Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Zainul A. Sukrin

Direktur Politika Institute

Membaca Hambatan Anies di 2024

Kolom

Image

Gubernur Anies Baswedan memberikan keterangannya kepada awak media usai mengunjungi warga terdampak banjir yang menggenangi pemukiman warga di kawasan Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (2/1/2020). Hari kedua dampak banjir di kawasan yang diarungi Sungai Ciliwung, khususnya di kawasan Kampung Pulo masih terendam air sekitar 70-100 cm. Namun saat ini air banjir mulai tersebut berangsur surut. | AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

AKURAT.CO, DKI Jakarta memiliki magnet politik yang kuat di Indonesia. Kebisingan politiknya di atas rata-rata daerah yang lain. Dari masalah remeh temeh sampai yang krusial seperti banjir, kemacetan, lingkungan dan lain-lain akan selalu menjadi menu utama dalam percakapan publik, terutama di media sosial. Maka bongkahan peluang dan tantangan di DKI Jakarta, sangat strategis untuk dikapitalisasi secara politik. Termasuk oleh Anies Baswedan sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta saat ini.

Membaca peluang Anies dalam Capres 2024 saat ini bukan hal yang prematur. Karena berkembang biaknya kritikan kebijakan dan kinerja Anies dalam menata Jakarta hari ini, syarat dengan status politiknya di 2024. Anies sangat berpeluang menang jika dicapreskan di Pemilu 2024.

Peluang keterpilihan Anies di pemilu 2024 cenderung dikuatkan oleh tidak adanya incumben, dan Anies padat dengan modal sosial. Jaringan dan daya rekat sosial Anies begitu kuat dan mengakar. Terutama dengan pemilih muslim (umat Islam). Pengaruh modal sosial Anies ini cenderung dapat mengikat modal politik, dan ekonomi.

baca juga:

Peluang Anies tersebut, lantas tidak membebaskannya dari hambatan yang signifikan terhadap keterpilihannya. Mengulas budaya dan sosiologi politik sangat penting membaca panggung politik nasional. Terutama budaya politik tradisional dan masalah transaksional politik.

Anies orang Arab

Ada tiga mitologi politik yang menjadi pra syarat keterpilihan di panggung politik Indonesia. Pertama, beragama Islam. Kedua, Militer. Ketiga, etnis Jawa. Terpilihnya Joko Widodo di pemilu tahun 2014 sebenarnya telah meruntuhkan mitos ini. Karena dari kalangan sipil (rakyat jelata) bisa keluar menjadi pemenang dalam pemilu.

Namun terpilihnya Joko Widodo tidak seluruhnya memusnahkan mitos ini. Terutama mitos etnis Jawa yang sangat kental lagi pekat dalam budaya politik Indonesia.

Anies yang bukan etnis Jawa akan sedikit kedodoran dalam pemilu di tahun 2024. Karena identitas politik etnis/kesukuan cenderung lebih kuat dibandingkan agama, masalah kemiskinan, dan ketertindasan dalam konteks masyarakat yang plural dan tradisional. Ego mayoritas atau dominasi etnis/suku Jawa dalam daftar pemilih akan melekatkan mitologi dan simbol politik dalam pemilu yang akan datang.

Hambatan ini sedapatkan mungkin direnungi oleh Anies. Mengelola hambatan politiknya ini sangat penting. Bukan tidak mungkin Anies yang orang Arab dapat meruntuhkan mitos politik yang masih bersarang dengan citra Anies sendiri.

Tidak Memiliki Kereta Politik

Harus diakui Anies tidak memiliki kereta politik atau partai politik. Hambatan ini tidak kalah seriusnya dengan mitologi politik Jawa di atas. Apalagi di tengah arus dan sistem demokrasi Indonesia yang multipartai dan liberal, ini akan menjadi batu sandungan yang utama.

Walaupun dalam sejarah Partai Nasional Demokrasi (NasDem) Anies merupakan bagian dari tokoh aktif yang berkecimpung saat NasDem belum menjadi partai politik. Dan Surya Paloh telah memberikan sinyal untuk mengusung Anies di 2024 pada November 2019 yang lalu. Bukan berarti Anies telah mengantongi kereta politik.

Transaksi kepentingan masih terbuka lebar dengan jeda waktunya cukup lama. Artinya Anies tidak diusung oleh NasDem tentu sangat mungkin terjadi. Apalagi saat Surya Paloh mencapreskan Anies bagian dari gertakan sambal untuk Megawati. Tujuannya melumasi tarik menarik kepentingan dalam penyusun Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin 2019-2024.

Jadi kesulitan Anies yang paling mendasar juga yaitu tidak adanya kereta politik di tahun 2024. Maka berbeda dengan Prabowo yang memiliki Geridra, Risma dan Ganjar yang memiliki PDIP, AHY memiliki Partai Demokrat, Airlangga di usung oleh Golkar, dan atau Nasdem sediri mengusung Surya Paloh di tahun 2024. Jadi Anies harus mematangkan langkah di tengah ketidakpastian kereta politiknya. Termasuk mendekat dengan PKS.

Anies Bukan Lagi Gubernur DKI Jakarta

Tidak bisa dipunggkiri, kecenderungan terpilihnya Anies sebagai presiden Indonesia 2024 nanti karena Anies sebagai gubernur DKI Jakarta saat ini. Dan jabatannya tersebut akan berakhir di tahun 2022. Kecemerlangan dan citra Anies saat ini cenderung dapat redup seketika, saat tidak menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta di tahun 2023-2024.

