image
Login / Sign Up

Bantah Tak Pikirkan Pencari Kerja dan Pengangguran Soal RUU Ciptaker, KSPI: Apakah Mau Anda Bekerja, Tapi Malah Nombok?

Siswanto

Image

Presiden KSPI, Said Iqbal saat menjawab pertanyaan awak media usai memberikan kesaksian di depan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (9/4/2019) | AKURAT.CO/Endra Prakoso

AKURAT.CO, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia  Said Iqbal membantah jika sikapnya menolak RUU Cipta Kerja (Omnibus Law) dinilai tidak memikirkan mereka yang masih menganggur dan sedang mencari kerja. Sehingga ada yang memiliki persepsi, serikat buruh egois karena penolakan terhadap omnibus law hanya untuk kepentingan buruh yang sudah bekerja.

Said Iqbal membantah anggapan tersebut. Dia menjelaskan justru serikat buruh termasuk KSPI menolak onibus law agar orang yang sedang menganggur dan mencari kerja dilindungi oleh undang-undang ketika sudah masuk ke dalam pasar kerja. Dengan demikian, mereka akan terhindar dari eksploitasi. Hanya dimanfaatkan tenaganya tetapi tidak diperhatikan kesejahteraannya.

“Setiap orang yang sedang menganggur harus ada perlindungan dari negara. Itu perintah konstitusi. Dimana negara berkewajiban untuk memberikan jaminan setiap warga negara mendapatkan perkerjaan dan penghidupan yang layak,” kata Iqbal, hari ini.

baca juga:

Jika RUU Cipta Kerja ini disahkan, kata Said Iqbal, buruh rentan mengalami eksploitasi. Belum lagi semakin mudahnya TKA bekerja di Indonesia, berpotensi menjadikan lapangan kerja yang tersedia diisi oleh orang luar.

“Selain itu, jika pencari kerja itu diterima bekerja dan tidak ada kejelasan mengenai upah minimum, maka dia akan digaji seenaknya. Contohnya, saat ini pekerja di upah minimum kabupaten  adalah 4,59 juta. Sedangkan upah minimum provinsi Jawa Barat 1,81 juta. Dalam omnibus law, UMK hilang dan yang berlaku adalah UMP. Maka buruh di Karawang yang upah minimumnya 4,59 juta, bisa dibayar 1,81 juta,” katanya.

Dengan gaji 1,81 juta, sulit bagi buruh untuk hidup layak dan sejahtera. Misalnya, untuk makan tiga kali sehari seharga 12 ribu per porsi, dalam satu bulan menghabiskan Rp1.080.000 ribu. Biaya kost atau sewa rumah katakanlah Rp500 ribu. Dan untuk transportasi Rp400.000 per bulan. Totalnya Rp1.980.000. Nombok Rp180.000. “Apakah mau, Anda bekerja tapi malah nombok?” kata Said Iqbal.

Contoh lain, dalam omnibus law berpotensi menyebabkan outsourcing dan kerja kontrak dibebaskan. Tanpa batasan waktu dan jenis pekerjaan.

“Apakah mau, orang tua anda menyekolahkan sampai SMA, D3, atau S1 dengan biaya yang relatif mahal? Begitu mendapat pekerjaan, tidak pernah diangkat jadi karyawan. Tetapi bisa dikontrak (kontrak langsung dengan perusahaan) atau di outsourcing (melalui agen alih daya) seumur hidup,” kata Iqbal.

Perlu diketahui, kata dia, sebagian besar gaji karyawan outsourcing dan karyawan kontrak upah minimum. Dengan kata lain, buruh tidak akan lagi mendapatkan kepastian pendapatan. Gaji yang didapatkan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya, selalu nombok dari waktu ke waktu.

“Sedangkan dari sisi jam kerja, dalam omnibus law, buruh berpotensi untuk dipekerjakan samapi 12 jam dalam sehari. Tanpa lembur. Apakah mau seperti itu?” katanya.

“Belum lagi kalau pengusaha menggunakan upah perdasarkan satuan waktu atau per jam. Dimana jam kerja bisa diatur, 4 jam pertama untuk karyawan baru dan 4 jam kedua menggunakan karyawan baru, maka upah yang kita terima bisa jadi hanya setengah dari upah minimum,” Said Iqbal menambahkan.

