image
Login / Sign Up
Image

Abdul Aziz SR

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Senior Researcher padaCenter for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI

Menanti Kebangkitan PPP

Kolom

Image

Wakil ketua PPP Fernita Darwis bersama sekretaris Jendral partai Ahmad Baidowi dan sejumlah kader memberikan keterangan pers ditengah Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ke V di Jakarta, Minggu (15/12/2019). Mukernas V memerintahkan DPP untuk menyelenggarakan Muktamar IX PPP dipercepat pelaksanaannya. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Pil pahit harus ditelan Partai Persatuan Pembangunan. Hasil Pemilihan Umum 2019 nyaris membuat partai ini terlempar dari parlemen. Suara pas-pasan yang diperoleh hanya sekadar membuat partai berwarna hijau ini berada di ambang batas minimal.

Kenyataan tersebut merupakan dampak dari berbagai peroalan internal yang mendera PPP dalam beberapa tahun belakangan. Problem-problem internal itu membentang mulai dari ketidakjelasan ideologi, konflik kepemimpinan hingga kasus korupsi yang menjerat ketua umumnya.   

Tertangkapnya Romahurmuziy oleh Komisi Pemberantasan Korupsi di Surabaya di musim kampaye Pemilu 2019 menyempurnakan derita PPP. Sebelumnya, konflik berkepanjangan sejak 2014 telah membuat partai “Islam” ini nyaris kehabisan energi. Hampir bersamaan dengan itu, Surya Dharma Ali yang menjabat ketua umum ketika itu ditangkap KPK dan dijeloskan ke penjara. Saat ini, PPP hanyalah sebuah partai gurem dan cenderung semakin tidak menarik di mata publik.

baca juga:

Menjelang Muktamar IX beberapa waktu ke depan, menarik mempersoalkan PPP dari sisi “ideologi” partai. Kehadiran partai ini sejak awal Orde Baru dihajatkan sebagai kekuatan politik formal untuk menjadi dan menawarkan alternatif dalam membangun dan memraktikkan kehidupan politik yang ditopangi nilai-nilai moral (Islam). Sekaligus PPP dibentuk untuk mewakili kepentingan umat Islam dalam proses pengambilan keputusan politik di parlemen. 

Mencermati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga berlambang Ka’bah ini sungguh menarik. Di sana sangat jelas betapa partai ini hendak membumikan moralitas politik Islam dalam praktik demokrasi serta kehidupan bernegara. Hebatnya, PPP tidak semata-mata memerankan diri sebagai lembaga bagi pendidikan politik, melainkan  juga sekaligus sebagai sarana  dakwah dan berkepentingan dengan tegaknya nilai-nilai Islam di negeri ini.  Itulah salah satu perbedaan mendasar antara PPP sebagai partai “nasionalis-religius” dengan partai-partai “nasionalis-sekuler”.

Kesalehan Politik

Dengan mengambil posisi-diri seperti itu, patut kita berharap PPP –sebagai partai cukup tua serta memiliki pengalaman politik cukup panjang– berdiri paling depan dalam membangun dan mengembangkan tradisi politik yang disemangati moralitas Islam. Menunjukkan kepada publik dan dunia bagaimana memanfaatkan proses politik demokratik untuk memperjuangkan kepentingan yang dituntun oleh nilai-nilai moral agama. Artinya, upaya meraih kepentingan-kepentingan pragmatis dan bersifat sesaat dilakukan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip moral. Moralitas menjadi harga yang tidak bisa ditawar, dan itu diletakkan sebagai parameter pengambilan keputusan partai serta perilaku politik para pengurus.

Garis “ideologi” partai terbentang dengan jelas. Ada komitmen yang dirumuskan dengan sadar bahwa PPP memandang dan menempatkan politik sebagai arena juang yang mulia untuk mencapai kebaikan bersama (bangsa dan negara). Bagi PPP, politik diletakkan sebagai jalan dan instrumen strategis untuk mencapai tujuan yang lebih besar yakni terwujudnya cita-cita nasional berdasarkan Pancasila dan prinsip-prinsip Islam serta diridlai oleh Allah Subhanahu Wa-Ta’ala.

