image
Login / Sign Up

Hasil Riset Big Data Covid-19 yang Dilakukan Indef dari Perdebatan Lockdown sampai Jajaran Pemerintah Bercanda Tidak Berkualitas Serta Arahan Tak Jelas

Siswanto

Wabah Corona

Image

Ilustrasi virus Corona (Covid-19). | AKURAT.CO

AKURAT.CO,  Lembaga Institute for Development of Economics and Finance melakukan riset big data Covid-19. Riset ini untuk monitoring program, kebijakan, dan tindakan Pemerintah dalam penanganan Pandemi Covid-19. Metodologi riset dengan pengumpulan data dan analisis sosial media pada opini publik terhadap langkah Pemerintah.

Hasil riset big data Covid-19 yang dilakukan Indef menunjukkan:

Pertama, intensitas percakapan tentang Covid-19 ini memang cukup tinggi hanya dalam 2-3 minggu. Dari 145 ribu percakapan tersebut, mayoritas membicarakan lockdown (38 persen), di rumah saja (12 persen), koordinasi presiden dan menkes blepotan (9 persen), jangan panik (8 persen), dan seterusnya.

baca juga:

Jagad maya dipenuhi oleh isu kontroversi kebijakan Pemerintah dan sentimen positif dan negatif yhang bercampur aduk karena kejadian ini memang tidak pernah dihadapi oleh Pemerintah, kecuali Pandemi lebih kecil flu burung beberapa tahun yang lalu.

Kedua, perdebatan tentang lockdown sangat kontroversial dan intensif di dalam masyarakat, sampai seolah-olah terbelah. Hasil pengumpulan data ini menunjukkan bahwa di dalam percakapan tersebut kira-kita lebih dua pertiga dari total atau 68 persen setuju dengan lockdown.

Jumlah percakapan yang setuju terhadap lockdown sekaligus merupakan harapan terhadap Pemerintah. Informasi tentang lockdown sudah dipahami oleh publik dari informasi yang melimpah pada media mainstream atau non-mainstream. Jumlah yang setuju lockdown lebih banyak daripada yang setuju rapid test.

Ketiga, alasan dari yang setuju lockdown, antara lain: untuk mencegah keluar masuk manusia yang potensial menularkan Covid-19, mempermudah tracing dalam satu kota yang lockdown, yang utama adalah alasan keselamatan, bukan ekonomi. Harapan publik agar Pemerintah memberlakukan lockdown karena sudah banyak tokoh panutan, yang memberikan saran demi keselamatan masyarakat dimana gerak manusia dibatasi lebih ketat.

Publik paham bahwa pergerakan manusia secara bersama dan berkumpul di transportasi umum dipahami sebagai media penularan yang sangat efektif. Dengan demikian harapan masyarakat agar Pemerintah melakukan lockdown wajar lebih besar daripada membiarkan masyarakat bergerak, berkumpul dan menularkan Covid-19 satu sama lain.

Keempat, opini lockdown relatif besar sangat lumrah karena banyak tokoh-tokoh masyarakat dan opinion makers banyak menganjurkan lockdown, bahkan Jusuf Kalla tegas sekali menganjurkan lockdown demi keselamatan masyarakat luas. Selain itu, banyak tokoh yang menganjurkan Pemerintah perlu mempertimbangkamn lockdown terbatas dan bertahap dan sudah semestinya alasan kesehatan diutamakan.

Tetapi Pemerintah ragu-ragu menjalankannya sehingga publik juga terbelah menjadi terafiliasi secara politik, dengan argumen politis, bukan dari kepentingan obyektif keselamatan manusia.

Kelima, hasil yang utama dari riset ini adalah fakta bahwa sentimen terhadap Pemerintah dalam penanganan Covid-19 ini sangat negatif. Sekitar 66,3 persen dari ratusan ribu percakapan tersebut bersifat negatif terhadap jajaran Pemerintah. Sisanya hanya sekitar 33,7 persen mempunhyai sentimen positif.

"Kita baca di berbagai media sejak awal bersifat simpang siur, bersenda gurau, saling bertolak belakang, meremehkan kasus Covid-19, dan sejenisnya sehingga menimbulkan sentimen negatif di media mainstream dan sekaligus terbukti negatif di media bukan mainstream, seperti riset di media sosial ini," kata pendiri Indef Didik J. Rachbini.

