image
Login / Sign Up
Image

Dr. Abd. Muid N., MA.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta/Peneliti The Nusa Institute, Jakarta

Kota di Masa Pandemi

Image

Suasana Kota Jakarta | AKURAT.CO/Miftahul Munir

AKURAT.CO, Kitalah yang membangun kota dan kita pula yang mengutuknya. Kita yang menikmati gemerlap kota dan kita pula yang tersedu karena kekejamannya. Ketika sebuah wabah merebak, maka dia pertama kali akan mencari lalu menyerang kota-kota di mana nafas saling bertukar, suara saling sahut-menyahut, dan jejak kaki bertumpuk-tumpuk. 

Kota sesungguhnya adalah artefak kesediaan hidup menetap di sebuah tempat dan berikrar bersama dalam suka dan duka. Kesediaan itu dengan sendirinya membutuhkan sistem yang menyediakan kesempatan untuk semua warga bisa berkembang sesuai kapasitasnya masing-masing. Meski mulanya kecil, kesempatan tersebut melahirkan kesejahteraan dan juga ledakan penduduk; dua hal yang saling membutuhkan. Ledakan penduduk menciptakan lapangan kerja dan lapangan kerja membutuhkan penduduk. Lalu lahirlah birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh.

Birokrat dan penjaga keamanan diongkosi oleh para pedagang dan buruh. Sebagai balasannya, para birokrat dan panjaga kemanan memelihara sistem dan menegakkan hukum serta ketertiban. Rasa takut terhadap kaos yang membuat perdagangan mandek mengkhawatirkan para pedagang dan juga menakutkan para buruh jika membuat mereka tidak bisa lagi bekerja. Begitulah sistem bekerja sebagaimana adanya.

baca juga:

Namun sebuah sistem tidaklah cukup karena hanya mampu menanggulangi risiko yang terukur. Bagaimana dengan risiko yang tidak kedatangannya berada di luar perhitungan? Misalnya, bencana alam, wabah penyakit, dan kematian itu sendiri. Di sinilah fungsi agama menjadi sangat penting.

Di masa lalu, ribuan tahun sebelum tahun Masehi, agama menjadi penjaga sistem dan memberikan legitimasi bagi sistem dan para pelaku dalam sistem. Agama pada waktu itu memahami bahwa sistem yang membuat kota berjalan sebagaimana adanya adalah sistem tiruan dari sistem kosmik. Keteraturan kota dengan sistemnya hanyalah tiruan dari keteraturan sistem kosmik yang menjaga keteraturan alam semesta. Demikian pula, para pelaku dalam sistem—birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh—juga adalah tiruan dari para dewa yang juga merupakan pelaku pada sistem kosmik. Karenanya, tindakan birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh yang bekerjasama menjaga sistem di dunia agar berjalan lancar adalah meniru tindakan para dewa.

Salah satu kisah yang diyakini oleh penganut agama pada waktu itu adalah bahwa jauh sebelum manusia ada, konon, para dewa telah tinggal di kota-kota, menanam makanan sendiri dan mengelola sistem irigasi. Setelah peristiwa Banjir Besar, para dewa menarik diri dari bumi dan naik ke langit lalu manusia lah yang menggantikan peran para dewa. Keyakinan ini seperti masih tidak asing bagi kita hingga sekarang.

Karena sebagai pengganti peran para dewa, semua tindakan manusiawi para birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh, menjadi begitu bermakna (dalam bahasa agama saat ini: berpahala).

Kini, kala pandemi datang bertandang, bagaimana kota menyikapinya? Bisakah warga kota memandangnya sebagaimana warga kota ribuah tahun sebelum Masehi memandangnya? Bisakah warga kota memandang setiap tindakan para birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh dalam menyikapi pandemi adalah semata-mata bentuk tiruan dari tindakan para dewa dan karena itu adalah tindakan sakral dan karena itu pula harus dihormati? Bolehlah berandai-andai jika warga kota memandang seperti itu, barangkali pandemi ini bisa ditanggulangi. Tapi itu hanya andai-andai. Bukan hanya andai-andai tentang pandangan warga kota, tetapi juga andai-andai tentang berlalunya pandemi.

Kenyatannya, warga kota kini mempunya pandangan religius berbeda. Ada kemungkinan masing-masing warga menganggap tindakannya adalah tindakan religius. Persoalannya, mereka tidak menganggap tindakan warga lain juga sebagai hal yang religius. Dengan kata lain, berbeda dengan warga kota ribuan tahun sebelum Masehi, warga kota kini tidak menganggap tindakan mereka adalah bagian dari sebuah sistem yang satu. Tidak ada lagi keyakinan bahwa tindakan para birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh adalah tiruan gerak kosmis.

Mengingat religiusitas tidak lagi mampu menyakinkan warga kota kini untuk bergerak bersama untuk melawan ancaman bersama berupa pandemi, apa lagi yang tersisa untuk bergerak bersama? Masihkah ada kemungkinan bergerak bersama tanpa landasan keyakinan religius? Jika ada, bukankah itu nantinya menjadi sasaran empuk para pejuang religiusitas yang menganggap sistem tersebut adalah sistem buatan manusia dan karena itu pasti kalah dan karena sebuah sistem haruslah buatan Tuhan bukan buatan manusia?

