image
Login / Sign Up

Tenaga Medis: Harapan Kami Tidak Banyak, Kalian Patuh di Rumah Saja Biar Kami yang Berjuang

Ratu Amanda Distania

Wabah Corona

Image

Perawat Mei Chandra | Instagram/Mei Chandra

AKURAT.CO, Mei Chandra, perawat dari rumah sakit umum di Blitar, Jawa Timur gemas melihat masih banyak masyarakat yang mengabaikan anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah selama penanganan pandemi virus Corona atau Covid-19.

Mei geleng-geleng kepala ketika melihat berita di media massa beberapa hari lalu tentang penumpukan penumpang di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang. Menurutnya, banyaknya masyarakat yang tetap keluar rumah di tengah pandemik karena kurangnya pengetahuan tentang bahaya Covid-19. 

"Yang menjadi akar permasalahan adalah kesadaran para individu tersebut. Maaf ya mbak, menyimpang sangat jauh. Kampanye cuci tangan, jaga kebersihan hingga muncul hashtag yang viral #dirumahaja sampai semua iklan di TV maupun radio turut menyuarakan hal ini untuk menekan angka penularan wabah covid-19. Sebenarnya, ini sangat cukup. Cukup sekali!" kata Mei saat dihubungi AKURAT.CO, Minggu (17/5/2020).

baca juga:

Mei berpesan kepada masyarakat jangan beranggapan sehat sehingga memutuskan untuk keluar rumah. Sebab, siapapun bisa terinfeksi virus asal Wuhan, China itu tanpa gejala apapun.

"Merasa sehat belum tentu mengidap atau membawa virus. Sekarang banyak sekali pasien dengan status OTG (orang tanpa gejala). Karena virus ini yang diserang adalah imun, maka ketika virus ini menyerang pada saat imun kita baik, gejalanya tidak akan serta merta muncul atau bahkan tidak ada sama sekali. Ini justru yang sangat berbahaya," jelasnya.

Kata Mei, kasus orang tanpa gejala biasanya terjadi pada manusia usia produktif, usia 20 tahun hingga 50 tahun. OTG bisa saja menularkan virus Corona ke orang dalam resiko (ODR). Dia menerangkan Covid-19 menular melalui kontak fisik, percikan (droplet) dan udara (airborne) bila penderita sedang batuk, bersin.

"Sederhananya, memang virus ini bisa sembuh sendiri hanya dengan mengandalkan imunitas kita saja. Tapi yakin tidak menularkan ke orang lain? Dan ternyata menurut penelitian, virus ini bermutasi dengan sangat cepat. Makin kuat dan makin kuat. Siapa yang paling beresiko? Balita atau anak-anak dan orang tua," kata dia.

perawat Mei Chandra. Instagram/Mei Chandra

Mei menyebut orang yang melanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar tidak menghormati kerja tenaga medis. Sebab, para petugas medis berjuang di garis depan dan tidak pulang ke rumah.

"Logikanya, kalau sadar orang sehat bisa bawa virus, kenapa warga masih mudik, bepergian ke luar kota untuk sekedar belanja, dan menerima kembali warga yang pulang dari luar negeri?" tanya Mei.

"Padahal petugas medis jelas-jelas menjaga kebersihanya betul-betul karena ada aturan sendiri, karantina di tempat khusus dan sudah menjalani serangkaian pemeriksaan setelah selesai 1 siklus tugas, kenapa malah ditolak? (meski ini tidak semua terjadi si)," sambungnya.

Lebih jauh, Mei mengatakan seharusnya masyarakat sadar dengan banyaknya petugas medis yang tumbang karena terinfeksi virus Corona. Oleh karena itu, kalau masih banyak masyarakat yang tidak taat aturan tentu berpotensi adanya gerakan mogok dari tenaga medis.

"Jika hal ini tetap berlanjut, tidak menutup kemungkinan adanya gerakan mogok kerja juga dari para tenaga medis. Harapan kami tidak banyak, kalian patuh di rumah saja. Kami berjuang agar kasus ini tak makin meningkat," kata Mei.

