Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Achmad Fachrudin

Pengajar di Fakultas Dakwah Institut PTIQ Jakarta

Kaum Miskin di Tengah Badai Virus Corona

Kolom

Image

Aktivitas jual beli di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Sabtu (21/3/2020). Pasokan pangan menjadi hal yang paling krusial bila lockdown diberlakukan untuk menekan penyebaran virus Corona. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pasokan pangan harus menjangkau rumah tangga bukan ke pasar. Kalau kondisi normal pasokan pangan sampai ke pasar induk, maka saat lockdown semua harus sampai ke rumah tangga. Saat isolasi terjadi, pangan sampai di setiap rumah yang diisolasi. Anies juga memastikan pasokan pangan Jakarta dalam kondisi aman hingga dua bulan ke depan. | AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

AKURAT.CO, Kawan saya seorang peneliti sosial menginformasikan berita di South China Morning Post dengan judul:  "Coronavirus: Poor Indonesian Families Most at Risk of Sudden Spike In infections". Artinya kurang lebih,  orang-orang  miskin  di Indonesia berada paling beresiko saat infeksi datang dengan lonjakan mendadak.  Judul berita tersebut mengirim sinyal kuat akan munculnya masalah lebih serius, lebih berat, kompleks dan berkepanjangan. Yakni: kemiskinan dan pengangguran yang akan makin akut.

Efek domino virus corona bukan hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga negara-negara lain. Data dari Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organizations/ILO) memperkirakan virus corona (covid-19),  akan menghilangkan 24,7 juta pekerjaan di dunia. Skenario rendahnya sebesar 5,3 juta. Adapun skenario pertengahannya sebanyak 13 juta pekerjaan. Dari total jumlah itu, 7,4 juta berada di negara-negara berpenghasilan tinggi.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikatnya menyebut,  pengangguran meningkat lebih buruk dari yang diperkirakan 70.000 menjadi 281.000 selama pekan yang berakhir 14 Maret 2020. Sementara di Cina, sebanyak  5 juta warganya kehilangan pekerjaan pada periode Januari hingga Februari 2020. Rilis Biro Statistik China menunjukkan angka pengangguran naik 6,2% per-Februari 2020 dari sebelumnya 5,3% di Januari 2020. Sebagian pihak bahkan memperkirakan angka ini seharusnya lebih tinggi.

baca juga:

Bagaimana dengan Indonesia?

Secara statitstik, persentase penduduk miskin menurut data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2019 sebesar 9,41 persen, menurun 0,25 persen poin terhadap September 2018 dan menurun 0,41 persen poin terhadap Maret 2018. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 25,14 juta orang, menurun 0,53 juta orang terhadap September 2018 dan menurun 0,80 juta orang terhadap Maret 2018.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 6,89 persen, turun menjadi 6,69 persen pada Maret 2019. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018 sebesar 13,10 persen, turun menjadi 12,85 persen pada Maret 2019.

Berdasarkan pada data Kamis (18/3/2020), angka pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19 di Indonesia mencapai 227 kasus dengan 19 kematian dan 11 pasien sembuh. Jumlah tersebut sangat mengejutkan dan mencengangkan masyarakat. Apalagi Indonesia disebut sebagai negara dengan presentasi kematian tertinggi yaitu: mencapai 8,37 persen, melebihi Italia yang mencapai 8,34 persen.

Memang belum ada data empirik dan valid, mengenai berapa prosentase dari jumlah pasien infektan virus corona atau yang meninggal dunia dicermati  dari sisi kategori dan status sosial-ekonomi atau penghasilannya. Namun diyakini, penyebaran virus corona tersebut bisa menimbulkan efek domino, terutama  pada meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan yang saat ini sudah cukup besar di Indonesia.

Berdasarkan data resmi BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 7,05 juta orang per Agustus 2019, dimana mengalami peningkatan dari tahun lalu. Akan tetapi secara persentase, TPT turun menjadi 5,28% dibandingkan tahun lalu yang sebesar 5,34%. Sedangkan tingkat kemiskinan menurut data BPS  pada Maret 2019 mencapai sebesar 25,14 juta orang, menurun 0,53 juta orang terhadap September 2018 dan menurun 0,80 juta orang terhadap Maret 2018.

Seperti biasanya data dari BPS merupakan data yang berhasil dihimpun secara statistik. Padahal, kasus pengangguran dan kemiskinan di Indonesia ibarat gunung es yang hanya terlihat di permukaan namun yang di bawah permukaan tidak terlihat, dan potensi jumlahnya jauh lebih besar. Dengan merebaknya virus corona, akan berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan, terutama yang tertutup.

