image
Login / Sign Up
Image

Husamah

Dosen di Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Mari Bicara Next Normal, Bukan Lagi New Normal

Image

Ilustrasi kehidupan new normal | Houston Methodist

AKURAT.CO, Topik New Normal atau kenormalan baru hingga kini masih ramai diperbincangkan. Berbagai pro-kontra hadir di ruang dengar dan pandang kita. Media sosial gaduh, koran ramai mengangkat tema, dan perbincangan tatap muka juga tidak lepas dari pembahasan ini. Sementara itu, pemerintah mulai mengambil kebijakan. Beberapa panduan sudah dikeluarkan, daerah percontohan sudah dimunculkan.

Bukan khalayak Indonesia namanya kalau tidak gaduh menyikapi hal-hal baru. Walau nyatanya, praktik kesehariannya justru menggambarkan sebaliknya. Nyatanya, diakui atau tidak, sejak COVID-19 dilaporkan ada di Indonesia, masyarakat memasuki New Normal. Praktik penggunaan masker, hand sanitizer, mencuci tangan, social and physical distancing dipraktikkan. Larangan bepergian dituruti. Penghentian kegiatan belajar di dasar, menengah, hingga Perguruan Tinggi diikuti.

Pertanyaanya, apakah semua masyarakat patuh? Tentu jawabannya tidak. Tapi, mengatakan semuanya tidak, tentu juga tidak bijak. Meskipun tidak ada penelitian yang khusus mengkaji ketaatan masyarakat Indonesia, tetapi beberapa kolumnis mencoba mencari angka yang pas. Ada yang menuliskan angka 60-75%. Memang belum maksimal, tetapi bukan pula angka yang jelek.

baca juga:

Jadi, pada dasarnya masyarakat kita sedang mempraktikkan New Normal. Atau bahkan  bisa saja dikatakan bahwa manakala saat ini kita bicara New Normal, maka sebenarnya “tidak new-new amat”. Mungkin saja yang masih ramai memperdebatkan New Normal kini diposisi “tidak normal-normal amat”. Tapi ini pikiran liar saya saja.

Terus bagaimana? Justru yang layak kita pikirkan sekarang adalah bagaimana menghadapi next normal, kenormalan selanjutnya itu.  Bagaimana kita bersiap menghadapi kondisi bila pandemi ini berakhir, atau setidaknya pada titik relatif aman? Mengingat dimensinya yang sangat luas, saya hanya akan mencoba mengulas dari dimensi pendidikan, itupun hanya di level Perguruan Tinggi. Pun bisa jadi ulasan ini terasa sangat dangkal, sangat kurang. Tak apalah, dari titik ini diskusi-diskusi selanjutnya akan terbuka lebar.

Next Normal dan Perguruan Tinggi

Salah satu yang aktif mengangkat topik next normal adalah McKinsey & Company, salah satu firma konsultan bisnis terkenal asal negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Berbagai pembahasan yang dilakukan dapat dilihat di website mereka, https://www.mckinsey.com/featured-insights/the-next-normal. Apa itu next normal? Next normal dapat dikatakan sebagai kondisi dimana berbagai aktivitas kembali seperti semula setelah terjadinya krisis, namun dengan perubahan-perubahan perilaku (atau bahkan budaya) yang dibawa ketika menjalani krisis (New Normal). Perilaku adaptif yang dilakukan ketika menghadapi krisis, menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu bersifat baru  yang jarang atau bahkan tidak dilakukan sama sekali sebelum terjadinya krisis.

Terkait dengan itu, semua pasti mengakui bahwa Perguruan Tinggi adalah barometer, ukuran kecerdasan, dan sumber pencerahan. Perguruan Tinggi yang saya maksud adalah menyeluruh, semua komponen, semua sistem yang berjalan di dalamnya, dan tentu saja garda terdepannya, yaitu para dosen. Artinya, Perguruan Tinggi seharusnya menjadi bagian terdepan dalam memberi contoh penyiapan next normal. Perguruan Tinggi harus siap dan dengan gagah berani menghadapi next normal. Berarti Perguruan Tinggi tidak boleh gelagapan, terbata-bata, mengumpat keadaan dengan seribu alasan pembenaran, dan lalu pelan-pelan tumbang. Perguruan Tinggi harus menjadi terdepan dalam “Become future-ready”. Antisipatif terhadap tren masa depan.