Mencapai tujuan besar itu tentu juga dengan cara-cara yang tidak menabrak prinsip-prinsip moral yang dianut partai. Sehingga antara tujuan dan proses memiliki korelasi yang logis. Dalam konteks ini, PPP mengangkat konsep ibadah, amar ma’ruf nahi munkar, serta  kebenaran, kejujuran, keadilan, sebagai bagian dari prinsip yang dianutnya.

Dalam konteks demikian, PPP –dalam tataran preskripsi moral–  sesungguhnya  menawarkan prinsip-prinsip politik yang hakiki untuk mengatur kehidupan bersama berlandaskan kebijakan (pengetahuan) dan kemuliaan. Kurang lebih seperti itu pula politik yang dibayangkan Plato pada masanya. Dengan kata lain, PPP menawarkan sebuah kesalehan politik (political piety) baik dalam kehidupan politik sehari-hari maupun dalam berdemokrasi dan bernegara. Kesalehan politik sebagai sebuah ketaatan dan kepatuhan pada nilai-nilai (moral dan agama) yang diletakkan sebagai identitas partai.    

Politik Sembako

Pertanyaannya kemudian, apakah kasalehan politik itu hadir dalam keseharian, keputusan, sikap, dan perilaku politik PPP itu sendiri? Sayang sekali, jawabannya tidak. Beberapa indikasi dapat dikemukakan.      

Pertama, tidak terlihat upaya serius dari PPP merumuskan suatu preskripsi teknis (tidak sekadar preskripsi moral) untuk menjadi semacam peta jalan bagi tindakan partai di tingkatan praksis (praxis). Dalam proses pengambilan keputusan politik di parlemen, misalnya, sejauh ini tidak muncul hal yang berbeda sebagai tawaran alternatif dari PPP yang mengacu pada semangat dan warna ideologisnya. Dalam kenyataan, negosiasi kepentingan di parlemen lebih mengikuti selera pasar politik serta garis linier koalisi. Dengan demikian, tak ada faktor pembeda antara PPP yang “nasionalis-religius” dan partai-partai “nasionalis sekuler” dalam praktik politik.           

Kedua, dalam berbagai perhelatan politik seperti pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah, pilihan-pilihan politik PPP justru terkesan tidak berada dalam garis lurus preskripsi moral yang dibentangkannya. Suatu ketika mengeluarkan fatwa “haram memilih pemimpin perempuan” sebagai isyarat menolak Megawati pada Pemilu 1999. Namun tak lama berselang, fatwa itu dibuang jauh-jauh ketika melihat peluang untuk posisi wakil presiden bagi ketua umumnya Hamzah Haz mendampingi Megawati yang menggantikan Abdurrahman Wahid. Sebelumnya juga ikut bergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu Abdurrahman Wahid-Megawati. 

Dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017, misalnya, PPP justru mendukung Basuki Tjahaja Purnama yang melakukan penistaan agama (Islam). PPP seolah tidak peduli dengan protes dan kemarahan umat Islam terhadap Basuki. Gerakan damai Bela Islam 411 dan 212 yang begitu fenomenal sebagai ekspresi protes terhadap Basuki, tidak membuat PPP luluh hatinya. Partai jas hijau ini dengan sangat percaya diri tetap berdiri di belakang Basuki bersama PDI-P dan sejumlah partai politik lainnya yang secara ideologis sangat berbeda dengannya.

Ketiga, PPP – melalui kader-kader terbaiknya – tak mampu menahan diri dari godaan uang. PPP – hingga saat ini – satu-satu partai politik di mana dua ketua umumnya berturut-turut terjerat kasus korupsi yakni Surya Dharma Ali dan Romahurmuziy. Keduanya “terjatuh” pada tempat yang sama, Kementerian Agama, hanya beda kasus. Surya dalam kasus penyelenggaraan haji ketika menjadi Menteri Agama, sedangkan Romahurmuziy dalam kasus jual-beli jabatan di kementerian itu. 

