image Banner Idul Fitri
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Republik Waras

Kolom

Image

Ratusan massa buruh DKI Jakarta dari berbagai aliansi melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Balaikota, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2020). Aksi demo buruh tersebut untuk menyampaikan aspirasi terkait penolakan RUU Omnibus Law. Mereka meminta agar Presiden Jokowi dan juga meninta kepada Gubernur DKI Jakarta serta DPRD menolak dan bergerak cepat untuk membatalkan RUU yang dianggap mereka kontroversial. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Ada apa dengan republik ini. Apakah Anda merasa tak ada apa-apa. Atau merasa ada yang janggal dalam pengelolaannya. Ataukah biasa-biasa saja. Negara ini milik kita semua. Wajar jika kita mengkritik, jika ada ketidakberesan dalam mengurusnya. Justru salah, jika kita diam saja, ditengah banyak kebijakan yang keliru.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun, makin tak jelas, arah kapal besar republik ini. Lalu, bangsa ini akan dibawa kemana. Apakah republik ini akan oleng. Ataukah akan tetap kuat dan tangguh, ditengah gempuran elite-elite yang oportunis dan pragmatis.

KPK telah dibunuh, utang negara menggunung, APBN defisit, perampokan Jiwasraya tak jelas ujung pangkalnya, pendapatan pajak berkurang, PSBB aturannya saling bertabrakan, BBM tak turun, dan iuran BPJS dinaikan.

baca juga:

Belum lagi reklamasi pulau C, D, G, N diizinkan dibangun, Polisi dan TNI, banyak menempati jabatan-jabatan sipil, Perppu “Corona” dan RUU Minerba disahkan, TKA China masuk seenaknya, rakyat banyak yang terkena PHK, rakyat banyak yang kelaparan, dan banyak lagi persoalan, yang sedang dihadapi republik ini.

Di negara yang waras rakyat akan diutamakan. Karena rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Dan republik ini ada, karena ada rakyatnya. Namun di republik yang tak waras, suara-suara rakyat akan diabaikan. Suara rakyat tenggelam dalam hiruk-pikuk politik, yang penuh manipulasi dan kebohongan.

Saat ini, politik di republik yang katanya masih waras. Rakyat tak lagi dijadikan subjek. Tapi sudah menjadi objek. Yang setiap saat bisa diperlakukan seenaknya. Yang setiap waktu bisa dirampas hak-haknya. Rakyat tak lagi merdeka. Karena dibayang-bayangi ketakutan, jika harus mengkritik yang berwenan. Dan yang punya jabatan.

Corona semakin membuat rakyat tak bisa tidur. Tak punya kerjaan. Tak punya uang. Juga tak punya beras. Hantu kelaparan, kini mengintai setiap penduduk di republik waras. Sudah banyak yang kelaparan karena tak bisa makan. Akankan ini terus-terusan berjalan.

Disaat hantu Corona belum tuntas. Rakyat semakin ketakutan dengan kriminalitas yang tinggi. Penjambretan terjadi dimana-mana. Pembegalan dan perampokan sudah mulai ramai. Dan pemerkosaan pun terjadi, yang dilakukan oleh napi hasil asimilasi.

Di tengah pandemi Corona yang masih belum normal. Pemerintah menaikan iuran BPJS. Padahal MA sudah pernah memutuskan pembatalan kenaikan iuran BPJS. Namun pemerintah untuk kedua kalinya menaikan iuran BPJS.

Rakyat di negeri yang waras, haruslah banyak bersabar. Bersabar dengan kebijakan-kebijakan yang tak memihak kepadanya. Bersabar dengan penderitaan yang dialaminya. Bersabar dengan perut lapar yang dirasakannya. Dan bersabar karena harus hidup berdamai dengan Corona.

Di negara yang waras. Pejabat-pejabatnya pasti waras. Elite-elitenya juga pasti waras. Parpol-parpolnya waras. Kaum intelektual juga waras. Media juga waras. Pengusaha juga waras. Namun di republik yang tak waras. Baik pejabat, elite, parpol, intelektual, dan media, dan pengusahanya “edan”.

Edan karena takut tak kebagian proyek. Edan karena sama-sama bersekongkol untuk marampok uang negara. Edan karena bersama-sama, kongkalingkong membuat kebijakan yang menguntungkan dirinya. Dan disaat yang sama, kebijakan tersebut menghancurkan bangsa dan rakyatnya.

Di negara yang waras. Disaat pandemi belum jelas kapan penyelesaiannya. Negara waras tersebut, tak akan melakukan kebijakan aneh dan konyol, seperti mengimpor TKA dari negara lain.  

Rasional saja. Objektif saja. Di tengah gelombang PHK besar-besaran yang diakibatkan Corona. Di saat masyarakat masih banyak yang menganggur. Tak ada kerjaan. Dan disaat masyarakat banyak yang diambang kelaparan.

