image
Login / Sign Up

9 Etika Pencari Ilmu Menurut K. H. Hasyim Asy’ari

Ahada Ramadhana

Image

Potret K. H. Hasyim Asy'ari | K.H. Abdurrahman Wahid

AKURAT.CO, Di samping wafatnya Santo Valentinus pada tahun 269 Masehi, sesungguhnya ada momen lain di tanggal 14 Februari yang rasanya lebih penting diperingati masyarakat muslim Indonesia. Sekitar 16 abad pascakematian sosok yang diperingati sebagai hari Kasih Sayang itu, lahirlah anak ketiga pasangan Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah di Jombang.

Bayi yang lahir pada era Islamic Revivalism, tepatnya pada 14 Februari 1871 ini, kelak memberi pengaruh besar di bidang pendidikan pada masyarakat Nusantara, melalui pendirian Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama. Sosok itu adalah K. H. Hasyim Asy'ari.

K. H. Hasyim Asy'ari yang sejak kecil telah akrab dengan lingkungan pesantren dikenal sebagai ikon pendidikan Islam tradisional. Semasa hidupnya, telah muncul paham maupun gerakan antikolonial, nasionalisme, bahkan pan islamisme (mempersatukan umat Islam di bawah satu negara Islam/kekhalifahan). Tema-tema diskusi di kalangan masyarakat kala itu telah bergeser dari bahasan langit menjadi realitas di bumi.

baca juga:

Dituturkan Fahruddin Faiz dalam Ngaji Filsafat edisi Pendidikan, Kiai Hasyim menyadari bahwa menguasai peradaban bukanlah lewat jalur militer atau politik, tetapi dengan ilmu pengetahuan, seperti yang ditunjukkan oleh peradaban Yunani pada abad ke-5 sampai ke-4 SM serta peradaban Islam yang cemerlang selama 800–1258 M.

Maka, ia begitu menekankan pentingnya pendidikan. Sebab, ilmu pengetahuan mampu mengantarkan pada kemanusiaan sehingga manusia dapat menempati level kemuliaan tertinggi sebagai makhluk.

Di antara inovasi yang pernah dilakukan Kiai Hasyim adalah menyetujui usulan putranya, Abdul Wahid Hasyim, untuk memasukkan ilmu-ilmu umum dalam kurikulum pesantren, meskipun awalnya menolak karena ditakutkan membuat keresahan di kalangan pendidik. Dengan pendirian Madrasah Nizamiyah pada 1934, persis nama madrasah yang didirikan tahun 1066 di Baghdad oleh Perdana Menteri Nizham al-Mulk dari Dinasti Seljuk, ilmu umum mendapat porsi 70 persen sehingga masa belajar di pesantren menjadi 6 tahun.

Dalam skripsi berjudul 'Madrasah Nizamiyah: Peranan K. H. Abdul Wahid Hasyim dalam Pembaharuan Pendidikan Islam di Pesantren Tebuireng (1934-1953)' oleh Asifa Nurfadilah, dituliskan, "Madrasah Nizamiyah didirikan dengan pertimbangan bahwa kurikulum pesantren yang hanya memfokuskan kepada ilmu-ilmu agama mengakibatkan santri mengalami kesulitan untuk bersaing dengan siswa yang mendapat pendidikan Barat. Kelemahan santri menurut Wahid Hasyim, disebabkan oleh lemahnya penguasaan pengetahuan umum (sekuler), bahasa asing, dan skill dalam berorganisasi. Dengan penguasaan ketiga komponen tersebut, santri akan mampu bersaing dengan mereka yang mendapatkan pendidikan Barat dalam menempati posisi di masyarakat. Untuk itu ia mendesain kurikulum madrasah tersebut dengan kurikulum yang tidak hanya ilmu-ilmu agama tetapi juga ilmu-ilmu umum, termasuk bahasa Belanda dan Inggris."