Mei mengaku tenaga medis hanya takut tidak bisa memenuhi kebutuhan tenaga dan Alat Pelindung Diri (APD). Masalah fasilitas kesehatan seperti ruangan masih bisa diatasi asal ada dana.

"Pasien yang terjangkit confirm corona bukan semuanya pasien dewasa mandiri. Ada lansia, anak-anak bahkan ibu hamil atau yang sedang melahirkan. Semua itu ada bekerja sesuai tupoksinya. Jika semua bidang banyak yang diambil untuk merawat Covid-19, maka untuk perawatan umum sangat kekurangan SDM. Untuk membuka rekrutmen dalam waktu dekat pun beresiko tinggi," kata dia.

perawat Mei Chandra. Instagram/Mei Chandra

Saat ditanya soal kebijakan pemerintah yang berpotensi memperluas penyebaran COVID-19, Mei tidak berharap banyak.

"Harapan pemerintah enggak banyak mbak karena saya yakin setiap kebijakan yang dikeluarkan ada alasannya. Hanya kurang tegas dan tajam saja," tuturnya.

Karena menurutnya, pemerintah belum mampu menanggung segala kebutuhan segenap masyarakatnya hingga ke tingkat paling dasar. Kebijakan itu tertuju pada memperbolehkan kembali bekerja di kantor untuk warga berusia di bawah 45 tahun di 11 sektor.

"Jadi kemungkinan satu-satunya cara ya begitu, menggerakan kembali secara lambat. Imbasnya mungkin bisa berpengaruh pada kenaikan pasien konfirm positif di daerah tersebut," ucapnya.

"Kembali semua memang mengatur masyarakat luas itu sulit. Tapi menilik dari negara lain yang mampu memaku aturan dan kebijakan untuk menekan angka covid-19 di mindset masyarakatnya, masa kita gak bisa?" sambungnya.[]

Editor: Arief Munandar

berita terkait

Image

News

Wabah Corona

Siapkan Transisi Menuju New Normal, Khofifah Tidak Perpanjang PSBB di Malang Raya

Image

News

Wabah Corona

Pemerintah Restui 102 Wilayah Dinyatakan Zona Hijau Covid-19 untuk Laksanakan Kegiatan Produktif

Image

News

Wabah Corona

Ojol Siap Demo Depan Istana, Musni Umar: Saya Bisa Pahami dan Hayati Aspirasi Mereka

Image

News

Wabah Corona

Sambut Baik New Normal, Teddy Gusnaidi: Pengalaman Selama PSBB Harus Dijadikan Pelajaran Bagi Pemerintah dan Rakyat

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Sebelum Kembali ke Kantor, Ini Tips Pencegahan COVID-19 di Tempat Kerja

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Proses Adaptasi New Normal Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

ODP Corona per 29 Mei Ada 49.212 dan PDP 12.499

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

5 Jenis Makanan yang Mampu Beri Imunitas Kuat untuk Anak

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Hasil Pemeriksaan Spesimen, 25.216 Positif COVID-19 dan 179.949 Negatif

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Mahfud MD Minta Polisi Usut Ancaman Teror Terhadap Pembicara Diskusi di UGM

Saya sarankan juga agar penyelenggara dan calon narasumber melapor agar ada informasi untuk melacak identitas dan jejak peneror.

Image
News
DPR RI

Didik: Negara Harus Hadir dalam Pengusutan Kasus Ancaman Teror Diskusi Politik di UGM

Menurut Didik, dalam persoalan ini negara harus hadir, pemerintah dan aparatnya harus memberikan perlindungan terhadap setiap ancaman.

Image
News

Terkait Diskusi Pemecatan Presiden, Dosen UGM yang Disebut Picu Aksi Teror Ogah Disebut Provokator

Ia mengaku tak sedang memprovokasi siapa pun, saya hanya merespons atas judul seminar yang ada di poster I sebagai wujud kebebasan akademik.

