image
Login / Sign Up

Kisah Barista Difabel Eko Sugeng, Sempat Terpuruk hingga Jago Seduh Kopi

Kumoro Damarjati

Image

Eko Sugeng menuang ketelnya ke dripper untuk secangkir kopi metode V60 | AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

AKURAT.CO, Eko Sugeng, perlahan menuangkan air dalam gerakan melingkar ke sekitar bubuk Kopi pada bagian atas cangkir dripper. Sekali sampai empat kali tuang sambil melihat timer atau penghitung waktu miliknya.

Proses blooming selesai, tingkat keasaman dan body sudah diperoleh, ketel Kopi buru-buru Eko angkat sebelum tetesan berhenti. Supaya seduhan terakhir tak ikut tercampur.

"Silakan," kata Eko, seorang Barista Difabel kala menyajikan segelas Kopi yang dibuat dengan metode V60 manual brewing.

baca juga:

Eko adalah seorang Barista di Cupable, sebuah cafe yang berlokasi di teras utara Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum), Jalan Kaliurang KM 13, Besi, Ngaglik, Sleman, DIY, Jumat (14/2/2020) lalu. Cupable sendiri memiliki kepanjangan 'cup for empowering person with disability'.

Kedua lengan Eko diamputasi sejak 2002 lalu. Ketika masih remaja, dia mengalami kecelakaan saat memasang antena televisi di atap rumah.

"Saya tersengat kabel listrik. Dari peristiwa itu, saya kehilangan dua lengan saya, diamputasi. Karena, medis bilang sudah nggak mungkin dipertahankan waktu itu," aku pria asli Pekalongan, Jawa Tengah ini.

Kondisi ini dulunya mengharuskan dirinya bergantung pada orang lain. Katanya, orang tuanyalah yang banyak direpotkan untuk sekadar membantu Eko menjalankan aktivitasnya sehari-hari.

Jika mereka tengah disibukkan dengan kegiatan masing-masing, otomatis Eko cuma bisa menanti luangnya. Sering, situasi macam ini membuatnya merasa sendiri.

Musibah itu bak menuntunnya pada jurang keputusasaan. Mentalnya berangsur labil, sering dikuasai emosi dan merasa jengkel sendiri.

"Karena nggak bisa kayak dulu. Mau main mau apa kan dulu gampang. Tapi, dengan kondisi seperti ini susah. Kadang diejek, dibully, terus sama teman-teman malu, akhirnya memengaruhi juga secara psikis," papar Eko yang kini berusia 34 tahun.

Salah seorang kerabat merasa tidak tega melihat kondisi Eko. Sampai akhirnya ia disarankan untuk bergabung ke Pusat Rehabilitasi Yakkum pada 2004 silam.

AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Di tempat inilah akhirnya Eko mengaku belajar semuanya dari nol. Mulai dari bagaimana ia mengenakan pakaian, makan, mencuci, dan lain sebagainya.

"Selama di sini, saya didampingi psikolog untuk penerimaan diri. Karena, kondisi yang saya alami ini tidak dari kecil (lahir), sehingga ada kecenderungan kurang bisa menerima. Lalu harus merespons seperti apa kalau ada orang yang 'ngelihatin' dari atas ke bawah," terang pria beranak satu tersebut.

Tahun demi tahun berjalan, konflik dalam dirinya mereda. Ia kembali berpikir untuk apa yang harus dilakukannya ke depan. Setelahnya, ia berkesempatan menjadi salah satu penerima beasiswa dari Yakkum dan merampungkan program Diploma III di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) LIA Yogyakarta.

Sekembalinya mengenyam pendidikan di sana, ia kemudian bekerja sebagai resepsionis di Yakkum. Dan di saat waktu luangnya itulah, Eko kerap mampir ke Cupable Cafe. Diakuinya, dirinya memang pecinta Kopi, tapi tipe instan atau saset.