Sebagai seorang yang memberi perhatian besar dalam pendidikan, Kiai Hasyim menekankan kehati-hatian dalam memilih pendidik. Ia pun merumuskan setidaknya ada tujuh ciri pendidik berkualitas dalam kitabnya Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, yakni kamilat ahliyyatuh (profesional), tahaqqaqat syafaqatuh (penyayang), zaharat muru’atuh (berwibawa), ‘urifat iffatuh (menjaga diri dari hal yang merendahkan martabat), isytaharat shiyanatuh (berkarya), ahsan ta’lim (pandai mengajar), dan ajwa tafhim (berwawasan luas).

Dalam Ngaji Filsafat sesi lainnya dengan tema Scientific Attitude (Etika Pencari Ilmu), Fahruddin Faiz membahas bahwasannya sang kiai yang dikenal anti terhadap segala yang berbau Barat ini juga memberi perhatian pada urusan etika/akhlak. Ia berpendapat bahwa akhlak semestinya sudah terbentuk sebelum mencari ilmu agar ilmunya kelak bermanfaat, bukan sebaliknya, akhlak baru diberi saat seseorang sudah masuk di lembaga pendidikan.

"Akhlak dulu ditata, baru pelajari ilmu. Profesi apa pun, perilaku apa pun, dasarnya akhlak," pesan Fahruddin Faiz dalam ceramahnya.

Sementara itu, akhlak menurut Kiai Hasyim merupakan pijakan tauhid seseorang, berdasarkan penuturannya dalam kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim, "Sebagian ulama berpendapat bahwa tauhid mengharuskan adanya keimanan. Barang siapa tidak beriman, maka berarti dia tidak bertauhid. Iman mengharuskan adanya syariat. Barang siapa tidak bersyariat, maka dia tidak beriman dan juga tidak bertauhid. Syariat mengharuskan adanya akhlak. Barang siapa tidak mempunyai akhlak, maka dia bersyariat, tidak beriman, dan tidak bertauhid..."

Dalam kitab tersebut, seperti yang disarikan penceramah, disoroti kasus-kasus temuan Kiai Hasyim yang ternyata masih terjadi hari ini. Di antaranya adalah orang berilmu yang keliru antara lain mencari ilmu untuk mendebat para ulama, menipu orang-orang bodoh untuk mendapatkan pengikut, dan membuat banyak orang menaruh perhatian padanya (popularitas). Oleh karenanya, dirumuskanlah etika pencari ilmu yang berisi 9 poin, yakni sebagai berikut.

1. Menyucikan hati dari unsur buruk

Hati dengan selipan niat buruk semisal dengki, dendam, menipu, berakibat tidak barokahnya ilmu yang dimiliki. Sehingga ada ilmu yang sebenarnya baik, tetapi justru membuat gegeran (membuat ribut). Dengan niat yang tidak baik, ilmu bukannya digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan pribadi maupun masyarakat, tetapi dijadikan debat. Hal ini berdampak muncul perpecahan setelahnya.

2. Memperbaiki niat

Mencari ilmu tidak semestinya dimaksudkan untuk tujuan duniawi, misalnya mengejar jabatan, mengalahkan saingan, atau menaikkan status di masyarakat. Niat yang patut dipancang ketika menuntut ilmu adalah untuk tujuan ibadah mengejar rida Allah. Di level yang lebih tinggi, jika mampu tidak mengharap apa-apa maka akan diganjar pahala setara naik haji, berdasarkan yang dijanjikan oleh Rasulullah saw.

Tanpa mengharap apa-apa di sini termasuk tidak menambah wawasan sekalipun. Pasalnya, tugas kita adalah terus berusaha datang ke forum-forum ilmu pengetahuan, melaksanakan yang berada dalam jangkauan kemampuan kita. Apakah dengan itu wawasan kita bakal bertambah atau tidak, itu adalah kehendak Allah.

3. Bersegera

Akhlak berikutnya adalah tidak menunda-nunda untuk urusan belajar. Jika pekerjaan yang satu segera diselesaikan maka bisa ganti ke tugas lain, sehingga terhitung produktif. Bersegera, yang berarti juga membutuhkan fokus ini terbilang penting melihat banyaknya godaan hari ini.