Keenam, sentimen negatif ini tidak hanya terlihat pada perhitungan kuantitatif persentasi sentimen percakapan tersebut, tetapi secara kasat mata sudah terlihat. Awal ketika Covid-19 masih belum meluas respons Pemerintah sangat gamblang implisit maupun eksplisit sangat memandang enteng persoalan ini.

Komunikasi publik jajaran pemeringtah mulai dari presiden, wakil presiden, maupun menteri ditengarai tidak bermutu, membingungkan, bercanda tidak berkualitas, dan tidak ada arahan yang jelas. Jadi cukup wajar jika percakapan publik selama paling tidak 3 minggu mempunyai sentimen negatif terhadap Pemerintah.

Ketujuh, bahkan sentimen negatif tersebut sepanjang bulan maret, terutama sejak pertengahan tertuju kepada dua tokoh yaitu Menteri Kesehatan Terawan dan Presiden Jokowi.

Komunikasi publik menteri kesehatan kepada masyarakat sangat buruk. Di dalam riset ini dari 16 ribu percakapan ada 93 persen sentimen negatif terhadap menteri kesehatan. Ini merupakan modal sosial yang rapuh bagi pejabat negara, yang harus mendapatkan kepercayaan untuk menyelesaikan masalah publik yang sangat serius, yakni Pandemi Covid-19 ini.

Kedelapan, tidak hanya menteri kesehatan, percakapan yang menyangkut atau terkait presiden juga bersifat negatif. Dari 8,666 ribu percakapan menyangkut presiden Jokowi, ditemukan  sentimen negatif yang tinggi, yaitu sekitar 79 persen. Sedangkan percakapan yang mengandung sentimen positif terkait presiden Jokowi hanya 21 persen.

Dari hasil pantauan secara kualitatif, content analysis media mainstream, dan hasil kuantitatif big data tersebut di atas, terlihat Pemerintah belum mempunyai tingkat kepercayaan yang memadai di depan publik. Itu ditunjukkan oleh sentimen negatif yang tinggi.

Sentimen negatif dalam ratusan ribu percakapan tersebut tidak hanya terhadap Pemerintah secara kolektif, tetapi juga langsung tertuju pada Presiden Jokowi dan Menteri Terawan.

Selain sentimen negatif, perpecahan di antara pimpinan pemerintahan, Pemerintah pusat dan presiden dengan gubernur sangat menonjol di media mainstream. Ini bukan hanya menambah runyam persepsi publik terhadap Pemerintah, tetapi juga menjadi halangan bagi Pemerintah untuk bekerja secara efektif untuk melindungi masyarakat dari bahaya Covid-19.

Akhirnya penundaan demi penundaan terlihat, bahkan juga terlambat dan dianggap kurang akurat soal data. Publik masih belum sepenuhnya percaya data resmi yang dirilis Pemerintah.

Pandemi ini masalah publik yang rumit dan meluas. Pemerintah memerlukan dukungan rakyat secara meluas pula. Jika sentimen negatif tinggi terhadap Pemerintah, maka dukungan rakyat tidak akan memadai, bahkan bisa terjadi acuh tgak acuh dan pembankangan. Untuk mendapatkan dukungan, maka perlu meningkatkan sentimen positif dengan memperbaiki komunikasi kepada publik, transparan dan jujur, tidak ada data yang disembunyikan, dan menghindari perpecahan sesama jajaran Pemerintah. []

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Mendagri Laksanakan Ibadah Salat Jumat Pertama dengan Berpedoman Protokol Kesehatan

Image

News

Wabah Corona

Pemkab Belitung Berencana Aktifkan Lagi Kegiatan sekolah

Image

News

DPR RI

Peserta PKN LAN Pelajari Pola Penanganan COVID-19 dari Berbagai Negara

Image

News

Wabah Corona

FOTO Gelar Salat Jumat, Masjid At Tin Batasi Jumlah Jemaah

Image

News

PSBB Bodebek Diperpanjang Hingga 2 Juli 2020

Image

News

Boleh Salat Jumat Berjamaah di Al-Azhar, Jusuf Kalla: Alhamdulillah, Setelah Kita 12 Jumat Tidak Salat di Masjid

Image

News

Anies: Ingat, Ibadah Jamaah Tanpa Perhatikan Protokol Kesehatan Sering Jadi Salah Satu Sumber Kluster Penularan COVID-19

Image

News

Doni Monardo Umumkan Prakondisi Pembukaan Sembilan Sektor

Image

News

Jokowi: Alhamdulillah, Hari Ini Bisa Salat Jumat di Masjid Baiturrahim

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

AHY Unggah Foto Lawas Bersama Sang Istri, Warganet: Mirip Valentino Rossi

Langgeng selalu!

