Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Itho Murtadha

Penulis dan pemerhati sosial.

Alturisme

Kolom

Image

Petugas membawa warga di bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu (15/2/2020). Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengimbau masyarakat Indonesia agar tidak khawatir dan menerima kepulangan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China ke keluarganya setelah menjalani masa observasi di Natuna, Kepulauan Riau. | AKURAT.CO/Darma Wijayanto

AKURAT.CO, Musibah, di samping membawa luka, juga selalu memberi kabar: Ada kebajikan universal yang tak pernah bisa dikubur oleh kapitalisme.

Menyaksikan video yang menayangkan momen kembalinya para dokter dan perawat di Wuhan (ibukota provinsi Hubei di China) ke daerahnya masing-masing, setelah serangan virus-mematikan Covid-19 menyerbu mereka, membuat air mataku meleleh. Saya benar-benar terharu. Tidak saja betapa mereka telah berjuang mati-matian untuk melawan Covid-19, tetapi juga bagaimana, justru di titik nadir harapan hidup mereka, terbit kebajikan: altruisme.

Wuhan, dan China secara umum, telah menunjukkan diri sebagai pemenang. Mereka adalah bangsa yang tak kenal kalah. Musibah tak disambut dengan kepasrahan. Memang tak sedikit yang meninggal. Tetapi, di tengah kekalutan akan begitu 'sadisnya' virus itu membunuh manusia, bangsa China telah memperlihatkan patriotisme yang tak kenal lelah. Mereka menunjukkan diri sebagai bangsa yang pernah memiliki jejak peradaban dan kebudayaan yang luhur; sebagai bangsa para kesatria.

baca juga:

Tentu saja para dokter dan perawat adalah garda terdepan teladan kebajikan ini. Mereka tak kenal lelah melawan Covid-19. Tak peduli siang, tak peduli malam, mereka berjibaku mengurusi pasien. Menyelamatkan nyawa tiap manusia. Menyelamatkan kemanusiaan. Ada yang tak pernah pulang rumah; ada yang tak pernah beristirahat pulas hingga berhari-hari; ada yang hanya bisa mengintip anak dan keluarga mereka dari kejauhan; dan bahkan ada yang harus meregang nyawa. Itu semua dilakukan demi satu: kemanusiaan.

Fukuyama

Dua puluh delapan tahun lalu, ketika pertama kali melaunching karya-fenomenalnya The End of History and The Last Man, Francis Fukuyama boleh sesumbar menyatakan: dunia akan berakhir dengan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal. Tetapi ada yang alpa dari ingatan Fukuyama, bahwa dunia tak pernah berjalan dengan linear. Tidak ada yang namanya determinisme historis--ala Hegelian. Sejarah, dan kehidupan global, akan berjalan dalam logika yang unpredictable. Tak ada yang pasti. Tak ada yang benar-benar bisa ditebak dengan pasti.

Fukuyama mungkin tak pernah menduga bahwa: hanya butuh waktu sekejap bagi Covid-19 untuk menghancurkan kapitalisme dan segala kepongahannya. Modernitas sebagai simbol kemajuan masyarakat kapitalis dibuat tak berkutik oleh Covid-19. Tiba-tiba semuanya tak berarti. Tidak gedung-gedung bertingkat. Tidak teknologi supermaju (high tech). Tidak mall-mall dan pusat keramaian lainnya. Tidak pula kemewahan lifestyle yang ditawarkan.

Masyarakat-dunia tiba-tiba tak peduli dengan semua itu. Gedung-gedung bertingkat menjadi kosong melompong. Pusat-pusat keramaian yang saban hari disesaki oleh perjumpaan antar-manusia mendadak sepi. Orang-orang yang sebelumnya hanya merasa 'berkelas' bila bertemu di mall, tiba-tiba menjadi takut. Menjauhinya. Lifestyle sebagai kredo dasar manusia-sosialita menjadi kehilangan makna. Di hadapan Covid-19 kesemua itu tak lebih dari kemajuan yang menyedihkan. Modernitas yang muram.

Yasraf A. Piliang menyebut Covid-19 sebagai pelecut gejala deglobalisasi. Kapitalisme, yang tegak di atas payung globalisasi, tiba-tiba lumpuh. Ia mengalami titik balik yang menakutkan. Sihir keniscayaan globalisasi yang banyak diuraikan oleh para pakar--di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, di seminar-seminar--tiba-tiba tertutup oleh masker bernama Covid-19. Puja-puji atas globalisasi sebagai satu-satunya jalan untuk memakmurkan dunia tiba-tiba runtuh.

Yang terjadi justru adalah lock-down. Negara-negara di dunia tiba-tiba takut dengan apa saja yang berbau globalisasi. Mereka ramai-ramai memportal, mengunci, negaranya dari yang lain. Semua warga asing 'dicurigai'. Tak diberi izin masuk. Pun begitu peredaran barang. Benar-benar diseleksi. Dan hanya diprioritaskan pada barang-barang kesehatan. Dunia berada dalam "isolasi-diri yang masif", kata Yasraf.