Jika baru memulai belajar, apakah itu menulis, menggarap tugas, membaca referensi, ternyata sudah tergoda membuka media sosial, maka sudah sekian waktu terpakai. Sebab, melihat feed/story orang lain memang memicu untuk ikut berkomentar, lalu larut di dalamnya karena menemukan yang lebih seru. Kita harus tahu porsi, kapan segera belajar dan kapan untuk bersantai.

4. Kanaah

Yaitu tidak banyak keinginan dan angan-angan. Kanaah juga bermakna menerima sekeliling, tidak membayangkan hasil macam-macam, tapi lebih mengutamakan upaya untuk belajar. Tanpa kanaah, kita akan terlalu sering mengeluh karena menginginkan banyak hal dan justru bisa menjadi penghambat proses mencari ilmu.

5. Bisa membagi dan memanfaatkan waktu

Waktu kita sebenarnya banyak, hanya saja tidak semua orang mampu mengaturnya. Kita merasa menjadi orang penting dan sibuk, padahal tidak punya jabatan apa-apa. Ketidaktegasan mengatur waktu menyebabkan kita selalu mengeluh kerap tidak punya waktu. Kita perlu mengindahkan benar pepatah berikut, "Kalau kamu tidak memotong waktu, maka kamu yang dipotong waktu".

6. Menyedikitkan makan dan minum

Hari ini, kita rasanya akrab dengan fenomena bingung memilih makan. Sebagai pencari ilmu, hal ini tentu menjadi penghambat. Makan dan minum merupakan penunjang dalam proses mencari ilmu, sehingga perlu dikelola agar jangan sampai berlebihan (secukupnya) baik dalam porsi menu maupun durasi makan.

Jika makan dan minum dipikir berlebihan, maka terlalu banyak waktu yang dihabiskan. Jika merasa sudah waktunya makan, tidak usah dipikir panjang atau membayangkan terlalu jauh hingga jadi beban. Hal terpenting adalah sesuaikan makanan dengan budget yang dimiliki.

7. Menjaga diri dari yang merusak

Kita perlu mengukur, sejauh mana sesuatu itu merusak dan tidak merusak bagi diri sendiri. Segala hal yang kita pegang, apakah itu smartphone, laptop, bahkan teman, punya dua sisi, yakni mendukung atau merusak. Tinggal kita pandai-pandai memilih peran yang mana.

Seorang sufi pernah berkata, cara menjaga diri dari yang merusak adalah mengedepankan malu pada Allah, tidak hanya pada manusia. Dengan prinsip itu, kita bisa lebih berhati-hati dan hidup tertib dalam setiap keadaan.

8. Mengurangi tidur

Dengan asumsi durasi tidur normal adalah maksimal 8 jam, maka kita sudah menghabiskan sepertiga umur hanya untuk tidur. Namun, kita kerap tidur larut malam sehingga saat pagi didera kantuk sampai mengganggu berbagai aktivitas. Dengan menyesuaikan pada kecenderungan beraktivitas di pagi atau malam, kita perlu mengatur pola tidur yang proporsional. Sehingga kewajiban yang harus ditunaikan pada pagi hari tetap mampu ditunaikan.

9. Tidak tenggelam dalam pergaulan

Tak bisa dimungkiri bahwa setiap orang butuh teman, namun perlu disadari pergaulan dengan teman terkadang menghabiskan banyak waktu. Bukannya tak boleh, tetapi jangan terlalu asyik. Dosis berkumpul dengan teman perlu diatur secukupnya. Lebih baik bila pertemanan bisa mendukung pertumbuhan keilmuan.

Itulah beberapa adab pencari ilmu yang telah dirumuskan oleh K. H. Hasyim Asy'ari. Perlu diketahui, Allah menyukai hamba yang menyembah-Nya didasari ilmu. Dan setan lebih sulit menyesatkan satu orang yang kaya ilmu daripada 1.000 ahli ibadah tapi minim ilmu. []

Editor: Dian Dwi Anisa

berita terkait

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Ganjar: Bagi Buruh yang di PHK Silakan Daftar Kartu Prakerja

Ganjar meminta kepada seluruh buruh yang terdampak COVID-19 untuk tetap tenang.