Dari indikasi-indikasi itu –sebagian dari sederet indikasi lainnya– tampak jelas betapa partai yang pernah menyebut diri sebagai “rumah besar Umat Islam” ini mengalami kesulitan dan hambatan besar menerjemahkan dan memraktikkan identitas serta prinsip-prinsip dirinya ke dalam tindakan di arena politik nyata.  

Performa politik PPP, dengan demikian, masih berkisar pada soal-soal yang remeh-temeh. Pada soal “politik sembako” (sembilan kebutuhan pokok) dan pragmatisme kekuasaan belaka. Artinya, masih sibuk sebatas urusan logistik partai, pundi-pundi ekonomi pengurusnya, dan sekadar numpang posisi di pemerintahan. Jadi, masih sangat jauh dari performa politik adiluhung dan kepentingan umat. Begitulah, mengapa kemudian idealisme partai ka’bah itu menjadi patut dipertanyakan.

Dalam kondisi keterpurukannya saat ini, apakah pada Muktamar IX yang akan datang PPP mampu menunjukkan indikasi-indikasi (awal) untuk bangkit? Tidak tertutup kemungkunan untuk itu. Hanya saja membutuhkan setidaknya tiga syarat.

Pertama, PPP mampu mempertegas ideologi politiknya berikut konsisten dan setia pada warna ideologinya sendiri. Tidak gampang berubah haluan hanya karena ingin mendapatkan “sepotong kursi” kekuasaan dan “seamplop” uang recehan.

Kedua, mampu menemukan figur yang tepat, kuat, berani, dan punya inovasi-inovasi dalam memimpin PPP lima tahun ke depan.

Tiga, mampu membiayai dirinya sendiri dan tidak bergantung pada sumber-sumber pembiayaan yang kurang jelas halal-haramnya. PPP mesti bebas dari jenis-jenis pembiayaan yang justru membelenggunya dan juga berlawanan dengan garis ideologisnya.     

Apakah PPP dapat memenuhi ketiga syarat itu sehingga klak bisa bangklit? Kita tunggu saja! InsyaAllah PPP masih menyimpan energi yang bisa memberikan kejutan-kejutan. Wallahu’alam. [] 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

Ekonomi

Kolom

Omnibus Law dan Kuasa Kaum Kapitalis

Image

News

Kolom

Covid-19, Media dan Kekuasaan

Image

News

Kolom

Pandemi Covid-19 dan Keseimbangan Kekuasaan dalam Budaya Jawa Tradisional

Image

News

Kolom

Pilkada di Tengah Corona

Image

News

Kolom

Alturisme

Image

Ekonomi

Investasi dan Hakikat Pembangunan

Image

News

Kolom

Kaum Miskin di Tengah Badai Virus Corona

Image

News

Kolom

Al-Isra Wal-Mi'raj dan Covid 19

Image

News

Kolom

Putusan Progresif MK Tentang Keserentakan Pemilu (Bagian 1)

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Wabah Corona

Hasil Rapid Test 300 Siswa Setukpa Positif, Kapusdokkes Polri: Masih Status OPD

Hanya saja berdasar rapid test itulah orang kadang-kadang oh positif, kadang belum tentu COVID-19.

Image
News
Wabah Corona

39 Narapidana Kelas IIA Jambi Dibebaskan dari Tahanan untuk Cegah Penyebaran Corona

Selain peraturan Menteri, pembebasan ini juga untuk mengurangi risiko penularan COVID-19. Jadi kalian malam ini bebas dan bisa pulang.

Image
News

Polisi Tangkap Pelaku Pembuat Video Hoaks Penutupan Jalan di Rawa Bokor Tangerang

Setelah kami cek ke TKP terkait dengan adanya video tersebut, adanya info penutupan jalan di daerah Rawa Bokor adalah hoaks.

Image
News
Wabah Corona

Polisi Pastikan Tidak Ada Penutupan Jalan Tol

"Kami laporkan untuk wilayah hukum Polda Metro Jaya, lalu lintas sampai saat ini tetap normal," kata Sambodo.