Image
News

Penjelasan Kepala BPKH Soal Isu Dana Haji untuk Memperkuat Rupiah

“Saya ingin meluruskan berita di media sosial yang beredar 2 Juni 2020."

Image
News

Mendagri Laksanakan Ibadah Salat Jumat Pertama dengan Berpedoman Protokol Kesehatan

Jamaah wajib membawa sajadah sendiri.

Image
News
Wabah Corona

Pemkab Belitung Berencana Aktifkan Lagi Kegiatan sekolah

"Tentunya akan disesuaikan dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang berkembang"

Image
News

Viral Video Ferdian Paleka Ngaku Betah di Dalam Penjara

Ferdian Paleka lebih betah didalem.

Image
News
Wabah Corona

UPDATE COVID-19 Per 5 Juni: Kasus Positif 29.521, Sembuh 9.443, Meninggal Dunia 1.770

Ada penambahan 703 orang untuk kasus positif COVID-19.

Image
News

BW Kritik KPK Soal Nurhadi: Kalau Dia Ada di Seputaran Jakarta dan KPK yang Pada Hari Ini Tak Mampu Ungkap, Itukan Masalah Besar

"Kira-kira ada pernyataan seperti itu dan sekitar 20 Februari kemudian ada pernyataan sebenarnya Nurhadi ada di suatu tempat tertentu."

Image
News
DPR RI

Peserta PKN LAN Pelajari Pola Penanganan COVID-19 dari Berbagai Negara

Pandemi ini berdampak sangat signifikan terhadap perekonomian Malaysia secara nasional.

Image
News

Tuding Adanya Permainan dalam Pemberian Upah, Buruh Bongkar Muat Bulog Gelar Demo

Pemberhentian ratusan buruh angkut ini, dikarenakan adanya perbedaan jumlah pembayaran yang diterima

Image
News

Penangkapan Perampok Indomaret Diwarnai Aksi Saling Tembak

Dalam aksi baku tembak tersebut dua Perampok tertembus timah panas di bagian kaki, satu orang lainnya berhasil kabur

terpopuler

  1. Pasca Operasi Bayi Tabung, Zaskia Sungkar Keluhkan Perut Kadang Sakit

  2. Bens Leo Soroti Ada 'Tepuk Tangan' Kekeyi di Lagu Keke Bukan Boneka

  3. Kekeyi Diduga Menjurus Pelanggaran Hak Cipta, Bens Leo Minta Pencipta Hingga Label Rekaman Turun Tangan

  4. Protes George Floyd: Pengamat Indonesia Sebut Donald Trump Bakal Kalah Besar di Pemilu 2020

  5. Gempa di Aceh Pagi Tadi Rusak Bangunan

  6. Video Mahasiswa Unjuk Rasa Tuntut Jokowi Mundur di Tengah Pandemi Dipastikan Hoaks

  7. Kisah Pemuda Singapura yang Positif COVID-19, Diisolasi 68 Hari dan Jalani Tes Swab 22 Kali

  8. Tidak Diberi Kesempatan Bicara Soal PSBB, Wagub Riza Sesekali Terlihat Main HP 

  9. Deddy Corbuzier Akhirnya Blak - Blakan Soal Rencana Nikahi Sabrina Chairunnisa

  10. Meski Putusan PTUN Tak Memerintahkan, Anggota DPR Ini Tetap Desak Presiden Minta Maaf

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Ujang Komarudin

Milenial Reform

Image
Dewi Kartika

Inspirasi dan Legacy Prof Sediono Tjondronegoro untuk Petani

Image
Achmad Fachrudin

Jebakan Kampanye Virtual di Pilkada 2020

Image
Imam Shamsi Ali

Rasisme Itu Dosa Asal Amerika

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Bikin Bangga, Mantan Stafsus Presiden Jokowi Terpilih Menjadi Alumni Terbaik Harvard University

Image
News

Kisah Raeni, Anak Tukang Becak yang Kini Sukses dari Unnes hingga Raih Beasiswa S3 di Inggris

Image
News

Ngopi di Teras hingga Main Bareng Cucu, 6 Potret Santai Bamsoet saat di Rumah