image Banner Idul Fitri
Login / Sign Up
Image

UJANG KOMARUDIN

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.

COVID-19 dan Kita

Image

Petugas kesehatan dengan pakaian full cover suit beraktivitas di dalam Gedung Pinere, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, Rabu (4/3/2020). Rita menjelaskan, seluruh pasien merupakan rujukan dari rumah sakit penyakit infeksi Dr Soelianti Soeroso, karena sesuai kesepakatan jika pasien di RS Soeroso sudah penuh maka akan dirujuk di RSUP Persahabatan. | AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

AKURAT.CO, Solidaritas kita sebagai anak bangsa sedang diuji. Diuji dengan penyebaran COVID-19 (Virus Corona), yang makin hari makin menjadi. Per kemarin saja, yang terinfeksi sudah 1.667 orang, 103 sembuh, dan 157 meninggal dunia. 

Itu data dari jubir Corona pusat. Jika mengikuti data yang telah dipublish Anies, di Jakarta, dalam sebulan saja, yang meningal dunia sudah 283 orang. 

Ini aneh dan membingungkan. Aneh bin ajaib. Angka pemerintah pusat, dengan angka pemprov DKI Jakarta, sangat jauh berbeda, terkait yang meninggal dunia karena Corona. Jika pemerintah pusat, tidak kompak dengan pihak pemprov DKI Jakarta dan dengan pemda-pemda lain, bagaimana persoalan Corona akan bisa dibasmi dengan cepat. 

baca juga:

Jika kita bicara keseriusan pemerintah pusat, baru dua hari yang lalu pemerintah pusat, mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Presiden Jokowi langsung, yang mengumumkan kebijakan tersebut. Bahkan langsung dikeluarkan PP dan Kepresnya untuk mempercepat penanggulangan Corona.

Awalnya darurat sipil, yang akan dikeluarkan pemerintah, sebagai peluru untuk menanggulangi penyebaran Corona. Tapi karena banyak ditolak publik dan dikritik banyak kalangan. Akhirnya presiden tak jadi mengeluarkan kebijakan darurat sipil. Yang dikeluarkan darurat kesehatan masyarakat, dengan cara memberlakukan PSBB secara ketat. 

Mengapa COVID-19 membuat pejabat kebingungan. Rakyat kesusahan. Dan publik kepayahan. Disaat kasus COVID-19 belum menyebar seperti saat ini. Pemerintah terkesan santai dan lambat dalam merespons dan memerangi Corona yang masuk ke Indonesia. Ketika sudah menyebar, pemerintah kebingungan dan kelimpungan dalam menanggulanginya. 

Ketika himbauan pemerintah pusat, terkait kebijakan tinggal di rumah dan menjaga jarak tidak diindahkan oleh sebagian masyarakat, dan penyebaran Corona semakin luas, walaupun dianggap terlambat, pemerintah mengeluarkan kebijakan PSBB dan kompensasi bagi rakyat yang terdampak. Paket kebijakan ekonomi pun dikeluarkan, agar rakyat tetap bisa makan, dan agar ekonomi tidak limbung. 

Akhir-akhir ini, solidaritas kita sedang diuji dalam menangani dan memerangi Corona. Kita tak bisa banyak berharap pada pemerintah pusat, provinsi, maupun pemerintah kabupaten/kota. Dan kita tak bisa dan tak boleh berpangku tangan kepada mereka. 

Memang kewajiban mereka, untuk memanusiakan manusia. Membantu rakyat yang terinfeksi Corona. Dan menolong mereka, yang makin hari makin susah, karena penyebaran COVID-19 yang sulit dibendung. 

Sudah menjadi tugas negara, dan kewajiban pemerintah daerah, untuk membantu rakyatnya yang terkena Corona. Namun tak bisa juga, kita hanya berdiam diri menunggu uluran tangan mereka. 

Tangan pemerintah sudah pasti terbatas. Anggaran juga terbatas. Sedangkan rakyat yang berhak ditolong sangat banyak. 

Oleh karena itu, menumbuhkan kemandirian menjadi sikap utama dari pribadi-pribadi kita, untuk melawan dan memerangi Corona. Dan membangun sikap gotong royong, juga akan menjadi anti body untuk membendung dan menghalangi penyebaran Virus Corona yang begitu cepat.

Kuncinya pengendalian diri kita. Kesadaran diri, sikap positif, optimisme, dan kemandirian yang berujung pada sikap solidaritas bersama, untuk saling menjaga satu sama lain. 

Jika sikap kemandirian kita kembangkan. Dan gotong royong kita jalankan. Maka, kita tak perlu himbauan dan aturan dari pemerintah. Karena dengan sendirinya, rakyat memiliki kesadaran yang tinggi, untuk menjaga kesehatan masing-masing. Pemerintah hanya tinggal duduk manis. 