Image
News

Ketua Golkar Malut Apresiasi Paket Kebijakan Presiden Jokowi Dalam Mencegah Penyebaran Covid-19

Misalnya stimulus pajak, keringanan kredit, dan pembebasan listrik, itu semua akan sangat membantu masyarakat terdampak," ujar Syukur Manda

Image
News

Rampok Bunuh Pemilik Warung di Depok

Polsek Cimanggis Polres Metro Depok memburu pelaku perampokan yang menewaskan seorang pemilik warung berinisial F (33).

Image
News
Wabah Corona

Jubir Luhut Bantah Info Penghentian Transportasi Jabodetabek

odi menuturkan, informasi tentang penghentian transportasi telah beredar dengan mencantumkan surat edaran BPTJ.

Image
News
Wabah Corona

Tokoh Agama: Jangan Sampai Ada yang Menolak Pemakaman Jenazah Covid-19

"Memulasarakan jenazah merupakan fardhu kifayah, karena itu saya mengajak Umat Islam untuk memperlakukan jenazah dengan hormat."

Image
News

Bukti Ilmiah Bahwa Azan Tak Pernah Berhenti Walau Sesaat

Azan yang dikumandangkan menyesuaikan pergerakan matahari di mana matahari akan bergiliran menyinari bumi.

Image
News
Wabah Corona

Ini Prediksi Guru Besar UGM Soal Akhir 'Perjalanan' Covid-19 di Indonesia

Dedi Rosadi memperkirakan persebaran infeksi COVID-19 di Indonesia akan berhenti pada akhir Mei 2020.

terpopuler

  1. Mudik Dilarang, Tapi Operasi Bus AKAP yang Distop Anies Dibatalkan Luhut, Tengku: Ada yang Bisa Jelaskan Maksudnya Apa?

  2. Sumbangan Atasi Corona dari Warga Capai Rp80 M, Pemerintah: Akan Kami Pakai dengan Tepat dan Bertanggungjawab

  3. Kepala Terminal: Justru Semenjak Ada Tanggap Darurat Corona, Jumlah Penumpang di Terminal Kampung Rambutan Turun Terus

  4. Rustam: Barangkali Jokowi Ingin Ingatkan bahwa Dia Punya Kewenangan Menetapkan Darurat Sipil, Darurat Militer, Bahkan Darurat Perang

  5. Kabar Gembira, 81 Pasien Sembuh, Yurianto: Saya Ingatkan kepada Kita Semua, Kunci Sukses Tanggulangi Covid-19 Ada Pada Kita

  6. Mahfud: yang Mau Karantina Sudah Ada Jalannya dengan Cara UU Indonesia Yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar

  7. Tembus Rp300 Juta per Pasang! Ini 5 Sandal Jepit Termahal di Dunia

  8. Malaysia Terapkan Lockdown, Harga Kelapa Sawit Indonesia Meroket

  9. Ruhut: Tolong Dibaca Ya, Pak Jokowi Presiden RI yang Terbaik untuk Rakyatnya, Itu yang Utama

  10. Pengamat Soroti Hubungan Pemprov DKI dan Pemerintah Pusat Soal Penanganan Covid-19

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
Dr. Idham Holik

Sebuah Harapan Pribadi: PERPPU Pemilihan Segera Terbit dan Opsi A Jadi Pilihan

Image
Achsanul Qosasi

Corona, Subsistensi dan Kredit

Image
Bisman Bhaktiar

Aspek Hukum Perpanjangan Pengusahaan Pertambangan Batubara PKP2B

Image
Abdul Aziz SR

Omnibus Law dan Kuasa Kaum Kapitalis

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
News

10 Potret Wakil Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam di Berbagai Kegiatan, Seru!

Image
News

Paman Idaman! 8 Potret Seru Aspri Menhan, Rizky Irmansyah saat Momong Keponakan

Image
News

Buka Puasa hingga Berolahraga, Potret Aktivitas 7 Politisi Tanah Air di Tengah WFH