Image
News
Wabah Corona

Kemensos: Warga Boleh Tukar Barang Jika Bansos yang Diterima Kualitasnya Buruk

Kemunculan produk dengan kualitas yang tidak sesuai biasanya terjadi pada beras karena diambil dari berbagai pemasok.

Image
News

Kembali Dibuka, Pelayanan SIM di Satpas Daan Mogot Dibatasi

Jam operasional dari Senin-Jumat pukul 08.00-13.00WIB.

Image
News

Tanah Longsor Tutup Ruas Tol Semarang-Solo di KM 426

Pagi ini sudah hampir selesai.

Image
News

Usulkan Surabaya Punya Mobil PCR Sendiri, Wakil Wali Kota: Kita Mampu Beli Kok

Apa susahnya ketika mobil dalam perjalanan konfirmasi dulu ke pemkot kalau akan dipakai di tempat lain, jangan mobil tiba-tiba dibelokkan.

Image
News
DPR RI

Pemerintah Perlu Perhatikan Infrastruktur Pesantren Sebelum Memberlakukan Tatanan New Normal

Selain itu, tenaga medis selama berlakunya kehidupan normal baru perlu disiagakan di pondok pesantren.

Image
News
Wabah Corona

Angkut 2.680 Penumpang, Pengguna Kereta Api Luar Biasa Mayoritas dari Trayek Pasar Turi-Gambir

KAI sudah mencatat sebanyak 411 penumpang dari Gambir ke Pasar Turi Surabaya. Sedangkan arah sebaliknya sebanyak 355 penumpang.

Image
News

Ponpes Al-Tsaqafah Tunggu Kebijakan Pemerintah Terkait Protokol Penerapan New Normal

Kesehatan manusia itu wajib didahulukan dari apapun.

terpopuler

  1. 13 Juli 2020 Hari Pertama Masuk Sekolah, Orang Tua Siswa: Gimana Cara Mereka Social Distancing Sama yang Lain?

  2. Lama Tak Terlihat, Ini 5 Gaya Rambut Baru Para Pemain Persik Kediri

  3. MS Kaban: Presiden Jokowi untuk Pertahankan Kekuasaan Gak Perlu Main Tangkap Orang yang Berbeda

  4. 5 Modifikasi Sepatu Atlet American Football yang Kreatif dan Meriah

  5. Banyak ART Ingin Kembali ke Jakarta, Pengajuan SIKM Ditolak Mentah-mentah Pemprov DKI

  6. Tetap Bekerja Meski Berumur 100 Tahun! Ini 5 Fakta Menarik Biliuner Tertua di Dunia, Chang Yun Chung

  7. Dari Wasit FIFA Hingga Legenda Serie A, Ini 5 Potret Rendra Soedjono Bersama Para Bintang Sepak Bola

  8. 3 Amalan Sunah yang Bisa Dilakukan di Bulan Syawal untuk Menggapai Keistimewaannya

  9. Ruslan Buton Ditangkap Usai Minta Jokowi Mundur, Fadli Zon: Standar Demokrasi Macam Apa yang Kita Pakai?

  10. Heboh Mobil PCR BNPB Dialihkan, Warganet ke Khofifah: Jangan Diboikot Bu!

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Memaknai Silaturahim Virtual

Image
Azami Mohammad

Gaya Bengis Antirokok Memainkan Isu Anak

Image
Dr Idham Kholik

Menjadi (kan) Pemilih Antifobia Covid-19

Image
Ujang Komarudin

New Normal

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
Ekonomi

Kiat Agar Bisnis Moncer Ala Bob Sadino

Image
News

Ikut Tren Gunakan FaceApp, Ridwan Kamil: Di Era New Normal Wajah Tak Perlu Dirawat, Cukup Diedit

Image
News

Pernah Terlibat Kasus Pembunuhan hingga Tuntut Jokowi Mundur, 5 Fakta Tak Terduga Ruslan Buton