Kehilangan jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta bisa menjadi pukulan telak atas keterpilihannya di tahun 2024. Hambatan ini sebagai faktor yang menentukan, karena lawan politiknya Anies akan memanfaatkan peluang tersebut untuk menggusur elaktabilitas Anies saat ini. Apalagi skema UU Nomor 10 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 1 tahun 2015 tentang pemilihan kepala daerah (Pilkada), Pasal 201 dijadwalkan Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung Bulan November 2024. Jadi tidak adanya pilkada di tahun 2022 merupakan hasil kerja politik dari lawannya Anies.

Karena hanya karena masalah banjir di akhir pekan kemarin, elaktabilitas Anies kembali melambung tinggi. Modalitas politik sebagai gubernur DKI Jakarta menjadi faktor kuncinya dari Anies. Dan Anies akan kehilangan modalitas politiknya di tahun 2022. Hambatan ini sedapat mungkin dicetuskan alternatif yang dapat menjaga Anies agar tetap terjaga dalam frekuensi keterpilihannya. Termasuk menjaga modalitas Anies.

Jadi kematangan strategi dan kemantapan konsep politik yang mengusung Anies menjadi kunci dalam melewati habatan ini. Tentu hambatan-hambatan politik yang lainnya masih ada. Namun tulisan ini juga akan seperti balon yang meletus, jika terjadi Perubahan UUD 1945 tentang pemilihan Presiden Republik Indonesia melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) selesai di tahun 2023. Dan ini tidak hanya menguburkan harapan Anies, akan tetapi pemilu secara langsung di tahun 2024.[]

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Demokratisasi di Tengah Badai Pandemi

Image

News

Mengukuhkan Persaudaraan Sosial

Image

News

Menjual Tubuh

Image

News

Organisasi Penggerak Pendidikan

Image

News

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul

Image

News

Penentu Sukses Pilkada di Masa Pandemi

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

Image

News

Kolom

New Normal dan Mengerucutnya Oligarki

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Habiskan 30 Tahun, Pria India Seorang Diri Gali Saluran Air ke Desanya

Selama 30 tahun, Laungi Bhuiyan menggali saluran air sepanjang 3 kilometer seorang diri.

Image
News

Usai Dirazia, 9 Terapis Plus-plus Panti Pijat Temesis Langsung Dibina

Mereka terbukti menjajakan dirinya saat bekerja di panti tersebut

Image
News

Polsek Tambora Gelar Operasi Yustisi di Perlintasan Kereta Api Angke

Kegiatan ini merupakan atensi dari jajaran Polri

Image
News

Menkopolhukam Minta Parpol Arahkan Kadernya Patuhi Protokol Covid-19

Ini diharapkan bisa berjalan dengan baik

Image
News

Pemkot Depok Minta Tambahan Nakes COVID- 19

Tinggal menunggu restu gubernur

Image
News

Bosan Punya Suami Terlalu Pendiam, Wanita Malaysia ini Putuskan Bercerai

Sang istri yang baru satu tahun menikah merasa bosan dan memilih berpisah dengan suami

Image
News

Mendagri Larang Arak-arakan Saat Penetapan Paslon Pilkada

Jika masih melanggar akan ditindak

Image
News

Pemerintah Diminta Perhatikan Kebutuhan Dasar Masyarakat Selama PSBB Jilid II

Sandi pun mendorong pemerintah agar memberikan insentif.

Image
News

Ditlantas Polda Metro Jaya Luncurkan Aplikasi Si Ondel

Aplikasi Si Ondel dinilai dapat mempermudah masyarakat dalam membayar pajak kendaraan.

Image
News

Dituduh Mata-mata China, Polisi New York Diadili Pemerintah AS

Baimadajie Angwang disebut telah mengumpulkan informasi tentang segala aktivitas komunitas Tibet di New York selama 2018-2020.

terpopuler

  1. Viral Video Kelompok Maluku Bentrok dengan BPPKB, Kapolsek : Itu Hoaks

  2. Kwik Kian Gie Kutip Pernyataan UAS Soal Penanganan Covid-19

  3. Happy Hariadi ke Halilintar Anovial Asmid: Rangkul Anak Itu Kalau Kamu Paham Agama

  4. Baca Doa ini Agar Terhindar dari Virus Seperti Covid 19

  5. Menangis Sebelum Sidang Narkoba, Vanessa Angel Mengaku Depresi

  6. Sebelum Aniaya Bos Copet, Pelaku Pernah Ditusuk oleh Korban

  7. Tiga Petinggi PT Garuda Indonesia Diperiksa Penyidik Terkait Kasus Djoko Tjandra

  8. Sindir KAMI, Ferdinand: Desak Pemerintah Tunda Pilkada, tapi Ormas Ini Selalu Buat Kerumunan

  9. Rustam Ibrahim: Pilkada Minta Ditunda, Tapi Acara Deklarasi Dibiarkan

  10. 5 Drama Korea Romantis Terbaik yang Dibintangi Gong Yoo, Wajib Ditonton!

fokus

Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi
Tokopedia Dorong Digitalisasi UMKM dan Inklusi Keuangan

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Kerjasama Tim, Inkonsistensi Kebijakan dan Covid-19

Image
Khalifah Al Kays Yusuf dan Tim Riset ALSA

Dampak Kebijakan PSBB Terhadap Hak Pekerja

Image
Dr. Arli Aditya Parikesit

Pandemi COVID-19 dan Bencana Ekologis Planet Bumi

Image
Dr. Abd. Muid N., MA

Dilema Mayoritas-Minoritas dalam Islam

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Pesona Mutiara Annisa Baswedan dengan Rambut Pendek, Lebih Fresh!

Image
News

5 Potret Pramono Anung saat Bersepeda, Capai Puluhan Kilometer!

Image
News

5 Potret Annisa Yudhoyono saat Berhijab, Pesonanya Terpancar!