Tak elok dan tak bijak, jika TKA  masuk ke Indonesia. Bekerja di republik tercinta. Karena pasti akan menimbulkan kecemburuan. Akan menimbulkan rasa kebencian rakyat kepada pemerintah. Dan akan memunculkan konflik sosial dikemudian hari.

Republik ini saya yakin masih waras. Masih rasional dalam mengambil kebijakan. Masih objektif dalam menyelesaikan setiap persoalan. Jangan karena rakyat diam. Jangan karena rakyat Indonesia, baik-baik dan pemaaf. Bukan berarti elite-elite di negara waras berbuat seenaknya.

Rakyat sudah banyak yang bingung. Banyak yang stres. Dan banyak yang lapar. Butuh solusi. Butuh penyelesaian. Butuh kearifan para elite negara waras, untuk berpihak pada rakyatnya.

Rakyat jangan hanya dicari ketika pemilu. Dikumpulkan ketika pilkada. Dielus-elus ketika elite ada maunya. Namun ketika kekuasaan sudah di tangan. Ketika jabatan sudah digenggaman. Rakyat diabaikan dan dibuang bagaikan sampah.

Ingat. Rakyat kini sudah cerdas. Sudah semakin rasional. Sudah makin dewasa. Sudah banyak mengalami banyak penderitaan. Sudah banyak dibohongi. Jika negaranya sudah menjadi tak waras lagi, maka rakyat pasti akan “eling”.

Negara yang waras pasti semua kebijakannya akan diperuntukkan untuk keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan rakyat. Bukan memanjakan pejabat. Dan memuliakan investor. Negara waras pasti kebijaknanya pro rakyat. Bukan pro pejabat. Apalagi pro pengusaha.

Jangan sampai negara yang waras dikelola dengan tak waras. Dikelola dengan asal-asalan. Karena jika republik waras salah kelola, maka akan menjadi republik yang “ambray”. Republiknya ada. Masih berdiri. Tetapi kekayaan negaranya, sudah dikuasai oleh segelintir orang. Dan rakyatnya menderita dan miskin.

Mari kita jaga republik ini agar tetap waras. Waras dalam segala hal. Waras pejabatnya. Waras juga rakyatnya. Waras otaknya. Waras hatinya. Dan waras kebijakannya. Sehingga dalam membuat keputusan selalu berpihak pada rakyat.

Republik waras ini akan ‘ambyar”. Jika perilaku elitenya, masih mementingkan kantong dan periuk nasi sendiri. Masih mementingkan pribadi, kelompok, dan partainya. Sehingga rakyat diabaikan dan tak dihitung.

Agar republik ini tetap waras. Mari kita jaga bersama-sama bangsa ini. Dengan cara membuat langkah-langkah dan kebijakan yang sesuai dengan keinginan rakyat. Dan berguna untuk kepentingan bangsa. Bukan kepentingan pejabat. Apalagi pengusaha.

Kita harus tetap optimis. Walaupun di tengah-tengah pandemi Corona yang belum tuntas ini. Walaupun banyak elite-elite yang tak waras. Kita harus tetap tersenyum. Dan harus tetap semangat. Hanya dengan cara itulah republik ini bisa terjaga dari “ketidakwarasannya”.

Mari kita jaga dan kawal republik ini, agar tetap ada dijalur yang benar. Agar tetap waras. Jika sampai republik ini jadi tak waras, maka akan “gila” lah kita semua. Selamat menjaga republik ini, agar tetap waras. Waras itu penting. Sepenting warasnya republik kita ini.[]

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Idulfitri 2020: Antara Covid-19 dan Tradisi

Image

News

Kolom

Merayakan Negara yang Keluar dari Tempurung

Image

News

Kolom

Idulfitri Sebagai Instrumen Kritik Sosial

Image

News

Kolom

Matinya Reformasi

Image

News

Kolom

Manajemen Krisis Pilkada di Tengah Covid-19

Image

News

Hikmah Ramadan

Puasa itu Menyuburkan Ruhiyah

Image

News

Kolom

Mau Dibawa Kemana Pemilu Kita?

Image

Gaya Hidup

Kolom

Quo Vadis Perpusnas di Era Industri 4.0

Image

News

Hikmah Ramadan

Lebih Dekat dengan Allah SWT di 10 Hari Terakhir Ramadan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
DPR RI

Datangi Kemenag, Satgas COVID-19 DPR RI Bahas Wacana Pembukaan Kembali Rumah Ibadah

Kemenag sudah menyiapkan skema protokol Covid-19 yang sudah dirangkai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang rinci dan ketat.