Kitalah yang membangun kota dan kita pula yang mengutuknya. Kita yang menikmati gemerlap kota dan kita pula yang tersedu karena kekejamannya.[]

Editor: Dian Rosmala

berita terkait

Image

Ekonomi

Menperin Sebut Berkat Normal Baru, PMI Manufaktur RI Naik

Image

Ekonomi

Rupiah Masih Berpotensi Tertekan, Mampukah Bertahan?

Image

Gaya Hidup

Murah Meriah, Ini Resep Pepes Telur Asin Untuk Lauk Makan Siang

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Sambut New Normal, Ciptakan Wajah Sehat Bercahaya dengan Ramuan Yogurt dan Pepaya

Image

Olahraga

Diego Simeone

El Cholo, Pelatih Paling Sukses yang Pernah Menukangi Atletico

Image

News

40 Tahun Bersahabat, 7 Potret Kedekatan Retno Marsudi dan Sri Mulyani

Image

Olahraga

Luka Romero

Luka Romero, Pemain Termuda La Liga dan Suksesor Messi di Timnas Argentina

Image

News

Kejagung Periksa Komisaris PT CSI Terkait Korupsi Pemberian dan Penggunaan Fasilitas Kredit Bank Mandiri

Image

Hiburan

Rebahan Mirip Pocong hingga Sang Anak Kaget, yang Dilakukan Emak-emak Ini Tak Terduga

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Media Asing Soroti Protes TKA China di Sulawesi, Sebut Bakal Picu Terorisme

Keputusan pemerintah Indonesia untuk mendatangkan TKA China ke Sulawesi Tenggara memang telah menyedot berbagai kritik hingga protes

Image
News

Relawan: Dulu Kami Mendukung Anies Karena Komitmen Menolak Reklamasi

Harapan kami, semoga Pak Anies Baswedan dapat segera membatalkan rencana Reklamasi di Ancol.

Image
News

Usulan Pencabutan RUU PKS, Sigit Widodo: Betapa Malangnya Bangsa Ini

Data korban kekerasan seksual terus meningkat.

Image
News
DPR RI

Baleg DPR Bersama Menkum HAM Rapat Bahas Evaluasi Prolegnas Prioritas 2020

UU harus mengutamakan kepentingan rakyat bukan elite.

Image
News

RUU Cipta Kerja Dinilai Solusi Penciptaan Lapangan Kerja Usai Pandemi

Salah satu manfaat penerapan Omnibus Law di Indonesia adalah menyelesaikan tumpang tindih regulasi.

Image
News

Berkas Lengkap, Mantan Lurah Pekojan Bakal Jalani Sidang Tipikor

Tri akan menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam waktu dekat.

Image
News

Kejagung Kembali Periksa Pejabat OJK terkait Kasus Korupsi Jiwasraya

Libas semua yang terlibat.

Image
News

Starbucks Investigasi Video Pegawai Intip Kaki Sampai Dada Pengunjung Lewat CCTV

Melalui akun resmi Twitter, mereka menyatakan permohonan maaf dan akan segera melakukan investigasi.

Image
News
DPR RI

DPR: Penghentian Paket Pelatihan Program Kartu Prakerja Sesuai Harapan dan Aspirasi

Seharusnya program ini mendatangkan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.

Image
News

Dua Spesialis Jambret di Depan Gedung KKP Ditangkap Polisi

Keduanya sudah puluhan kali beraksi menggunakan sepeda motor Vario (nomor polisi) B 4833 TWX

terpopuler

  1. Tak Terima Istrinya Dihina, Kim Jong-un Ledakkan Kantor Penghubung dengan Korea Selatan

  2. Segera Nikah, Reza 'LIDA' Cerita Awal Mula Kenal dengan Calon Istri

  3. Sri Mulyani: Insya Allah Kita akan Bisa Melakukannya Bersama-sama

  4. PSI: Anies Berusaha Mengganti Bahasa Reklamasi Menjadi Perluasan Daratan

  5. Lahirkan Anak Pertama, 7 Potret Persalinan Tasya Farasya yang Penuh Haru

  6. Puan: Kami Ingin Proses Hukum yang Dilakukan Polri Berlangsung Cepat dan Efektif

  7. 5 Meme Lucu Lionel Messi usai Bikin 700 Gol, Jagoan Mah Bebas

  8. Punya Rumah Mungil? Ini 5 Inspirasi Menata Dapur Minimalis agar Manis Abis

  9. Bella dan Engku Emran Trending di Twitter karena Cerai, Warganet: Jadi Ingat Pesan Emak

  10. Anaknya Izin Gunakan Pakai Tato, Reaksi Ibu Berhijab ini Tak Terduga

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Riyanda Barmawi

Lobster Edhy Dalam Bayang-Bayang Susi

Image
Zainul A Sukrin

Polemik RUU HIP, Antara Oligarki dan Populisme Politik Islam?

Image
Yusa’ Farchan

Menjaring Suara di Tengah Pandemi; Catatan Pilkada Serentak 2020

Image
ACHMAD FACHRUDIN

Paradoks Keindonesiaan di Tengah Covid-19

Wawancara

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Image
News

Interview Mardani Ali Sera: Tidak Urgen, Stop dan Batalkan RUU HIP!

Sosok

Image
News

40 Tahun Bersahabat, 7 Potret Kedekatan Retno Marsudi dan Sri Mulyani

Image
News

5 Fakta Menarik Orias Petrus Moedak, Dirut PT Inalum yang Sempat Berdebat dengan Anggota DPR RI

Image
News

Pemilik 36 Perusahaan hingga 40 Ribu Karyawan! Ini 5 Fakta Menarik Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat