image
Login / Sign Up

Politikus Demokrat: Dulu Demo Berjilid-jilid dari 2007 - 2011 Minta SBY Diturunkan, Tak Ada dari Kalian Dipidana

Siswanto

Image

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Rachland Nashidik | AKURAT.CO/Kosim Rahman

AKURAT.CO, Politikus Partai Demokrat Rachland Nashidik membandingkan pemerintahan Indonesia zaman Presiden Joko Widodo dengan ketika masih dipimpin Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono -- dalam konteks kasus mantan tentara Ruslan Buton mengkritisi Jokowi yang kemudian berujung masuk penjara. 

"Cuma minta Jokowi mundur kok dipidana. Cuma bicara, sendiri, tak ada gerakan massa. Sedang kalian dulu demo berjilid jilid, dari 2007 hingga 2011, minta SBY diturunkan. Tak ada dari kalian dipidana. SBY pun tak bisa kalian jatuhkan. Ini cuma sendirian minta Jokowi mundur!" kata Rachland Nashidik melalui akun Twitter yang dikutip AKURAT.CO.

Rachland Nashidik menjelaskan maksud pernyataannya bukan untuk mengkultuskan SBY. "Bila saya berulang menyitir Indonesia dalam kepemimpinan SBY. Hanya saja pada masa itu kita sudah mencapai kemajuan dalam kebebasan sipil dan politik. Demokratisasi yang cukup berhasil itulah yang lalu mengawal KPK dalam memberantas korupsi. Kini?" katanya.

baca juga:

Rachland Nashidik berharap kepada pendukung Jokowi tidak tersinggung kalau kemudian muncul istilah represi untuk menyebut kehidupan demokrasi Indonesia dewasa ini.

"Para pendukung Jokowi jangan marah atau tersinggung bila kehidupan demokrasi kita saat ini disebut berganti represi. Tak ada yang partisan dalam gugatan itu. Demokrasi adalah kepentingan kita semua warga negara. Apapun partai politiknya dan siapapun Presidennya yang berkuasa," kata Rachland.

Kritik terhadap tindakan hukum terhadap Ruslan Buton juga disampaikan sejumlah kalangan.

Pakar hukum tata Negara Refly Harun dalam akun Twitter @ReflyHZ mengatakan kritik tergantung yang menerimanya. Dia sedang menyoroti dinamika politik dalam negeri yang berkembang akhir-akhir ini.

"Kalau baperan, langsung dicap sebagai penghinaan bahkan serangan. Kalau luas jiwanya, akan memandang sebagai masukan atau bahan introspeksi. Pemimpin-pemimpin kita yang seperti apa ya..." kata dia.

Sedangkan dalam pernyataan Refly Harun pada Refly Harun pada 31 Mei 2020 mengatakan meminta Presiden mundur dalam negara yang menganut sistem demokrasi tidak apa-apa. Dia menekankan yang tidak dibolekan adalah memaksa Presiden untuk mundur dari jabatan.

Sehari sebelumnya, Refly Harun juga menyoroti sikap pemimpin. Menurut dia pemimpin yang dewasa itu mau mendengar krrtik, baik yang membangun maupun yang menjatuhkan.

Pemimpin yang dewasa, kata dia, bukan yang segera bereaksi untuk menyerang balik atau membiarkan bawahan atau orang-orang yang mengatasnamakan dirinya menyerang balik. "Kabur substansi kritiknya," kata dia. 

Ruslan Buton kini menjadi tersangka kasus ujaran kebencian. Dia ditahan di rumah tahanan Bareskrim Polri selama 20 hari kedepan sejak Jumat (29/5) hingga 17 Juni 2020.

Ruslan dijerat dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang dilapis dengan Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik  dengan ancaman pidana enam tahun dan atau Pasal 207 KUHP, dapat dipidana dengan ancaman penjara dua tahun.

Tim Bareskrim Polri bersama Polda Sultra dan Polres Buton menangkap Ruslan alias Ruslan Buton di Jalan Poros, Pasar Wajo Wasuba, Dusun Lacupea, Desa Wabula 1, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, pada Kamis (28/5).