Fokus manusia menjadi berubah. Manusia menjadi lebih sosial. Individualisme (yang narsistik) sebagai ciri masyarakat kapitalistik, justru terjungkal saat Covid-19 memporak-porandakan China (kita tahu persis, China pada akhirnya tak tahan dengan kemilau kapitalisme).

Warga China--dan tentu saja negara-negara lain yang diserbu oleh Covid-19--menjadi sadar bahwa ada hal yang jauh lebih penting untuk diselamatkan ketimbang memperdebatkan segala atribut kehidupan. Kesadaran mereka melampaui agama. Apalagi suku dan tempat tinggal. Mereka menjadi sadar bahwa virus ini tak bisa dikalahkan dengan berpikir 'sendiri-sendiri'. Dan sebaliknya, ia hanya bisa dikalahkan dengan kebersamaan. Dengan solidaritas yang tulus.

Individualisme mati justru di jantung kekuasaannya sendiri. Ia kehilangan para pemujanya. Selepas Covid-19, kita menyaksikan begitu banyak wajah-wajah religius nan teduh, dalam banyak agama. Mereka muncul sebagai malaikat yang datang menyelamatkan kemanusiaan dengan altruisme yang berkobar-kobar. Mereka datang menyelamatkan kemanusiaan dari individualisme yang bengis.

Hidup, tentu saja, tak sekadar dicipta untuk memuja diri dan kepentingan-diri (individualisme).

Indonesia

Di Indonesia, hari pertama kasus Covid-19, disambut dengan histeria massal. Masyarakat terkejut. Dan panik. Sayangnya, kepanikan ini tidak berhasil menyublim solidaritas. Ia tak berhasil mengikat warga dalam aksi-bersama yang nyata.

Akibatnya apa? Energi bangsa kemudian habis untuk meributkan soal yang tak substansial; soal yang tak dimengerti oleh 'bahasa' kaum awan di pelosok negeri. Kebijakan yang tepat apakah lockdown atau tidak? Kendali penanganan Covid-19 di Ibukota Jakarta ada di Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Pusat?

Atau yang lebih menggelitik lagi: Benarkah atau tidak anjuran pemerintah untuk tidak salat jumat di masjid, selama Covid-19 ini mewabah?

Media-media massa, baik itu televisi, radio, koran, kemudian ramai memperdebatkannya. Juga di media sosial: Facebook, WhatsApp, Twitter, dan lain sebagainya. Para ustaz (anti sains) memprotesnya. Kemudian diklarifikasi oleh pemerintah (melalui MUI). Tak ketinggalan, sebagian ustaz (yang pro-sains) turut memberi penjelasan. Begitu bolak-balik. Di protes. Diklarifikasi. Di protes. Diklarifikasi.

Padahal, jauh di pojok kesunyian yang memilukan, para dokter dan perawat tengah bekerja mengobati pasien. Di bilik-bilik ruang isolasi, dengan berurai air mata, mereka tengah berjuang menyelamatkan nyawa manusia. Satu demi satu. Mereka tak pernah tahu perdebatan itu. Mereka tak tahu politik. Juga agama. Tak peduli suku. Bagi mereka manusia adalah manusia. Tak penting apa haluan politiknya, apa agamanya, apa sukunya, apa warna kulitnya. Mereka semua wajib untuk diselamatkan.

Para dokter dan perawat tengah mengamalkan laku altruisme yang paling murni. Sebagian di antara mereka mungkin tak pernah mengenal Muhammad SAW karena terlahir Kristen. Tetapi di bilik isolasi, tak ada umat Muhammad. Tak ada pengikut Kristus. Tak ada penganut Buddha. Dan lain sebagainya. Yang ada adalah manusia, yang dicipta Tuhan dari segumpal tanah yang sama.

Para dokter dan perawat--dalam diam--juga tengah mengamalkan laku yang mengkritik keberagamaan yang egoistik. Laku para nabi. Laku yang tak mengorbankan nyawa orang lain demi ritualisme kepada Tuhan. Laku yang mengabdi kepada kemanusiaan.

Para dokter dan perawat bahkan rela menukar nyawa mereka dengan pasien yang sama sekali mereka tidak kenal. Di hari kesekian, sejak Covid-19 muncul di Indonesia, telah berapa dokter dan perawat yang menemui ajal. Mereka tak sempat bertanya apa agama pasien? Dari mana mereka berasal? Suku apa mereka? Yang ada di pikiran mereka adalah, bagaimana dengan peralatan medis yang ada, mereka bisa menyelamatkan nyawa pasien.

Kemanusiaan di atas segala-galanya.

Jadi, bagi saya, hari-hari kini dan ke depan: usailah kita berdebat. Tinggalkanlah semua itu. Mari kita susun agenda-bersama untuk melawan virus-mematikan ini. Kemanusiaan tak cukup diperdebatkan. Agama mutlak mewujud pada tindakan yang nyata.