Terlebih lagi, di dunia mana pun, tidak ada kepastian jika ominus law secara otomatis bisa membuat orang yang saat ini tidak bekerja bisa langsung bekerja. Tetapi serikat buruh justru khawatir, omnibus law hanya memindahkan sistem kerja tetap menjadi sistem kerja outsourcing dan kontrak. Seperti yang sering terjadi di beberapa kota industri seperti Tangerang, Bogor, hingga KBN Cakung (Jakarta), para pekerja tetap di PHK lalu ditawari bekerja kembali dengan kerja kontrak atau outsourcing.

"Jika itu terjadi, tidak ada pekerja baru (fresh graduate) yang direkrut untuk masuk ke pasar kerja. Tetapi, ada kemungkinan, yang saat ini sudah berstatus karyawan tetap justru diubah menjadi tidak tetap," katanya.

Said Iqbal meminta agar para pencari kerja “tidak terlena” dengan pernyataan bahwa omnibus law akan menciptakan lapangan kerja baru. Karena yang terjadi di depan mata, justru akan terjadi transformasi (perubahan) sistem kerja dari tetap ke kontrak atau outsourcing.

“Apakah kita ingin bekerja tanpa perlindungan? Jawabannya, tidak. Kita ingin ketika bekerja, maka ada kepastian pekerjaan (job security), kepastian pendapatan (salary security), dan jaminan sosial (social security)," katanya.

Ditegaskan, justru hal ini dilakukan untuk memperjuangkan agar para pencari kerja dan generasi yang akan datang memiliki masa depan. Tidak dieksploitasi "pengusaha hitam" untuk mendapatkan tenaga kerja yang bisa diupah murah dan dipekerjakan tanpa ada jaminan kesejahteraan.

Untuk itu, buruh akan melakukan aksi besar-besar pada sidang paripurna untuk menyampaikan penolakan terhadap omnibus law pada saat sidang paripurna DPR yang kemungkinan akan dilakukan tanggal 23 Maret 2020.

Di Jakarta, aksi akan dipusatkan di DPR RI. Sementara di 22 provinsi yang lain, aksi akan dipusatkan di Kantor DPRD atau kantor provinsi masing-masing. []

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

Ekonomi

Wabah Corona

Pengusaha Industri Swasta Diminta Bantu Produksi Massal APD Untuk Lawan Corona

Image

News

Wabah Corona

Soal Rapat Paripurna, Sekjen DPR: Kami Siapkan Teleconference

Image

News

Cegah Corona di Lapas dan Rutan, Anggota DPR: RUU Pemasyarakatan Harus Dipercepat dan Disahkan

Image

News

Sebelum Meninggal Anggota DPR RI Imam Suroso Sempat Blusukan di Pasar Puri Kabupaten Pati

Image

News

Status PDP Corona, Anggota DPR Komisi IX Fraksi PDIP Meninggal Dunia

Image

News

Organisasi Buruh FSP-KEP Minta DPR Tunda Rapat Paripurna: Jangan Ambil Kesempatan

Image

News

DPR Harap Pemerintah Percepat Pergantian Eks Komisioner KPU Evi Novida Ginting

Image

News

Wabah Corona

Melki Lana Imbau Pemudik Isolasi Diri Dua Pekan

Image

Ekonomi

Dolar AS Tertekan, Emas Kembali Terang

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Wabah Corona

Masyarakat Masjid ke Warga NTB: Tidak Perlu Panik, Namun Tetap Wspada, Salah Satu Cara Terbaik Harus Ikuti Anjuran Pemerintah

Ia juga meminta masyarakat tetap menjalankan anjuran pemerintah agar menerapkan social distancing dan menjaga pola hidup sehat.

Image
News
Wabah Corona

Cegah Covid-19, Gorontalo Utara Tolak Pekerja Asal Jawa Barat dan Sumatera Selatan, Mereka Disuruh Pulang Lagi

"Saya langsung meminta pihak perusahaan penyedia tenaga kerja, di lokasi PLTU tersebut untuk mengarantina seluruhnya di kawasan PLTU."