Dalam kasus ini, barang bukti yang disita polisi yakni satu ponsel pintar dan sebuah KTP milik Ruslan.

Kasus Ruslan kini ditangani Bareskrim Polri, sementara Polda Sultra dan jajaran hanya membantu dalam penangkapan.

Ruslan ditangkap setelah membuat pernyataan terbuka kepada Presiden Joko Widodo dalam bentuk rekaman suara pada 18 Mei 2020 dan kemudian rekaman suara itu menjadi viral di media sosial.

Dalam rekamannya, Ruslan mengkritisi kepemimpinan Jokowi. Menurut Ruslan, solusi terbaik untuk menyelamatkan bangsa Indonesia adalah bila Jokowi rela mundur dari jabatannya sebagai Presiden.

"Namun bila tidak mundur, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat," tutur Ruslan dalam rekaman suaranya, dikutip dari Antara.

Dari hasil pemeriksaan awal, Ruslan mengaku rekaman suara yang meminta Presiden Jokowi mundur itu adalah suaranya sendiri.

Usai merekam suara, pelaku kemudian menyebarkannya ke grup WhatsApp (WA) Serdadu Eks Trimatra hingga akhirnya viral di media sosial.

Ruslan Buton merupakan mantan perwira menengah di Yonif RK 732/Banau dengan pangkat terakhirnya Kapten Infanteri. Ketika menjabat sebagai Komandan Kompi sekaligus Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau, Ruslan terlibat dalam kasus pembunuhan La Gode pada 27 Oktober 2017.

Pengadilan Militer Ambon memutuskan hukuman 1 tahun 10 bulan penjara dan pemecatan dari anggota TNI AD kepada Ruslan pada 6 Juni 2018 lalu.

Setelah dipecat, Ruslan membentuk kelompok mantan Prajurit TNI dari tiga matra, darat, laut, dan udara yang disebut Serdadu Eks Trimatra Nusantara. Ruslan mengaku sebagai Panglima Serdadu Eks Trimatra Nusantara. []

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Sindir Anies, Ferdinand: Mengapa Reklamasi Ancol Boleh, Reklamasi Era Ahok Tidak Boleh?

Image

Ekonomi

Tegur Jajarannya, Jokowi: Jalan Tol Cisumdawu Penting Sekali tapi Terhambat, Segera Selesaikan!

Image

Ekonomi

Jokowi Keluhkan Banyaknya Kendala Teknis Proyek Tol Trans Sumatera dan Cisumdawu

Image

News

PDIP Dukung Jokowi Evaluasi Menteri Kabinet yang Berkinerja Buruk di Tengah Pandemi

Image

Ekonomi

Gerindra Dapat Untung dari Ekspor Benih Lobster, Begini Kata Edhy Prabowo

Image

News

Ini Tanggapan Demokrat Terkait Pernyataan PDIP Soal Main Kartu Politik di Tengah Polemik RUU HIP

Image

Ekonomi

Jokowi: Kita Punya Peluang Keluar dari Middle Income Trap

Image

News

Demokrat Percaya Diri Jelang Pilkada, Sudah Banyak Kandidat Datang Minta Restu

Image

News

Bank Dunia Naikkan Kelas Indonesia, Ruhut: Pak Jokowi, Selamat Mendapat Penilaian yang Sangat Objektif

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Mirip dengan Bintang PornHub, Replika Robot Seks Ini Jadi Viral

RealDoll telah membuat replika boneka seks yang begitu mirip dengan salah satu artis andalan PornHub, Asa Akira

Image
News

Koarmada I Akan Gelar Latihan Pendaratan Amfibi di Pantai Todak Kepri

Latihan terpadu itu akan melibatkan Unsur Koarmada I, Kolinlamil, Marinir dan Puspenerbal.

Image
News

1073 Jemaah Ajukan Pengembalian Setoran Pelunasan Haji, Terbanyak di Jateng

Sebanyak 1030 jemaah sudah keluar Surat Perintah Membayar (SPM) dan mestinya sudah terkirim uangnya ke rekening mereka.

