersebut jelas sangat memberatkan pasien COVID-19. Pasalnya, harga resmi untuk setiap botol remdesivir setidaknya berkisar 5.400 rupee (Rp1 juta). Selama perawatan, pasien biasanya membutuhkan lima hingga enam dosis remdesivir.

Senada dengan laporan Pandey, Abhinav Sharma dari Delhi juga menceritakan hal serupa. Sharma menceritakan bahwa ia terpaksa lari ke pasar gelap untuk mendapatkan remdesivir lantaran pamannya yang terjangkit COVID-19 sudah dalam kondisi parah. Sementara, obat tersebut sudah tidak tersedia di manapun.

"Saya menangis. Paman saya berjuang untuk hidupnya dan saya berjuang untuk mengatur obat yang mungkin bisa menyelamatkannya."

"Setelah lusinan panggilan, saya (akhirnya) mendapatkan obat dengan bayaran tujuh kali lipat. Saya benar-benar bersedia membayar berapapun harganya, tetapi saya prihatin kepada orang-orang yang tidak mampu membelinya," ucap Pandey.

Nasib Sharma dan pamannya ini memang tidak asing bagi banyak keluarga di India, khususnya Delhi. Beberapa saksi bahkan mengaku terjun ke pasar gelap dan dipaksa membayar obat dengan harga selangit.

Permintaan remdesivir yang kian meningkat ini tidak terlepas dari fakta bahwa obat anti-virus ini berhasil memotong durasi perawatan untuk pasien COVID-19. Dalam hal ini, uji klinis juga telah membuktikan bagaimana remdesivir mampu mempersingkat pemulihan pasien setidaknya dari 15 hari menjadi 11 hari.

Namun, stok obat produksi Gilead Sciences ini diketahui telah diborong oleh Amerika Serikat (AS). Padahal, dokter di berbagai penjuru India semakin gencar meresepkan remdesivir kepada pasien COVID-19. Alhasil, kesenjangan besar antara penawaran dan permintaan remdesivir pun ikut menjadi masalah utama dalam penanganan wabah COVID-19.

Gilead yang awalnya mengembangkan remdesivir untuk mengobati Ebola, sebenarnya telah memungkinkan empat perusahaan India (Cipla, Jubilant Life, Hetero Drugs dan Mylon) untuk memproduksinya di India. Namun, pada kenyataannya, hanya satu dari perusahaan, yaitu Hetero yang terbukti telah memproduksi remdesivir sejauh ini. Hetero telah mendistribusikan setidaknya 20 ribu dosis obat ke lima negara bagian India. Meski begitu, kepada BBC, Hetero mengaku tidak tahu bagaimana obat produksinya bisa 'bocor'.

"Kami belum memberikan obat kepada distributor kami. Sesuai pedoman, kami secara langsung memasok botol (remdesivir) ke rumah sakit."

"Kami memahami rasa sakit keluarga (pasien). Mereka seharusnya tidak disuruh pergi dan mencari obat. Kami yakin akan meningkatkan produksi kami dalam beberapa hari ke depan dan situasinya akan menjadi lebih baik," ungkap wakil presiden penjualan Hetero, Sandeep Shahstri.

Kemudian bagaimana obat ini bisa berakhir di pasar obat-obatan di Old Delhi?

Rajiv Singhal, sekretaris jenderal All India Chemists and Druggists Association menyangkal bahwa ada pemilik toko yang terlibat.

"Saya yakin tidak ada anggota kami yang terlibat dalam praktik seperti itu. Ini darurat kesehatan nasional dan saya ingin memberikan pesan yang jelas bahwa tindakan tegas akan diambil jika ada yang terbukti menjual obat-obatan yang menyelamatkan jiwa secara ilegal," ucap Singhal.

Namun, masalah tampaknya bukan hanya dengan remdesivir, tetapi juga obat 'penyelamat jiwa' lain, yaitu tocilizumab.

Tocilizumab, yang dijual dengan nama Actemra, juga telah menunjukkan hasil positif pada pasien kritis COVID-19 di seluruh dunia. Seperti remdesivir, obat yang awalnya dimaksudkan untuk pasien rheumatoid arthritis ini juga selalu terbatas.

Padahal, permintaan akan obat ini juga dilaporkan semakin melonjak di India selama beberapa minggu terakhir. Hal ini pun diungkap sendiri oleh perusahaan farmasi dan bioteknologi multinasional India, Cipla.

Namun, sama seperti isu remdesivir, BBC juga mempelajari beberapa kasus di mana rumah sakit meminta anggota keluarga pasien untuk menemukan obat itu sendiri.

"Saya pasti pergi ke 50 toko di Delhi. Mereka semua berjanji tetapi meminta dua kali atau tiga kali lipat harga setiap dosis. Butuh waktu dua hari untuk mendapatkan jumlah dosis yang diperlukan untuk bibi saya," ucap seorang warga Delhi, yang tidak ingin diidentifikasi namanya.

Menanggapi persoalan ini, perwakilan Cipla membantah bahwa tocilizumab dijual di pasar gelap.