Image
News

Ganjar Beri Semangat Petugas Medis Positif COVID-19

"Anak saya dua tahun Pak, sejak saya dinyatakan positif dan dikarantina, sampai sekarang saya belum berjumpa,"

Image
News
Wabah Corona

28 Kereta Jarak Jauh Keberangkatan Gambir, Pasar Senen, dan Kota Dibatalkan Mulai 1 April sampai 1 Mei, Ini Daftarnya

Kali ini, KAI tidak mengalihkan penumpang yang jadwalnya batal ke perjalanan KA lainnya.

Image
News

Masjid Mir Mahmood Shah, Masjid Terkecil di Dunia yang Hanya Muat untuk 5 Orang

Terletak di Hyderabad, India, masjid ini hanya berukuran 10,21 meter dan berada di tepi bukit kecil dan dibangun pada ketinggian 530 mdpl.

Image
News

Pemkot Yogyakarta Sebut Tidak Ada Wilayah Lakukan "Lockdown"

“Di Kota Yogyakarta tidak ada kampung yang menutup diri,"

Image
News

Palu Diguncang Gempa Magnitudo 5,8

Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah diguncang gempa bumi dengan magnitudo 5,8 pada Sabtu (28/3/2020) sekitar pukul 22.43 WIB.

Image
News

Jember Berlakukan Kawasan Tertib Physical Distancing Cegah COVID-19

"Hari ini Kabupaten Jember bisa lebih baik lagi karena dari jajaran aparat kepolisian sudah membantu mengatur zona 'physical distancing',

Image
News

Kisah Nabi Isa dan Lelaki Berpenyakit Kusta

Nabi Isa as adalah seorang utusan Allah yang lahir di Betlehem, Palestina dari seorang ibu bernama Siti Maryam

Image
News

Kasus Positif Corona di Sumsel Meningkat Jadi Dua Orang

“Kami masih menunggu informasi lanjutannya, mengenai siapa yang dinyatakan positif ini,"

terpopuler

  1. Politikus Demokrat: Pak Jokowi, Apa yang Membuat Bapak Jadi Peragu untuk Putuskan Lockdown atau Tidak, Jelaskan Saja Pada Rakyat

  2. Wilmar Peduli Alokasikan USD1 Juta Ringankan Dampak Covid-19

  3. Pro Kontra di Tengah Wabah Corona, Gatot Nurmantyo Jelaskan Mengapa Ajak Umat Makmurkan Masjid dan Galakkan Salat Berjamaah

  4. Haikal Hassan: Walikota Lockdown Tegal Dipuji, Gubernur DKI Mau Lockdown Dibully

  5. Presiden Jokowi Diminta Nyatakan Jakarta 'Lockdown'

  6. 10 Potret Prewedding Reza Arap dan Wendy Walters, Hangat dan Elegan!

  7. Demi Bantu Tenaga Medis, Ratusan Pekerja Pabrik Masker di Tunisia Rela Tak Pulang Satu Bulan

  8. Fadli Zon: Mungkin Pak Yuri Kelelahan, Virus Corona Disebarkan Oleh Orang Kaya ke Orang Miskin

  9. Samsung Merilis Pembaruan Perangkat Lunak Android 10 pada Galaxy S20 Series

  10. Cemas Soal COVID-19, Sang Putri Ingin Tinggal dengan Brad Pitt

ibunda jokowi

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
Zainul A Sukrin

Pandemi Covid-19 dan Keseimbangan Kekuasaan dalam Budaya Jawa Tradisional

Image
Reza Fahlevi

Gotong Royong Melawan Covid-19

Image
Azhar Ilyas

Video Call Jadi Komunikasi ‘Normal’ Sejak Pandemi Covid-19

Image
Ujang Komarudin

Pilkada di Tengah Corona

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
Ekonomi

Masuk Forbes hingga Hobi Berkebun, Ini 5 Fakta Menarik Amanda Susanti, Pendiri Sayurbox

Image
News

Diberhentikan Secara Tidak Hormat, 5 Fakta Penting Komisioner KPU Evi Novida Ginting

Image
News

Wabah Corona

Sri Mulyani hingga Retno Marsudi, 8 Potret Menteri Srikandi Jalani WFH