image
Login / Sign Up
Image

ACHMAD FACHRUDIN

Ketua Prodi KPI Fakultas Dakwah Institut PTIQ.

Paradoks Keindonesiaan di Tengah Covid-19

Image

Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat dan PFI Jakarta menggelar kegiatan rapid test COVID-19 untuk para jurnalis di kawasan Jabodetabek di halaman gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Minggu (28/6/2020). Rapid test yang mendatangkan tenaga medis dari Relawan Indonesia Bersatu Lawan COVID-19 ini tidak hanya diikuti oleh jurnalis foto saja, melainkan seluruh wartawan dan juga masyarakat umum dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Bangsa Indonesia sesungguhnya berpengalaman menghadapi musibah besar. Sebegitu jauh, Pancasila, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap utuh. Kini Indonesia, dihadapkan tantangan pandemi COVID-19 yang demikian hebat. Merespon tantangan tersebut, terjadi paradoks dalam keindonesiaan bagaikan cermin retak. Paradoks ini harus diluruskan agar sepenuhnya lebih mengarah kepada positif. Muaranya kepada terwujudnya peradaban baru manusia Indonesia yang eksis di era new normal. 

Sejarah perjalanan bangsa menunjukkan, Indonesia mengalami beberapa kali ujian dahsyat yang mengoyak keindonesiaan, keutuhan NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Tiga episode besar perjalanan dramatis bangsa tersebut antara lain pertama, masa imperalisme dan kolonialisme yang dilakukan oleh Inggris, Portugis, Jepang dan terutama Belanda selama lebih kurang 350 tahun.

Kedua, kudeta berdarah oleh Gerakan 30 S PKI yang berhasil digagalkan. Yang kemudian melahirkan Superdemar dan lahirnya orde baru dengan Soeharto sebagai presiden yang berkuasa selama lebih kurang sekitar 32 tahun. Ketiga, lahirnya gerakan reformasi di penghujung tahun 1990. Yang diselingi dengan aksi kerusuhan yang memakan korban harta dan nyawa. Lalu berujung lengser ke prabonnya presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

baca juga:

Perbedaan dan Persamaan

Jika ditelisik lebih jauh, terjadi beberapa perbedaan antara situasi yang dialami oleh Indonesia dulu dan kini. Di masa penjajahan, karena ulah Belanda cs. Saat krisis politik 1965 karena kudeta berdarah PKI. Sedangkan terjadinya krisis multi dimensional pada 1998 hingga lengser ke prabon presiden Soeharto karena krisis ekonomi sekaligus krisis politik, serta gelombang aksi mahasiswa dan masyarakat lainnya yang menamakan diri pro reformasi.

Dalam kasus COVID-19 yang memporakporandakan dunia termasuk Indonesia karena ulah virus corona. Menurut situs WHO, virus corona adalah keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Virus ini termasuk penyakit menular dan baru ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019 yang kemudian menjadi wabah.

Pada musibah dahsyat saat ini skalanya global dan massif. Tidak mengenal kategorisasi negara miskin, berkembang atau maju. Tidak mengenal kewilayahan sebagai negara Eropa, Asia, atau Afrika. Tidak mengenal agama dari sisi basis agama: Islam, Kristen, Buda, atau Konghucu. Tidak mengenal dari sisi ras kuning langsat, putih atau hitam.

Persamaan lainnya ditunjukkan dengan jumlah pasien COVID-19 yang dialami lebih dari 50 negara di dunia. Ditilik dari laman World O Meters, per Sabtu, 27 Juni 2020 pasien virus corona di seluruh dunia telah mengakibatkan sebanyak 9.892.841 orang mengidap penyakit ini. Total kematian secara keseluruhan ada 495.794 orang namun 5.345.211 lainnya berhasil disembuhkan sehingga para pasien dapat kembali ke rumah masing-masing.

Negara yang memiliki total kasus COVID-19 tertinggi di tempati oleh Amerika Serikat (AS) berjumlah 2,5 juta lebih orang. Disusun kemudian Brazil, merupakan negara kedua setelah Amerika Serikat dengan kasus sebanyak 1,2 juta lebih orang. Lalu Rusia pada peringkat ketiga dengan 600 lebih kasus yang harus ditangani. Pada peringkat keempat ditempati oleh negara dari Asia, India dengan total kasus 500 ribu lebih pasien.

Secara ekonomi, keganasan pandemi COVID-19 telah menyebabkan roda perekonomian global mengalami disrupsi luar biasa dahsyatnya. Kerugian ekonomi akibat pandemi virus corona (COVID-19) ditaksir mencapai Rp 131,12 kuadriliun secara global. Atau mencapai lebih dari 100.000 triliun rupiah.

Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi, pertumbuhan ekonomi dunia yang diukur dalam GDP (gross domestic product) akan minus 3 % pada tahun 2020. Pertumbuhan ekonomi di negara maju bahkan diprediksi menjadi minus 6,1%. Pertumbuhan minus tersebut diperkirakan berlanjut sampai tahun 2021, apabila pandemi COVID-19 terus berlangsung sampai akhir tahun 2020.

Indonesia dan COVID-19

Dalam kasus COVID-19, Indonesia berada di peringkat 31 dunia dengan 40.400 kasus positif. Dalam sehari pernah terjadi kasus baru bertambah diatas angka seribuan. Untuk jumlah meninggal dunia tercatat sudah lebih dari duaribuan orang. Di wilayah Asia Tenggara, Indonesia termasuk tinggi untuk ukuran jumlah kasus. Tapi, masih kalah dari Singapura yang punya 40-an kasus positif. Namun, Singapura sejauh ini melaporkan sementara hanya 26 kematian.

Dari sisi ekonomi, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memprediksi, kerugian negara yang disebabkan pandemi Virus Corona atau COVID-19 bisa mencapai Rp 320 triliun. Angka tersebut didapat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I yang hanya tumbuh 2,97 persen. Potensi kerugian negara pun akan semakin buruk, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia terus turun.

Dampak buruk lainnya sudah dapat dipastikan kepada meningkatnya angka pengangguran. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada 2020 mencapai 8,1% hingga 9,2% dan angka pengangguran diperkirakan naik 4 hingga 5,5 juta orang. Lebih lanjut, pada 2021, TPT diperkirakan mencapai kisaran 7,7% hingga 9,1%.

Jumlah pengangguran juga diprediksi meningkat antara 10,7 juta sampai 12,7 juta orang. Angka tersebut naik dibandingkan jumlah pengangguran pada Februari tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2020 sebesar 4,99 persen dengan jumlah pengangguran sebanyak 6,88 juta orang. Setali tiga uang, pandemi COVID-19 akan mengakibatkan kemiskinan di Indonesia diprediksi naik sebesar 12 persen.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyebut kemungkinan jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 10 hingga 12 persen. Adapun data Badan Pusat Statistik pada September 2019 menunjukkan, jumlah penduduk miskin mencapai 24,97 juta orang atau 9,22 persen. Artinya, diperkirakan akan ada kenaikan 1 sampai 3 persen. Menurut para ahli dampak kemiskinan menimbulkan patalogi sosial dan berbagai gangguan (disorder) buruk pada mentalitas dan prilaku masyarakat.

Cermin Retak

Potret Indonesia di tengah COVID-19 ibarat cermin retak. Positifnya, sebagaimana diungkapkan mantan rektor UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta Dede Rosada, masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jakarta makin bersatu dan sadar bahwa kebhinnekaan sebagai kenyataan dan Pancasila sebagai wadah persatuan dan kesatuan. Contoh konkritnya menyeruaknya gotong royong dan saling membantu tanpa mengenal golongan mayoritas dan minoritas serta suku, agama, aliran politik dan sebagainya.

Sayangnya sikap dan semangat positif tersebut dicedrai oleh sikap negatif dari segelintir orang atau kelompok yang seperti mengambil keuntungan pribadi di tengah penderitaan orang banyak. Misalnya, menimbun dan menjual sejumlah komoditas pangan primer dan peralatan kesehatan (masker, hand sainitizer, pelindung mata) dengan harga mencekek leher. Serta meningkatnya prilaku kriminalitas hingga 10-12 persen di wilayah Jadetabek.

Kasus lain yang bisa dikategorikan tidak atau kurang mencerminkan sense of cirisis dan sense of humanities di tengah COVID-19 adalah terjadinya ketidaktepatan penyaluran bansos di sejumlah daerah di Indonesia, kebijakan tumpang tindih dalam penanganan COVID-19, kurang terkoordinasinya antara pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan COVID-19, conflict of interest dan potensi korupsi dalam penggunaan anggaran APBN/APBD untuk mengatasi pandemi COVID-19, dan sebagainya.

Di bidang hukum, yang dianggap tidak selaras dengan semangat keindonesiaan adalah diajukannya pembahasan Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Negara (HIP) oleh DPR. Secara praktis, bidang hukum banyak mengalami sorotan tajam karena banyaknya contoh konkrit penerapan hukum secara tebang pilih yang sangat menyinggung rasa keadilan di kalangan masyarakat luas.

Di bidang politik, keputusan pemerintah dan DPR menggelar Pilkada Serentak pada 9 Desember 2020 dan bukan malah menundanya hingga COVID-19 benar-benar reda. Setidak hingga 2021 dianggap keputusan yang lebih mendahulukan kepentingan ekonomi daripada kesehatan manusia. Banyak kalangan kuatir, pelaksanaan Pilkada menjadi sumber potensial dalam menaikkan jumlah orang terpapar COVID-19.