Image
News

Warga Mimika yang Positif Corona Bertambah Jadi Sembilan Orang

Penambahan satu pasien positif Covid-19 diketahui setelah sampel swab tiga pasien dalam pengawasan.

Image
News

Warga yang Langgar PSBB Akan Dihukum

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan menghukum warga Jakarta dan sekitarnya yang melanggar aturan PSBB.

Image
News
Wabah Corona

MUI: Tidak Ada Alasan Kuat Menolak Penguburan Jenazah Korban Covid-19

Dalam Islam, penguburan jenazah hukumnya adalah fardlu kifayah.

Image
News

Polisi Siapkan Teknis Pelaksanaan Kebijakan PSBB di DKI Jakarta

Polda Metro Jaya tengah membahas dan mempersiapkan teknis pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta.

Image
News

MUI NTB Keluarkan Maklumat Salat Jumat Diganti dengan Dzuhur

MUI NTB menerbitkan maklumat terkait dengan simpang siurnya wacana salat Jumat diganti dengan salat Dzuhur.

Image
News

Pemprov DKI Jakarta Siapkan 105 Pasar Penuhi Kebutuhan Warga Selama PSBB

Penyediaan pasar bagi kebutuhan masyarakat Jakarta dapat dilakukan melalui transaksi jarak jauh selama mereka beraktivitas di rumah.

Image
News

Warga Jakarta Dilarang Berkumpul di Atas Lima Orang Saat PSBB

Patroli keamanan akan ditingkatkan sampai tingkat RW saat PSBB.

Image
News

Menkominfo: Memutus Covid-19 Tidak Bisa Sendiri-sendiri

Keterlibatan semua unsur dilaksanakan secara sistematis dan komprehensif.

Image
News

Selama PSBB Diterapkan, Pelayanan Pemprov DKI Jakarta Tetap Berjalan Seperti Biasa

Pelayanan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan tetap berjalan seperti biasa setelah penerapan PSBB.

terpopuler

  1. Cerita Ketua RT Menteng Dalam, Malam-malam Pintu Rumahnya Diketuk Warga yang Panik Akibat Suhu Tubuh Tinggi

  2. Kisah WNI di AS saat Pandemi Corona, Dirumahkan Tanpa Kepastian

  3. 5 Tulisan 'Lockdown' Salah, Ada yang Malah Jadi 'Download'

  4. 5 Foto Cantik Petenis Eugenie Bouchard di Alam Bebas, Mendaki di Tengah Virus Corona

  5. Kendaraan Pribadi dan Angkutan Umum Bakal Dibatasi di Jakarta

  6. Pemprov Jatim Klaim Pasien Sembuh Virus COVID-19 Terus Bertambah Jadi 40 Orang

  7. Kasdam XVIII/Kasuari: Kalian Harus Gembira dan Jangan Terlihat Susah

  8. IHSG Diramal Melambung, Saham Ini Akan Bawa Untung

  9. PSBB Mulai Diberlakukan, DPR: Pintu Masuk dan Keluar DKI Jakarta Harus Dijaga

  10. PSBB Jakarta Disetujui, Anies Bisa Terapkan Pembatasan Transportasi Umum hingga Liburkan Sekolah dan Tempat Kerja

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
Zainul A. Sukrin

Perppu Corona, Ujungnya Dimana?

Image
Prakoso Permono

Bayang-bayang Ancaman Teror di Tengah Pandemi

Image
Reza Fahlevi

Atas Nama Kemanusiaan, Stop Politisasi Covid-19

Image
Abdul Aziz SR

PKS dan Sindiran Partai Oposisi

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
Ekonomi

Besarkan Go-Life hingga Diakui Forbes, Ini 5 Fakta Menarik Windy Natriavi, Pendiri AwanTunai

Image
Hiburan

Resmi Diperistri So Ji-Sub, 5 Fakta Menarik Presenter Cantik Jo Eun-jung

Image
News

Wabah Corona

Olahraga hingga Donor Darah, 7 Potret Aktivitas Sandiaga Uno di Sela-sela WFH