Kita bisa belajar dari negara-negara lain. Mereka bisa melewati masa-masa menyedihkan ini dengan kekuatan yang tak berbilang. Mereka bisa membuktikan bahwa dengan solidaritas yang tak terperi, musibah ini bisa diakhiri.

Dan juga, kelak, agar kita tak dikata-katai: Akh, kamu tak lebih dari seorang pembual. Pengkhotbah altruisme yang sering lupa mengamalkannya.

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Demokratisasi di Tengah Badai Pandemi

Image

News

Mengukuhkan Persaudaraan Sosial

Image

News

Menjual Tubuh

Image

News

Organisasi Penggerak Pendidikan

Image

News

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul

Image

News

Penentu Sukses Pilkada di Masa Pandemi

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

Image

News

Kolom

New Normal dan Mengerucutnya Oligarki

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Banjir Rendam 49 RT di Jakarta, Warga Diungsikan

Jakarta Barat sebanyak 14 RT yang terendam banjir dengan ketinggian 10 hingga 80 cm.

Image
News

Sindir KAMI, Ferdinand: Desak Pemerintah Tunda Pilkada, tapi Ormas Ini Selalu Buat Kerumunan

Ferdinand menilai KAMI kerap membuat kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Image
News

Prakiraan Cuaca, Sejumlah Wilayah di Jakarta Bakal Diguyur Hujan Siang dan Malam Hari

BMKG memprediksi hujan ringan akan mengguyur wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur pada siang hari.

Image
News

Daftar 30 Ruas Jalan di Jakarta Barat yang Terendam Banjir

30 ruas jalan umum di Jakarta Barat terendam banjir dengan ketinggian 30-80 sentimeter.

Image
News

Lokasi SIM Keliling DKI Jakarta Selasa 22 September 2020

Layanan SIM Keliling Jakarta dibuka dari pukul 08.00 hingga pukul 14.00 WIB.

Image
News

22 RT di Jakbar Masih Terendam Banjir, Ini Daftarnya

BPBD)DKI Jakarta mengungkapkan sebanyak 22 RT di Jakarta Barat terendam banjir dengan ketinggian bervariasi 30-80 sentimeter.

Image
News

Junimart Girsang: Pesta Demokrasi Tidak Boleh Ditunda Hanya Karena Covid-19

Oleh sebab itu Pilkada sebaiknya tidak ditunda

Image
News

MAKI Bakal Gugat KPK Jika Kasus Skandal Djoko Tjandra Tak Diambil Alih

Makanya dia minta kasus ini diambil alih KPK

Image
News

Rustam Ibrahim: Pilkada Minta Ditunda, Tapi Acara Deklarasi Dibiarkan

Harusnya konsisten

Image
News

Bali Siapkan 10 Hotel Lagi Untuk Karantina Pasien Covid-19

10 hotel ini akan dikelola langsung oleh Pemda

terpopuler

  1. Saidiman: Pelajaran Agama Perlu Dihapus dari Kurikulum Sekolah Negeri

  2. Kalau Pilkada Dilaksanakan di Tengah Pandemi, KAMI: Jokowi Ingkar Janji

  3. Karier 6 Zodiak Ini Cemerlang di Sisa Akhir 2020, Selamat Ya!

  4. Suasana Malam Yogyakarta di Masa Pandemi Tampak Ramai, Warganet: Ngeri... Ngeri...

  5. Sindir Kepala Daerah, Teddy Gusnaidi: Kegedean Bacot di Media, tapi Tidak Punya Nyali

  6. Habisi Burnley, Leicester Puncaki Klasemen Liga Primer Inggris

  7. Gagal Bujuk PBB Jatuhkan Sanksi ke Iran, AS Terancam 'Dikucilkan Maksimal'

  8. 5 Nama Anak Artis Unik Banget, Anakku Lelaki Hoed hingga Air Rumi Akbar 1453

  9. BMKG Duga Dentuman Misterius di Jaksel dan Jaktim Bersumber dari Gunung Salak

  10. 5 Serba-serbi Madiun, Pusat Salah Satu Perguruan Pencak Silat Tertua di Indonesia hingga Miliki Pabrik Kereta Api

fokus

Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi
Tokopedia Dorong Digitalisasi UMKM dan Inklusi Keuangan

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Kerjasama Tim, Inkonsistensi Kebijakan dan Covid-19

Image
Khalifah Al Kays Yusuf dan Tim Riset ALSA

Dampak Kebijakan PSBB Terhadap Hak Pekerja

Image
Dr. Arli Aditya Parikesit

Pandemi COVID-19 dan Bencana Ekologis Planet Bumi

Image
Dr. Abd. Muid N., MA

Dilema Mayoritas-Minoritas dalam Islam

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Pesona Mutiara Annisa Baswedan dengan Rambut Pendek, Lebih Fresh!

Image
News

5 Potret Pramono Anung saat Bersepeda, Capai Puluhan Kilometer!

Image
News

5 Potret Annisa Yudhoyono saat Berhijab, Pesonanya Terpancar!