Nelangsa Ekonomi

Faktor penyebab signifikan bakal mewabahnya pengangguran dan kemiskinan imbas virus corona dipicu oleh situasi dan kondisi perekonomian nasional yang saat ini tengah nelangsa. Menurut perkiraan ekonom Institute for Development of Economivs and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, ekonomi Indonesia berpotensi kehilangan Rp 127 triliun seiring dengan proses partumbuhan yang kian tertekan.

Khusus dari sektor pariwisata, seperti dikatakan  Ketua Umum Perhimpunan Hotel & Retoran Indonesia (PHRI), Hariyadi B. Sukamdani, kerugian akibat wabah virus corono atau Covid-19  dari awal Januari hingga Kamis (12/3/2020), mencapai 1,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 21 triliun.

Dampak nyata dari merebaknya virus corona adalah terhadap nilai tukar rupiah yang melemah 0,33% ke level Rp 15.222 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini (18/3/2020). Bahkan berpotensi menembus di level Rp 16.000-an per dolar AS. Pelemahan terjadi setelah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melebar. Di satu sisi, kasus virus corona di Tanah Air bertambah menjadi 227 orang.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), mata uang Garuda juga tercatat anjlok 140 poin ke level Rp 15.223 per dolar AS. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, data realisasi APBN 2020 menjadi sentimen negatif bagi pasar, sehingga rupiah melemah. Sementara pendapatan negara hanya Rp 216,6 triliun per bulan lalu atau turun 0,5% dibanding periode sama tahun lalu. Padahal, belanja negara mencapai Rp 279,4 triliun atau tumbuh 2,8% secara tahunan.

Sinyal kemungkinan terjadinya dampak negatif kian nyata ketika Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengingatkan perusahaan-perusahaan pelat merah untuk siap merugi, menyusul pada kondisi perekonomian dunia tengah terpuruk akibat Pandemi virus Corona (Covid-19) yang tengah mewabah saat ini. Hal tersebut dapat terlihat pada nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus merosot. Untuk mengatasi kerugian yang lebih fatal, Kementerian BUMN sudah melakukan stress test kepada BUMN yang diprediksi mengalami kerugian paling besar akibat pelemahan ekonomi. Dengan harapan agar BUMN tidak jatuh terlalu dalam.

Ironisnya lagi, Bank Indonesia (BI) melaporkan, virus corona yang telah mewabah sejak awal Januari 2020 lalu telah menyebabkan adanya dana asing yang keluar (capital outflow) dari Indonesia secara year to date hingga 4 Maret 2020 sebesar Rp 40,16 triliun. Angka tersebut naik drastis dari catatan BI sebelumnya pada 27 Februari 2020 yang sebesar Rp30,8 triliun (year to date). Hal ini dikatakan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam acara Seminar Infobank di Pullman Hotel, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Kondisi itu disebabkan lantaran para investor khawatir wabah virus corona semakin cepat meluas ke berbagai negara dan tak bisa ditebak kapan itu akan berakhir.

Jika perekonomian terus mengalami nelangsa, akan berdampak buruk terhadap percepatan pemulihan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan sebagainya. Jika ini terjadi, lagi-lagi yang terkena dampak paling terpukul adalah kalangan masyarakat yang berpenghasilan menengah-ke bawah. Pendek kata, pengangguran dan orang miskin diperkirakan bakal bertambah membludak seiring merebaknya virus corona atau Covid-19.

Kelompok Terpuruk

Tidak perlu menggunakan teori ekonomi rumit untuk menjelaskan dampak negatif merebaknya virus corona dipastikan bakal diterima oleh kaum miskin dan kaum pengangguran. Si miskin dan si pengangur merupakan kelompok paling terpapar dan sekaligus terpuruk.  Dengan kebijakan social distancing (pembatasan sosial) selama tiga bulan (hingga 29 Mei 2020) yang diterapkan pemerintah artinya meminta agar masyarakat beraktivitas, bekerja, beribadah atau belajar di rumah.

Kebijakan semacam ini boleh dikatakan ‘menguntungkan’ bagi mereka yang bekerja di sektor formal. Seperti pejabat pemerintahan, Aparatur Sipil Negara (ASN), Penyelenggara Negara,  non PNS namun mendapat gaji dari negara, karyawan swasta bonafid dan bergaji besar, dan lain-lain. Sebab tanpa harus bersusah payah datang ke kantor dan cukup beraktivitas di rumah, mereka akan mendapat penghasilan memadai.