Bolehlah kita kaget di awal. Sebuah respon manusiawi menghadapi kondisi yang baru, jauh di luar prediksi awal. Lambat laun, dosen yang awalnya masih gagap akan teknologi-seperti halnya saya-menjadi lebih peka terhadap teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Selain itu, perilaku mahasiswa dan orang tuanya (sebagai konsumen) juga cenderung berubah. Aktivitas teaching and learning from home menjadi keniscayaan. Apakah pasca-pandemi akan kembali ke 100% tatap muka langsung (face to face) di kelas? Bila itu terjadi, maka kita sedang berjalan mundur.

Lalu, apakah sepenuhnya online atau daring? Tentu itu juga tidak baik. Bukankah kegiatan tatap muka (face to face) tetap harus dilakukan? Bukankah pertemuan fisik itu sangat perlu karena itu melibatkan rasa dan emosi? Ya, ini benar. Oleh karena itu, sudah semestinya kita menyiapkan scenario yang mampu mengakomodasi kemajuan teknologi, namun tetap mempertahankan kearifan sistem tradisional-konvensional yang sudah ada selama ini.

Maka, bisa jadi-menurut saya- menyiapkan skenario “bauran” adalah yang paling bijak sekarang. Inilah yang kita kenal dengan blended atau hybrid learning. Ide ini bukan hal yang baru. Ada ribuan artikel yang dihasilkan para cendekia, dari berbagai perspektif dan latar keilmuan, yang bertebaran secara open access di internet. Jadi, sebenarnya tinggal membaca saja. Tahun 2012 saya juga menulis buku tentang “Pembelajaran Bauran: Blended Learning”, yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Raya, Jakarta. Cukup banyak yang menjadikan buku ini sebagai referensi, meski saya sebenarnya malu karena uraiannya sederhana dan hanya sekedar menyarikan dari berbagai referensi yang saya baca pada saat itu. Sekedar mengisi kelangkaan buku tentang topik tersebut.

Contoh Riil Antisipasi Next Normal

Mungkin saja berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia telah menyiapkan antisipasi next normal. Namun, pada satu sisi sebagian juga lebih senang kembali ke kondisi awal seperti sebelum terjadi pandemi, dengan pintu masuknya adalah New Normal di kampus. Prediksi saya itu bukan sekedar katanya, melainkan berdasarkan kondisi riil. Lihat saja apa komentar seorang dosen di grup dosen skala nasional yang saya ikuti. Ia mengatakan: “Untuk LLDIKTI Wilayah I, sudah New Normal. Jadi gak online lagi.”

Lalu sebaiknya seperti apa? Bijaknya saya memberi contoh bagaimana institusi tempat saya mengabdi, Universitas Muhammadiyah Malang dalam menyiapkan next normal. Meskipun harus saya katakan bahwa ini hanyalah informasi yang tidak mendalam.

Universitas Muhammadiyah Malang telah membentuk tim khusus dalam penyiapan sistem pembelajaran berbasis Blended Learning, untuk dapat diterapkan secara menyeluruh di semua fakultas dan program studi. Sejatinya, kampus ini telah memiliki perangkat pembelajaran daring yang disiapkan bahkan sejak beberapa tahun lalu. Ada learning management system yang disiapkan, terintegrasi dengan administrsi akademik. Namun demikian, tim dibentuk untuk semakin memastikan bahwa sistem ini dapat berjalan dengan maksimal, meminimalkan kendala dan menjadi jaminan kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa baru tahun 2020 yang semakin hari jumlahnya terus meningkat pesat.