Saya tiap hari, dihubungi oleh teman-teman media, terkait persoalan Corona. Saya memang bukan ahli virus. Dan bukan juga ahli COVID-19. Namun pertanyaan wartawan membuat saya gregetan. Karena kebanyakan mereka, bertanya Kebijakan Pemerintah yang lambat terkait penanggulangan penyebaran Virus Corona.

Kita semua sedang diuji dengan Corona. Presiden, menteri, para anggota DPR sedang diuji kepeduliannya. Rakyat sedang diuji dengan kesabarannya. Orang miskin diuji dengan penderitaannya. Kita semua sedang diuji dengan kesulitan masing-masing. Bertahanlah, esok pasti akan lebih cerah. 

Saat ini banyak rakyat yang menderita karena Corona. Banyak yang tak bisa jualan. Karena pembeli sepi. Banyak yang tak dapat penumpang. Karena masyarakat banyak di rumah. Corona telah membuat masyarakat hidup makin sulit dan terhimpit.

Justru disaat pandemi COVID-19, menggurita penyebarannya seperti saat ini. Disinilah solidaritas kita diuji. Sejauh mana kita memiliki kepedulian kepada sesama anak bangsa. 

Diam atau bekerja di rumah. Bukan berarti kita berdiam melihat penderitaan, mereka yang meninggal dunia dan yang terinfeksi Corona. Di rumahlah kita membangun dan membentuk solidaritas itu. 

Berdoa, membantu sesuai kemampuan dengan cara berdonasi, lalu membentuk gugus tugas di lingkungan masing-masing, agar Corona tak masuk ke lingkungannya. Ini sudah menjadi bagian dari pembentukan solidaritas untuk membantu sesama.

Tak boleh kita egois. Tak boleh kita hanya mementingkan diri sendiri. Tinggal di rumah. Lalu memborong kebutuhan pokok banyak-banyak, sehingga orang lain kehabisan. Menimbun masker, sehingga yang lain tak kebagian. 

Di saat sulit seperti inilah. Solidaritas kita diuji. Betulkah kita ini sebagai bangsa penolong. Atau menolong ketika ada kepentingan. Betulkah kita ini sebagai makhluk tuhan, yang memiliki solidaritas tinggi. Atau kita berjuang hanya untuk kepentingan pribadi.

Bangsa ini tak pernah kekurangan orang baik. Banyak anak bangsa yang berjuang ikhlas, untuk menolong mereka yang terkena Corona. Mereka bukan hanya mengorbankan jiwa dan raga. 

Tetapi nyawa. Ya, nyawa. 

Lalu apa yang telah kita berikan untuk bangsa ini. Apa yang telah kita perbuat untuk masyarakat yang terpapar Corona. Apa yang telah kita sumbangkan untuk memutus mata rantai dan memerangi Corona.

Kita ini sedang perang total. Ya, perang total melawan Corona. Musuh kita tidak kelihatan. Tetapi nyata dan ada. Oleh karena itu, dibutuhkan solidaritas antar sesama anak bangsa untuk membasmi dan memerangi Corona. 

Tak boleh kita kalah dari COVID-19. Dan tak boleh juga negara atau pemda lemah dalam melawan Corona. Sinergitas dan solidaritas dari pemerintah pusat, pemda, dan masyarakat, akan menjadi kekuatan yang besar dalam melawan wabah Corona. 

Perang total melawan COVID-19 harus kita menangkan. Agar kita bisa hidup normal kembali. Kita jangan berlama-lama dalam kondisi seperti ini. Mari kita jaga diri kita, keluarga, lingkungan, dan bangsa ini dari serbuan Virus Corona

Jihad kita hari ini adalah tinggal di rumah. Bekerja di rumah. Mungkin terasa membosankan. Namun ini harus kita lakukan. Jihad melawan Corona bisa dilakukan dari rumah. Solidaritas sosial juga bisa dilakukan di rumah. Dan rumah bisa menjadi benteng pertahanan yang kokoh dan kuat, untuk membendung serangan Virus Corona yang terus menggila.[]

Editor: Melly Kartika Adelia

berita terkait

Image

News

Wabah Corona

3 Syarat Utama Penerapan New Normal, Angka Penularan Harus Rendah

Image

Ekonomi

Wabah Corona

Komisi IX Akan Awasi Pembayaran THR Melalui Metode Cicilan

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Akibat Pandemi COVID-19, Taman Bermain Jepang Keluarkan Panduan Bersama

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

Harus Terapkan Protokol Kesehatan, Destinasi Riau Akan Kembali Dibuka

Image

Ekonomi

PPI Siap Jalankan Proses Bisnis Sesuai Protokol New Normal

Image

News

DPR RI

'New Normal Life' Jadi Tantangan Baru untuk Berkarya dengan Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

Image

Olahraga

NBA 2019-2020

NBA Pertimbangkan Gunakan Fase Grup untuk Lanjutkan Kompetisi

Image

rahmah

Wabah Corona

Bagaimana Hukum Salat Memakai Masker karena Pandemi COVID-19?