Sebaliknya bagi mereka yang bekerja di sektor non formal dan kehidupannya bertumpu pada beroperasinya  perkantoran, pertokoan, pasar modern maupun tradisional, transportasi umum dan lain sebagainya dengan memperoleh gaji pas-pasan atau bahkan menjadi buruh harian, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.  Sangat mungkin kalangan ini tidak akan mendapat penghasilan sama sekali.

Padahal sebagai manusia yang masih hidup mereka tetap memerlukan biaya hidup untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok, terutama untuk makan dan minum yang harganya  terus mengalami pelonjakan. Jangankan untuk menyetok atau menyimpan barang kebutuhan pokok untuk kebutuhan beberapa bulan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang berduit, untuk bisa bertahan hidup di hari esok saja banyak yang mengalami kesulitan dan ketidakpastian. 

Sampai kapan atau berapa lama kalangan berpenghasilan rendah, pengangguran dan miskin dapat bertahan hidup? Dapatkah dipastikan dalam kurun waktu tiga bulan, virus corona secara total lenyap dan berarti masyarakat sudah bisa kembali hidup dan beraktivitas dengan aman dari gangguan virus mematikan itu? Andaikatapun di penghujung Mei 2020, virus corona lenyap dari bumi Indonesia, apakah setelah itu secara otomatis kehidupan kaum miskin dan pengangguran akan kembali normal, atau bahkan menjadi lebih baik?

Problem akan makin pelik ketika hal ini dikaitkan dengan perlindungan dan jaminan kesehatan. Misalnya untuk membeli masker atau hand sanitizer yang kian melambung. Pantauan di beberapa e-commerce, untuk satu pack masker standar isi 50 pieces yang sebelumnya dibandrol Rp 20 ribuan, kini hargnya melonjak menjadi Rp 500 ribuan. Sementara hand sanitizer 50ml yang semula harganya berkisar belasan ribu rupiah, kini meroket bisa menembus Rp 50 ribuan. Akibatnya bagi si miskin dan si penganggur, menjadi kelompok rentan untuk terpapar virus corona.

Tanggungjawab Semua

Mensikapi dampak virus corona yang berdampak kepada kehidupan sosial dan ekonomi, pemerintah tidak tinggal diam. Sejumlah jurus disiapkan dan akan dilakukan oleh pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani misalnya, mengklaim pemerintah akan mempercepat penyaluran bantuan sosial (Bansos) yang dispread 12 bulan. Transfer BOS langsung ke rekening sekolah Rp4 triliun, begitu juga Dana Desa langsung kepada desa. 

Sementara realisasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Januari 2020 tercatat telah disalurkan sejumlah Rp 7,06 triliun untuk 9,02 juta rumah tangga sasaran. Program kartu sembako telah dibagikan kepada 15,05 juta keluarga sebesar Rp1,8 triliun.  Menurut Menkeu, untuk penanggulangan bencana, sudah dibayarkan Rp21,8 miliar untuk 4 lokasi termasuk bantuan banjir, tanah longsor, dan bantuan masker untuk 10 ribu masker untuk penanganan virus corona.

Masih dalam semangat yang sama, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengeluarkan surat edaran kepada Direksi, Komisaris, dan Pengawas Perusahaan Pelat Merah untuk berpartisipasi dalam penanggulangan virus corona.Melalui surat edaran dengan nomor SE-1/MBU/03/2020, Menteri BUMN Erick Thohir meminta perusahaan BUMN untuk meningkatkan pengawasan internal terkait penyebaran virus corona atau Covid-19 dengan cara emberikan pelayanan publik untuk melakukan beberapa langkah khusus.

Dengan kebijakan social distancing atau lock down,  mungkin secara medis suatu ketika akan mampu menyetop total penyebaran virus corona. Namun secara sosial ekonomi, kelompok miskin dan pengangguran akan  jauh akan lebih sulit dan rumit penanganan dan penyelamatannya di tengah situasi ekonomi sekarang. Ini menjadi tanggungjawab kita semua, khususnya pemerintah pusat dan daerah untuk mengatasinya.[]

 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Komunisme dan Kearifan

Image

News

Demokratisasi di Tengah Badai Pandemi

Image

News

Mengukuhkan Persaudaraan Sosial

Image

News

Menjual Tubuh

Image

News

Organisasi Penggerak Pendidikan

Image

News

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul

Image

News

Penentu Sukses Pilkada di Masa Pandemi

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Dasco Blak-blakan Ingin Pensiun dari Gerindra karena Alasan ini

Ada beberapa kader Partai Gerindra yang memiliki pontensi.