Apakah hanya itu? Tentu saja tidak. Saya bahkan mendengar dari tim bahwa Rektor UMM secara khusus telah mengatakan, “Kita sedang menyiapkan pelayanan yang sangat pro-mahasiswa dan orang tua. Bentuknya apa? Perkuliahan tidak harus sepenuhnya di kampus, tetapi tidak pula sepenuhnya tidak di kampus. Artinya, sampai lulus, 50% di Malang, 50% di rumah, tempat-tempat magang, atau tempat dimana kompetensi mereka semakin diperkaya. Tentu kebijakan ini akan sangat membantu meringankan beban biaya yang dikeluarkan oleh orang tua, karena tidak harus mengeluarkan biaya hidup untuk anaknya selama 4 tahun”. Inilah yang mungkin blended learning secara makro, level universitas, tidak hanya sekedar level pembelajaran mata kuliah. Sebuah ide jenius yang saya yakin akan disambut bahagia oleh para orang tua dan mahasiswa.

Di level lebih rendah, saya dapat mencontohkan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP-UMM). Dekan secara khusus telah pula menugaskan tim khusus, mengamanahkan setiap program studi untuk menyiapkan blended learning secara profesional. Setiap program studi harus benar-benar menyiapkan skenario dan konten yang berkualitas, yang dapat dipelajari oleh mahasiswa secara daring, offline, mobile, maupun bila saat kondisi memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka di kampus. Dalam hal ini, kesiapan FKIP-UMM tidak perlu diragukan publik, terlebih para orang tua. Ditetapkannya FKIP-UMM sebagai salah satu penyelenggara PPG (dan hanya sedikit Perguruan Tinggi yang dipercaya pemerintah), bahkan diapresiasi sebagai salah satu penyelenggara terbaik adalah jaminan nyata.

Akhirnya, ini hanyalah salah satu contoh untuk menginspirasi. Kita tentu berharap semua Perguruan Tinggi berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, diawali dengan antisipasi next normal. Semoga saja. Wallaahua’lam bisshowab.

 

Editor: Dian Rosmala

berita terkait

Image

News

Kebutuhan Meningkat di Masa Pandemi, PP AMPG Gandeng PMI DKI Gelar Donor Darah

Image

Olahraga

Palermo Ladies Terbuka 2020

Kompetisi Kembali Bergulir, Simona Halep Awali Kejuaraan dari Palermo

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Kasus Positif COVID-19 Masih Bertambah, Pasien Sembuh Hari ini 1.190 Orang

Image

News

Wabah Corona

FOTO Tempat Penjualan Hewan Kurban Terapkan Protokol Kesehatan COVID-19

Image

News

Wabah Corona

FOTO Penerapan Protokol Kesehatan dalam Pameran Seni Rupa

Image

News

Viral, Jenazah Pasien COVID-19 di India Dibuang Menggunakan Alat Berat

Image

Olahraga

BWF World Tour Finals

China Batalkan Event Olahraga Internasional, BWF Pertanyakan Nasib World Tour Finals

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Transisi Bisnis Era New Normal, Broadway Group Ajak Pengusaha Milenial Tuk Majukan Ekonomi Digital

Image

Ekonomi

3 Zodiak Ini Punya Karier 'Topcer' Loh Saat New Normal

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

HNW Minta Pemerintah Laksanakan UU Pesantren Tanggulangi Dampak Covid-19

UU Pesantren dibuat dan diundangkan tentunya agar bisa bermanfaat untuk membantu Pesantren.

Image
News

Disambangi Sandi Uno, Warga Depok Keluhkan Ekonomi Menurun di Masa Pandemi

Sejak awal saya selalu memberikan masukan ini kepada pemerintah bahwa cash is king.