"Kami melacak setiap dosis untuk memastikan tidak ada pencatutan. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi," terangnya. []

Editor: Dian Dwi Anisa

berita terkait

Image

News

Jadi Benua Terakhir yang Belum Tersentuh Corona, Antartika Jadi 'Harapan' Ilmuwan

Image

Ekonomi

Wabah Corona

Unilever Indonesia Gairahkan 150 Ribu UMKM Rentan Terdampak COVID-19

Image

Ekonomi

Mantap! Obligasi Berkelanjutan IV BTN Kelebihan Permintaan 1,8 Kali

Image

Ekonomi

Ekonomi RI Diramal Membaik hingga Hanya Minus 0,49 Persen di Akhir 2020

Image

News

Wabah Corona

102 Hari Bebas Transmisi Lokal COVID-19, Selandia Baru Kembali Dijangkiti Corona

Image

Ekonomi

Wabah Corona

Holding BUMN Penerbangan dan Pariwisata Mampu Pulihkan Perjalanan Wisata Terdampak COVID-19

Image

Olahraga

Liga 2 Indonesia 2020

LIB dan Klub Belum Final Soal Pemilihan Tuan Rumah

Image

Ekonomi

Wabah Corona

Vaksin COVID-19 Bakal Didaftarkan ke BPOM Usai Uji Klinis Fase III

Image

News

Wabah Corona

Klaim Ciptakan Vaksin Corona 'Pertama di Dunia', Vladimir Putin Jadikan Anak Sebagai Kelinci Percobaan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Pesan Tegas Kapolri kepada Kapolda: Kembalikan atau Kau Saya Pidanakan!

Kapolda diminta tidak korupsi.

Image
News

Kabar Penangkapan Jaksa Pinangki, Begini Penjelasan Kejagung

Resminya disampaikan Kapuspenkum pagi ini.

Image
News

Direncanakan, Senapan Air Soft Gun Sengaja Gunakan Peredam Agar Tak Terdengar

Polisi masih buru penjual senjatanya.

Image
News

Jaksa Pinangki Ditetapkan Tersangka Dugaan Gratifikasi

Bukti-bukti sudah cukup.

Image
News

Jadi Benua Terakhir yang Belum Tersentuh Corona, Antartika Jadi 'Harapan' Ilmuwan

Peneliti dunia berharap Antartika akan selamanya nol kasus COVID-19

Image
News

Lagi, Jaksa Nakal Diduga Bersekongkol dalam Kasus Djoko Tjandra Dilaporkan ke Komjak

Telpon Djoko Tjandra sebelum ditangkap polisi.

Image
News

Mahfud MD: Karena Demokrasi, Semua Orang Melakukan Korupsi Sendiri-sendiri

Sekarang dilakukan pejabat negara tamak.

Image
News

Cerita Rona, Dulu Dihamili kini Anak Gadisnya Dibawa Kabur Pria Paruh Baya

Keduanya dicari polisi.

Image
News

Kejagung Beberkan Alasan Cabut Aturan Periksa Jaksa Harus Izin Jaksa Agung

Munculkan disharmoni antar lembaga penegak hukum.

Image
News

Sambil Menangis, Saksi Nie Swe Hoa Minta Jaksa Kembalikan Uang Rp 20 Miliar

Uang yang disita tidak ada kaitan dengan kasus Jiwasraya.

terpopuler

  1. RSUP Fatmawati Diminta Tes Usap Tenaga Medisnya

  2. Seorang Dokter dan 19 Perawat di RSUP Fatmawati Diduga Positif Covid-19

  3. Isu Afgan Penyuka Sesama Jenis Mencuat Lagi, Kok Bisa?

  4. Jokowi Ajak Beli Produk Lokal, Rizal Ramli: ini Contoh Imbauan Ngasal!

  5. 5 Fakta Unik Ultah ke-33 Arema, ASN Wajib Beratribut Arema

  6. Tegang saat Akan Tes Swab, Ibu Ini Remas Bagian Intim Petugas Kesehatan

  7. BPJS Ketenagakerjaan Masih Kumpulkan Rekening Calon Penerima Subsidi Upah

  8. Selangkah Lagi Menuju Betis, Bravo Kembali ke La Liga?

  9. Ngarep Bantuan Rp600 Ribu dari Pemerintah, Begini Caranya!

  10. LIB dan Klub Belum Final Soal Pemilihan Tuan Rumah

fokus

Tokopedia Dorong Digitalisasi UMKM dan Inklusi Keuangan
UMKM Pahlawan Ekonomi
Strategi UMKM Berjaya di New Normal

kolom

Image
DR. ABDUL MUID N., MA

Menimbang Qiraa’ah Mubadalah untuk Kesetaraan Gender

Image
Achsanul Qosasi

Gerakan ABCD untuk Pemulihan Ekonomi

Image
UJANG KOMARUDIN

Demokrasi dalam Genggaman Oligarki

Image
Dr. Abd. Muid N., MA

Islam Yang Mewarna-Warni

Wawancara

Image
Video

VIDEO Menristek Bambang Brodjonegoro Buka Bukaan | Siapkan 250 Juta Vaksin Covid-19 Dalam Setahun

Image
News

Menristek Bambang Brodjonegoro Buka Bukaan Siapkan 250 Juta Vaksin, Bisa Digunakan Pertengahan 2021

Image
Ekonomi

Eksklusif Memulihkan Perekonomian Desa dengan Digitalisasi dan Menggerakkan Anak Muda

Sosok

Image
Iptek

Lebih Dekat dengan Addison Rae Easterling, Dancer TikTok Paling Tajir Sejagad

Image
News

Usaha tak Khianati Hasil, Kisah Fredy Napitupulu, Pengusaha Muda Sukses Pemilik Stanbrain

Image
Ekonomi

6 Fakta Menarik Sumber Kekayaan Jerinx SID, Bisnis Clothing hingga Brand Ambassador Berbagai Produk