Image
News
Wabah Corona

Angka Penularan COVID-19 Masih Tinggi, PP Muhammadiyah Anggap Kebijakan New Normal Tidak Relevan

Menurut Haedar, wajar bila pernyataan pemerintah tentang new normal belakangan ini menimbulkan polemik dan kebingungan di kalangan masyaraka

Image
News

Capai 50 Derajat Celsius, Suhu di India Pecahkan Rekor Tertinggi Bulan Mei dalam 18 Tahun Terakhir

Gelombang panas yang melanda India semakin meningkatkan risiko kesehatan di tengah pandemi COVID-19

Image
News
Wabah Corona

Peran TNI-Polri Dibutuhkan dalam Mengawal Prosedur Tatanan New Normal

“Sebagaimana kita ketahui warga masyarakat masih banyak yang tidak paham protokol kesehatan yang sudah ditetapkan“

Image
News

Pengelola  Siapkan 4 Ruang Karantina untuk Pemudik Tanpa SIKM di Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari 

Eruangan yang disediakan bisa menampung 100 orang pemudik

Image
News

Apa Sih Hukuman bagi Penyebar Konten Porno? Hati-hati, Penjara Menanti!

Dalam pasal 29 UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, pelaku penyebaran dapat dipenjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 12 tahun.

Image
News

Anak Pindah Agama, Ulama Uganda Nekat Bakar Putrinya Hidup-hidup

Mulanya Kyomuhendo mendengarkan ceramah dari saluran radio Kristen, lalu berdiskusi dengan teman ayahnya, hingga mantap berpindah agama.

Image
News
Wabah Corona

Pelanggar PSBB Disuruh Nyapu, Push Up sampai Nyanyi Indonesia Raya, Warga: Saya Terima Sih Hukuman Ini

Belasan pelanggar PSBB diarahkan turun dari kendaraan dan mendatangi meja petugas di pos cek poin yang ada di bahu jalan.

Image
News
Wabah Corona

Positif COVID-19, Bayi Berumur 9 Bulan di Mataram Meninggal Dunia

Bayi yang berasal dari Lingkungan Karang Rundun, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya tersebut meninggal pada 23 Mei 2020.

Image
News

Anwar Abbas Usulkan Pelaksanaan Salat Jumat Secara Bergelombang di Tengah Wabah Covid-19

Saya akan menyampaikan kepada Komisi Fatwa MUI untuk mempelajari kemungkinan pelaksanaan shalat Jumat di tengah wabah COVID-19

terpopuler

  1. Sherina Unggah Potret Kebersamaan dengan Afgan, Warganet: Jodoh Gak Kemana

  2. Bukan Saudara, Ini 5 Pasang Pesepak Bola yang Wajahnya Mirip Seperti Kembar

  3. Banyak Warga Tak Punya SIKM Diputarbalik, Anies: Mungkin Mereka Tidak Nyaman, Tapi Lebih Tidak Nyaman Jutaan Warga Jakarta

  4. Warga: Pokoknya Harus Kembali ke Jakarta, Banyak Jalan Menuju Roma

  5. Blasteran Turki, 7 Potret Cantik Elif Kayla Perk Anak Pedangdut Siti KDI

  6. 7 Potret Rumah Mewah Mendiang Olga, Hampir Dijual Billy Syahputra Seharga Rp15 Miliar!

  7. Maret-Mei, Ormas Pemuda Pancasila Terjunkan 97.534 Relawan Lawan Covid-19

  8. Kematian COVID-19 di AS Mencapai 100 Ribu Jiwa, Rumah Ibadah New York Kumandangkan Panggilan Ibadah

  9. Billy Benarkan Biaya Perawatan Warisan Peninggalan Olga Syahputra Besar

  10. Gawat! Tunjangan PNS DKI Dipotong 50 Persen, BKD dan BPKD Tak Dipotong, TGUPP Malah Dapat THR

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Andi Rahmat

Perekonomian Indonesia di Bawah Bayang-bayang Gelombang Perubahan Dunia (Bagian Kedua)

Image
Andi Rahmat

Perekonomian Indonesia di Bawah Bayang-bayang Gelombang Perubahan Dunia (Bagian Pertama)

Image
Sunardi Panjaitan

Idulfitri 2020: Antara Covid-19 dan Tradisi

Image
Zainul A. Sukrin

Merayakan Negara yang Keluar dari Tempurung

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Romantis Abis! Intip 6 Gaya Pacaran Anak Tommy Soeharto, Darma Mangkuluhur Hutomo

Image
News

Dari Kantor Hukum ke Kursi Sutradara, Ini 5 Fakta Menarik Iman Brotoseno yang Kini Jadi Dirut TVRI

Image
News

Jarang Tersorot, 6 Potret Hangat Fadli Zon saat Bersama Keluarga