Image
News

Pemerintah Diminta Intens Informasikan soal Hak TKI

Pemerintah punya PR besar di bagian informasi

Image
News

Dua Kurir Bawa 18 Paket Sabu dari Aceh Diringkus Polisi di Tangsel

Sabu tersebut didapatkan dari jaringan Aceh, dan akan diedarkan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

Image
News

Ikhtiar HIMPSI Malang Bersama Kampung Tangguh Baba’an Putus Mata Rantai Covid-19

Bupati Malang Sanusi yang sedang melakukan kunjungan kerja di Karangploso, menyempatkan diri bergabung dalam acara Psikoedukasi Online.

Image
News

Kebutuhan Meningkat di Masa Pandemi, PP AMPG Gandeng PMI DKI Gelar Donor Darah

Kegiatan tersebut dilaksanakan mengingat ketersediaan darah di Indonesia, terutama di tengah situasi pandemi Covid-19 sedang menipis.

Image
News

Anies Berencana Bangun Museum Sejarah Nabi Terbesar Setelah Saudi di atas Lahan Reklamasi Ancol

InsyaAllah ini akan menjadi magnet bagi wisatawan, bukan hanya Indonesia, tapi seluruh dunia.

Image
News

Aksi Bakar Lilin di Depan Kejaksaan Agung RI Ungkit Kasus Sarang Burung Walet

Ada empat orang dalam aksi bakar lilin yang mengaku korban karena dituduh mencuri sarang burung walet.

Image
News

Polisi Kesulitan Identifikasi Ratusan Anak Korban Kakek Mesum Asal Perancis Lewat Video

Kendala yang kita hadapi adalah korbannya anak-anak di bawah umur yang tidak memiliki KTP-e.

Image
News

TNI dan Rakyat Disebut Tak Mau Kalah dari Bupati Kolaka

"Kunjungan Bupati Kolaka serasa berbeda dengan langsung turun memegang skop berbaur bersama masyarakat dan prajurit TMMD“

terpopuler

  1. PDIP Dukung Keponakan Prabowo Maju Pilwalkot Tangsel, Ini Sikap Gerindra

  2. Ingin Nikah di GBK, Aurel Hermansyah Pusing Pikirkan Keluarga Atta Halilintar Masih di Luar Negeri

  3. Ungkap Tewasnya Editor Metro TV, Polisi Periksa Obrolan Terakhir di HP Prabowo

  4. Bapemperda DKI Ungkap Anies Kerap Ganti Istilah yang Berbeda dengan Gubernur Pendahulunya

  5. Pesan Menohok KIARA ke Anies: Isu Agama dan Lingkungan Jangan Dimodifikasi

  6. Bank Dunia Naikkan Status RI, Faisal Basri: Kemungkinan Besar Akan Turun Lagi Tahun Ini

  7. Denny Siregar Ngaku Empati ke Orangtua Penyebar Data Pribadinya, Tetap Fokus Gugat Telkomsel

  8. Gus Sahal: Jadilah Pendukung Jokowi yang Kritis dengan Sikap Objektif

  9. Wacana Bangun Museum Nabi, Trubus: Hanya Rayuan Gombal Anies Supaya Masyarakat Setuju Reklamasi

  10. Rekor Baru, Lonjakan Kasus Covid-19 Jakarta Capai 359

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Egy Massadiah

Petuah Bangkit dari 'Sunrise of Java'

Image
Dr. Tantan Hermansah

Memaknai Demam Sepeda di Musim Pandemi

Image
UJANG KOMARUDIN

Melestarikan Pancasila

Image
Achsanul Qosasi

Renasionalisasi BUMN

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Restrukturisasi, Babak Baru Pertamina Melangkah ke Kancah Dunia

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Sosok

Image
News

Bak Pasangan Muda, 6 Momen Kebersamaan Menag Fachrul Razi dan Istri

Image
News

Penampilan Terbarunya Bikin Pangling, Ini 5 Potret Transformasi Menlu Retno Marsudi

Image
Ekonomi

Perjalanan Karier Rieke Diah Pitaloka, dari Si Oneng hingga Wakil Rakyat 16 Tahun