Image

Gaya Hidup

Wabah Corona

FOTO Mengingatkan Bahaya COVID-19 Melalui Mural

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Wabah Corona

3 Syarat Utama Penerapan New Normal, Angka Penularan Harus Rendah

Presiden Joko Widodo juga menegaskan bahwa penerapan New Normal akan dilakukan jika beberapa syarat telah terpenuhi

Image
News
Wabah Corona

SIKM Syarat Masuk Jakarta, Simak Penjelasan Berikut Ini

JakEVO akan mengirimkan email kepada penjamin atay penanggung jawab untuk melakukan validasi.

Image
News
Wabah Corona

SOP Transportasi Era New Normal di DIY Sasar Angkutan Publik dan Daring

Jam operasional Trans Jogja di saat era new normal mulai dikurangi. Hanya melayani sedari pukul 06.00-18.00 WIB saja.

Image
News
Wabah Corona

Tanggapi Menko Perekonomian Soal New Normal, Said Didu: Harusnya Mengutamakan Penyelamatan Rakyat bukan Coba-coba

Pilihan terbaik agar ekonomi tak ambruk.

Image
News

Bantah Ada Kedinasan yang Tunjangan Tidak Dipotong, BKD DKI: Tidak Benar, Itu Isu Sesat

Jadi bukan dinas yang dilihat. Yang dikecualikan itu diatur dalam pergub.

Image
News

BNN Sita Ratusan Kilo Gram Narkoba di Bekasi

Tim BNN melanjutkan penggeledahan ke sebuah gudang, dan ditemukan ratusan ribu butir pil ekstasi

Image
News

Tak Berizin, Ratusan BBM Bersubsidi Disita Polisi di Manggarai Barat

Pelaku dan sejumlah barang bukti, ujar dia, sudah dibawa ke Polres Manggarai Barat untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya.

Image
News

Sekda Kabupaten Agam Diperiksa Polisi Soal Dugaan Pencemaran Nama Baik Anggota DPR

"Laporan masuk dan kami lakukan pemanggilan saksi untuk pemeriksaan," kata dia.

Image
News
DPR RI

'New Normal Life' Jadi Tantangan Baru untuk Berkarya dengan Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

Mematuhi aturan sehingga terjalin kerjasama baik penerapannya sehingga akan mampu untuk saling melindungi.

Image
News

DKI Tetapkan 13 Juli Hari Pertama Sekolah, Rustam: Perlu Waktu Meyakinkan Anak-anak Kenakan Masker dan Jaga Jarak

Perlu waktu untuk meyakinkan anak-anak disiplin pakai masker, disiplin menjaga jarak di dalam kelas

terpopuler

  1. Sudah Tertangkap, Penyebar Video Porno Mirip Syahrini Terancam 12 Tahun Penjara

  2. Syahrini Lapor Polisi, Ayah Angkat Langsung Hapus Postingan

  3. Asisten Rumah Tangga dan Mahasiswa yang Terlanjur Mudik Dipastikan Tak Bisa Balik ke Jakarta 

  4. Syahrini dan Penyebar Video Porno Akan Dipertemukan Hari Ini

  5. Yuk Mulai Tanam Singkong dan Ubi Jalar di Pekarangan Rumah dan Kantor

  6. Setelah 2 Hari Zero Case, DIY Kembali Umumkan Penambahan Pasien Positif COVID-19

  7. Israel Aneksasi Tepi Barat, Menlu Retno Tegaskan Posisi Indonesia Soal Palestina kepada Menlu Amerika

  8. Idaman, 5 Desain Rumah Kayu Ini Elegan dan Eksotis

  9. 14 Tahun Berlalu, 5 Potret Kenangan Tragedi Gempa Jogja 27 Mei 2006

  10. Thuram: Di Luar Sepakbola Orang tak Diperlakukan dengan Setara

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Andi Rahmat

Perekonomian Indonesia di Bawah Bayang-bayang Gelombang Perubahan Dunia (Bagian Kedua)

Image
Andi Rahmat

Perekonomian Indonesia di Bawah Bayang-bayang Gelombang Perubahan Dunia (Bagian Pertama)

Image
Sunardi Panjaitan

Idulfitri 2020: Antara Covid-19 dan Tradisi

Image
Zainul A. Sukrin

Merayakan Negara yang Keluar dari Tempurung

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Jarang Tersorot, 6 Potret Hangat Anies Baswedan Bersama Putrinya

Image
News

7 Pesona Menawan Soraya Muhammad Ali, Istri Zulkifli Hasan yang Awet Muda

Image
News

Romantis Abis! Intip 6 Gaya Pacaran Anak Tommy Soeharto, Darma Mangkuluhur Hutomo