Image
News

Eks Hakim MK: Putusan DKPP Tidak Bisa Menjadi Objek Gugatan di PTUN

Memang putusan DKPP tidak bisa dijadikan objek gugatan PTUN.

Image
News

Bonus Demografi 2025, HIPMI: RUU Ciptaker Solusi Lapangan Kerja Generasi Muda

Pada 2025, kita akan mendapatkan bonus demografi. Akan ada 148,5 juta pencari kerja.

Image
News

Kejagung Buka Peluang Selidiki Keterlibatan PT Bank Mayapada Terkait Jiwasraya

Saya nggak menutup diri, ketika memang nanti ada fakta lain yang menunjukan ada (keterlibatan) itu (Bank Mayapada) kenapa tidak.

Image
News

Masyarakat Papua Barat Disebut Bangga Memiliki Kodam Kasuari

“Karena para prajuritnya menjunjung tinggi kearifan lokal masyarakat adat Papua Barat”

Image
News

Isu PKI Muncul, Sejarawan LIPI Cerita Soal Ribka, Okky dan Reza Rahardian

“Kalau seseorang jadi PKI, anaknya tak menanggung dosa dia. Itu sama dengan jika seorang ayah langgar hukum, anaknya kan tak harus diadili”

Image
News
Wabah Corona

Update Covid-19: 104 Kabupaten dan Kota Masuk Zona Hijau, Ini Daftarnya

Empat puluh tiga kabupaten-kota yang sudah berhasil masuk ke dalam zona hijau setelah sebelumnya terdampak COVID-19.

Image
News
Wabah Corona

Pasien Kelompok Usia 31-40 Tahun Dominasi 346 Kasus COVID-19 di DIY

Dari 346 kasus COVID-19 di DIY, kelompok usia 31-40 mendominasi dengan total 81 kasus. Pasien termuda berumur 4 bulan dan tertua 80 tahun.

terpopuler

  1. Hati-hati! Begini Modus Baru Penjahat di Ruang ATM

  2. Ditemukan Mutasi Baru Virus Corona, Lebih Cepat Menular namun Sakitnya Tak Lebih Parah

  3. Unik dan Kreatif, Cewek Jogja ini Dinamai Dita Leni Ravia Oleh Orang Tuanya

  4. Anak Buah Anies Baswedan Diduga Lakukan Pungli di Pasar Johar Baru

  5. Ini Penjelasan Kenapa Tidak Ada Penalti untuk Injakan Sergio Ramos ke Raul Garcia

  6. 5 Momen Guard of Honour Tim-tim Besar Eropa untuk Klub yang Berhasil Juara

  7. Danrem Kendari: Saya Akan Tindak Tegas Bagi yang Berani Berbuat Macam-macam

  8. Pamer Nggak Sengaja Masuk TV, Pria ini Malah Jadi Candaan Warganet

  9. Loyal! 5 Pemain Bintang yang Kembali ke Klub yang Ia Cintai Usai Berkelana

  10. Tekad Ingin Kurus, Ivan Gunawan Pamer Foto Perut Sixpack

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Renasionalisasi BUMN

Image
Muhtar S. Syihabuddin

Kami Cinta Polisi Sekaligus NKRI

Image
UJANG KOMARUDIN

Marah-marah dan Ancaman Reshuffle

Image
Riyanda Barmawi

Lobster Edhy Dalam Bayang-Bayang Susi

Wawancara

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Image
News

Interview Mardani Ali Sera: Tidak Urgen, Stop dan Batalkan RUU HIP!

Sosok

Image
Ekonomi

Total Capai Rp7 M! Ini 4 Sumber Kekayaan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo

Image
News

Kenang Masa Awal Pernikahan, Ini 5 Foto Lawas Mesranya Arumi Bachsin dan Emil Dardak

Image
Gaya Hidup

Mengenal Herni Ekamawati, Pecinta Kopi yang Jadi Ratu EO