Berbagai informasi di bidang ekonomi seperti menambah hutang luar negeri, pencetakan uang hingga Rp 600 triliun, mengundang masuk tenaga kerja asing dari Cina dan lain-lain. Tindakan atau langkah tersebut—jika benar dan diwujudkan—dianggap sebagian kalangan justeru makin membuat cermin retak Indonesia di tengah pagebluk COVID-19.

Peradaban Baru

Dengan tidak mengesampingkan berbagai dinamika dan problem sosial, politik dan ekonomi terkait penanganan COVID-19, semangat dan sikap solidaritas, empati, gotong royong, pengorbanan, persatuan, kesatuan dan lain sebagainya sebagai aktualisasi nilai-nilai Pancasila di tengah Covid ini harus terus didipertahankan, gelorakan dan ditingkatkan, baik dari aspek kuantitas maupun kualitasnya. Pada saat yang sama, semangat dan prilaku yang mencedrai nilai-nilai Pancasila harus disingkirkan.

Untuk mengatasi paradoks keindonesia kita di tengah COVID-19 semua anak bangsa harus makin disiplin menegakkan protokol kesehatan COVID-19. Minimal menjaga jarak dan menggunakan masket atau hand sanitiser. Jika dalam posisinya sebagai decisioin maker, policy maker dan executive maker terkait dengan penanganan COVID-19, harus dilakukan dengan amanah, profesional, transparan, dan akuntabel serta menjauhi conflict of interest. Terlebih terlibat dalam praktik KKN.

Dalam skala yang lebih besar, keindonesiaan yang diharapkan paska di new normal adalah terwujudnya peradaban baru (new civilization). Menurut Samuel P. Huntington peradaban adalah suatu identitas terluas dari budaya, yang terindentifikasi bersama dalam unsur-unsur obyektif seperti bahasa, agama, sejarah, institusi, kebiasaan maupun melalui identifikasi diri yang subyektif. Sedangkan pengertian baru adalah bukan lama.

Pemerintah menyebut peradaban baru dengan istilah new normal yang dimaknai tatanan baru untuk beradaptasi dengan COVID-19. Secara praksis, new normal menurut Juru Bicara Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, masyarakat harus menjaga produktivitas di tengah pandemi virus corona COVID-19 dengan tatanan baru. Tatanan baru ini perlu ada sebab hingga kini belum ditemukan vaksin definitif dengan standar internasional untuk pengobatan virus corona. Para ahli masih bekerja keras untuk mengembangkan dan menemukan vaksin agar bisa segera digunakan untuk pengendalian pandemi COVID-19.

Meminjam pandangan wartawan senior Primus Dorimulu, karakteristik peradaban baru di era COVID-19 yang harus dtumbuhkembangkan sebagai berikut: a. Disiplin, b. Memelihara kualitas kesehatan, c. Mewujudkan quality time bersama keluarga, e. Melek virtual, f. Lebih efisien atau berhemat, g. Menempa rasa kemanusiaan dan semangat kegotongroyongan kita, dan h. Membersihkan bumi dari emisi karbon yang polutif.

Dalam peradaban lama sebenarnya nilai-nilai tersebut sudah ada bahkan sebagiannya sudah menjadi salah inti dari ajaran agama, dengan sebagiannya sudah lama dikenal dalam tradisi dan budaya bangsa masa lampau. Hanya saja di era COVID-19 ini, nilai-nilai positif tersebut harus lebih direvitalisasi dan reaktualisasi. Yang terpenting dilaksanakan secara nyata, konsisten, sungguh-sungguh dan bertanggungjawab. Persoalan akutnya justeru konkritisasi dan konsistensi itu yang paling lemah pada keindonesiaan kita sampai saat ini. [] 

Editor: Melly Kartika Adelia

berita terkait

Image

News

Pilkada 2020

Pilkada 2020 Disebut Bakal Jadi Sejarah Baru Pemilu Indonesia

Image

Gaya Hidup

Sebelum Nikah, Pacaran Harus Minimal 1 Tahun

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Yeay! Gunung Rinjani Sudah Buka Lagi

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Suami dan Istri, Sudahkah Punya Rencana Usai Pandemi?

Image

Iptek

Wabah Corona

Dibayangi Pandemi, Debut Ford Bronco dan GMC Hummer EV Masih Abu-abu

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

9 Provinsi Punya Kasus Sembuh dari Corona di Atas 80 Persen

Image

Gaya Hidup

Zoya Amirin Punya Tips Seks Aman Saat New Normal

Image

News

Wabah Corona

BPKH Sebut Pendaftar Haji Turun 50 Persen karena Corona

Image

Ekonomi

Mompreneur Penopang Ekonomi Keluarga Saat Pandemi

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Pilkada 2020

Pilkada 2020 Disebut Bakal Jadi Sejarah Baru Pemilu Indonesia

“Hari ini kita tidak hanya membuat sejarah secara teknis pelaksanaannya, tetapi juga regulasinya, kemudian model pelaksanaannya, kulturnya”

Image
News

Wamenag Harap Bayt Al-Qur'an TMII Bisa Jadi Sarana Rekreasi dan Edukasi

"Jika perlu dilakukan modernisasi sehingga lebih menarik minat masyarakat untuk mengunjunginya"

Image
News
Wabah Corona

BPKH Sebut Pendaftar Haji Turun 50 Persen karena Corona

"Dampak Covid-19 ini memberikan tantangan yang cukup berat bagi keuangan haji"

Image
News

Anas Nashikin: Debat Vs Erick Thohir Gak Level

Salah satu yang memandangnya tidak perlu adalah mantan Wakil Direktur Saksi TKN Jokowi - Ma’ruf Amin Anas Nasikhin

Image
News

Haji 2020 Dibatalkan, BPKH Usul Ada Kebijakan Nilai Manfaat Bagi Jemaah

"Kalau dalam hal terkait dengan penggunaan nilai manfaat, BPKH mengantisipasi kebutuhan BPIH tahun-tahun berikutnya"

Image
News
Wabah Corona

Kasus COVID-19 DIY Tambah 8, Mayoritas Pernah Kontak Pasien Positif Terdahulu

Kasus COVID-19 di DIY bertambah delapan kasus, Senin (6/7/2020). Mayoritas pasien diketahui sempat melalukan kontak dengan pasien terdahulu

Image
News

MAKI Bakal Laporkan Kasus Kepemilikan e-KTP Djoko Tjandra ke Ombudsman

"Berdasarkan pasal 23 Ayat (8) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, kewarganegaraan hilang apabila memiliki paspor negara lain"

Image
News

MAKI Geram Djoko Tjandra Bikin e-KTP Super Kilat

Djoko Tjandra berstatus buronan.

Image
News

Danrem Kendari: Saya Akan Tindak Tegas Bagi yang Berani Berbuat Macam-macam

Brigjen Jannie menegaskan bahwa untuk merekrut calon prajurit TNI AD yang profesional dan unggul harus melalui proses yang transparan.

Image
News

Kejaksaan Pastikan Tangkap Djoko Tjandra sebelum Sidang PK

Semoga dia datang.

terpopuler

  1. Soal Kalung Antivirus, Ferdinand: Astaga! Pak Menteri, Tolong Jangan Bikin Alasan untuk Meresuffle Dirimu

  2. Wartawan CNN TV Dilarang Masuk ke Lapangan Ahmad Yani Oleh Laskar FPI

  3. Ferdinand Janjikan Pulsa 25 Ribu ke Musni Umar Jika Bisa Buktikan Reklamasi Ancol untuk Kepentingan Warga

  4. Viral, Anak Kos Rombak Kamarnya Jadi Makin Nyaman dan Canggih

  5. Kasus Sarang Burung Walet, Gus Sholeh: Bersalah Atau Tidak Baiknya Novel Buktikan di Pengadilan

  6. Masuk Bursa Calon Menteri, Pengamat: Sosok seperti Ahok Dibutuhkan Jokowi

  7. Musni Umar Dukung Gerindra Kawal Laporan Terhadap Denny Siregar ke Polisi

  8. Gubernur Bank Sentral Pakistan Sebut Lockdown COVID-19 Hanya Untungkan Orang-orang Kaya

  9. Kekuatan Sani-Nurdin Solid Dukung Isdianto di Pilkada Kepri

  10. Bom Rakitan Meledak di Menteng, Polisi Olah TKP

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Renasionalisasi BUMN

Image
Muhtar S. Syihabuddin

Kami Cinta Polisi Sekaligus NKRI

Image
UJANG KOMARUDIN

Marah-marah dan Ancaman Reshuffle

Image
Riyanda Barmawi

Lobster Edhy Dalam Bayang-Bayang Susi

Wawancara

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Image
News

Interview Mardani Ali Sera: Tidak Urgen, Stop dan Batalkan RUU HIP!

Sosok

Image
Gaya Hidup

Mengenal Herni Ekamawati, Pecinta Kopi yang Jadi Ratu EO

Image
News

Terseret Kasus Bank Bali hingga Jadi Buronan, 5 Fakta Penting Djoko Tjandra

Image
News

Terjun ke Dunia Bisnis, 7 Potret Terkini Putra BTP Nicholas Sean Purnama