Image
News

BMKG Prediksi Cuaca DKI Jakarta Cerah Sepanjang Selasa

BMKG memprakirakan cuaca di DKI Jakarta cerah dan cerah berawan sepanjang Selasa (29/9/2020).

Image
News

Lokasi SIM Keliling DKI Jakarta Selasa 29 September 2020

Layanan SIM Keliling Jakarta dibuka dari pukul 08.00 hingga pukul 14.00 WIB.

Image
News

Enam Pedagang Positif Covid-19, Pasar Ciplak Ditutup Tiga Hari

Lurah Karet Kuningan Endang Effendi menyebutkan penutupan pasar dimulai Senin hingga tanggal 30 September 2020.

Image
News

Terobosan Menata Kampung Jadi Alasan Warga Agar Eri Lanjutkan Bangun Surabaya

Eri Cahyadi selama ini concern melakukan penataan dan pemberdayaan kampung.

Image
News

Dor! Satu dari Tiga Begal HP di Jakarta Pusat Lumpuh

ATS melawan polisi ketika hendak ditangkap sehingga dihadiahi timah panas.

Image
News

Menko Perekonomian: Pemulihan Ekonomi Indonesia di Masa New Normal Mengarah Positif

Dapat mencegah perekonomian terkontraksi lebih dalam lagi dan mempercepat pemulihannya.

Image
News

Pengacara Kubu Tomy: Sidang Perdana Gugat MenkumHAM Digelar Selasa Pagi

Perjalanan sidang sengketa kepengurusan Partai Berkarya bakal berjalan menarik.

Image
News

Polri Tidak Akan Keluarkan Izin Nobar Film G30S/PKI

Polisi mempersilakan masyarakat untuk menyaksikan Film Pengkhianatan G-30-S/PKI di kediaman masing-masing.

Image
News

Kepatuhan Protokol Kesehatan Kunci Tekan COVID-19

Beberapa negara berhasil memutus mata rantai penyebaran COVID-19 dengan kepatuhan menerapkan protokol kesehatan.

terpopuler

  1. Doa Bagi Orang Tua, Agar Anak-anaknya Sukses Dunia Akhirat

  2. Ulang Tahun ke-73, 5 Potret Lawas Luhut Pandjaitan Tampak Gagah Sejak Muda

  3. Ardi Bakrie Selama Ini Biayai Hidup Keluarga Nia Ramadhani

  4. Ivan Gunawan Ngaku Sudah Lama Tak Komunikasi dengan Ayu Ting Ting

  5. Pengakuan Teddy Gusnaidi Pernah 'Hajar' Gatot Nurmantyo

  6. Perpanjang PSBB Ketat, Elektabilitas Anies Makin Anjlok

  7. Viral Anak Dibuang Orang Tua Disertai Surat dari Sang Ibu, Begini Faktanya

  8. 5 Fakta Penting Silvany Austin Pasaribu, Diplomat Muda yang 'Lawan' Vanuatu di Sidang Umum PBB

  9. Perantau dari Batam Salah Masuk RS di Jakarta, Biaya Pasien Covid-19 Dipatok Selangit

  10. Sindir Telak Anies Baswedan, Ketua DPRD: Jangan Tunggu Banjir Dulu Baru Kerja!

tokopedia

fokus

Webinar Akurat: Peran Strategis IJK
Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Komunisme dan Kearifan

Image
Dr. Abd. Muid N., MA.

Pandemi dan Pohon Khuldi

Image
UJANG KOMARUDIN

Pilkada yang Tak Ditunda

Image
Arif Hidayat

3 Cara untuk Anda Bisa Menjadi Karyawan Terbaik

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Gaya Presiden Jokowi Gowes Pagi, Tampil Keren dengan Sepeda Produk Lokal

Image
News

Cerita Cawagub Kaltara Undunsyah Raih Pendidikan, Tak Mampu Naik Pesawat Perahu pun Jadi

Image
News

Ulang Tahun ke-73, 5 Potret Lawas Luhut Pandjaitan Tampak Gagah Sejak Muda