"Sering beli Kopi, ngobrol juga sama crew Barista yang dulu. Karena seringnya saya ke sini, saya diajari oleh waktu itu masih dipegang oleh Pak Banu yang pertama buka Cupable ini. Belajar nyeduh Kopi, awalnya saya ragu karena kondisi saya saat itu. Tapi, dengan motivasi dan bimbingan beliau, akhirnya saya coba nyeduh Kopi, kenal alat," ungkapnya.

"Butuh penyesuaian memang, lantaran semuanya kan di sini panas. Sementara, kondisi fisik saya seperti ini. Saya cari-cari cara supaya saya bisa nyaman," sambung warga Kalasan, Sleman tersebut.

Seiring hari berjalan, Eko mulai bekerja paruh waktu sebagai Barista di Cupable Cafe. Kesempatan yang diberikan kepadanya ogah ia sia-siakan. Bahkan, saat ada tawaran ikut pelatihan Barista Inklusi yang terselenggara berkat kerja sama antara Yakkum, NGO dari Asian Foundation, dan Pemerintah Australia, tanpa babibu, dia memutuskan untuk ikut.

Eko tergabung dalam angkatan pertama. Selain dirinya, turut berpartisipasi peserta penyandang tuna netra, terutama kategori low vision, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Adapun, selain dari kalangan penyandang disabilitas, pelatihan Barista Inklusi ini diikuti para peserta dari komunitas aliran kepercayaan.

"Bersama waktu itu enam peserta lain, kami diajari soal bagaimana bahwa seorang Barista itu tahu Kopi itu ditanam, dirawat, dipanen. Lalu mengenal robusta, arabika, menyortir Kopi terus nantinya diroasting. Belajar lebih dalam lagi nyeduh Kopi, buat espreso, cappucino, dan latte," kisahnya.

Usai pelatihan rampung, Eko akhirnya secara resmi bekerja full time sebagai Barista di Cupable. Sementara beberapa alumni pelatihan Barista Inklusi ini memilih membuka usaha warung kopinya sendiri.

Api semangat Eko tidak pernah padam. Semenjak jadi Barista, dia terus mengasah teknik mencipta segelas Kopi miliknya. Mengeksplorasi seluk beluk biji Kopi hingga bereksperimen mencari style-nya sendiri. Rumit diakuinya, namun meracik Kopi terlanjur jadi passionnya.

AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

Alhasil, tahun lalu Eko baru saja lolos sertifikasi Barista dari Badan Ekonomi Kreatif (Berkraf). Kemampuannya telah teruji sampai ia diminta bantu pelatihan Barista inklusi di tahun-tahun berikutnya. Meski, diakuinya sampai detik ini dirinya masih mencari titik nyamannya.

Sesekali memang, di balik bar Eko terlihat 'berusaha'. Seperti ketika membuka rekatan dan membuat corong dari paper filter atau kertas penyaring untuk kemudian diletakkan di atas dripper. Pun, sewaktu mencoba menuangkan biji Kopi ke dalam mesin penggiling, sebaik mungkin ia mengarahkannya agar biji Kopi tidak tumpah.

Eko mengaku hanya butuh lebih beradaptasi. Tapi, bukan Eko Sugeng namanya kalau tidak mencoba. "Kalau saya kesulitan, saya buat alat bantu," ujarnya seraya menunjukkan salah satu perangkat modifikasi kepunyaannya.

Bentuknya, seperti rangkaian besi yang memiliki fungsi menjaga agar basket filter tetap stabil ketika bubuk Kopi di atasnya dipadatkan dengan tamper. Maklum, cara membuat espresso macam ini umumnya membutuhkan kerja dua tangan agar basket filter tidak bergoyang.

"Milk jug saya berpikir untuk nanti saya modifikasi juga. Kupingnya saya perlebar supaya lengan bekas amputasi saya ini bisa masuk. Akan saya coba untuk lapisi kulit juga biar nggak panas," lanjut dia.

Sampai sejauh itu, pasalnya Eko menganggap apa yang sudah dikuasainya sejauh ini masih minim. Kelak, dia ingin berkreasi dengan latte art atau memperdalam teknik seduh V60.

AKURAT.CO/Kumoro Damarjati

"Pingin inovasi, V60 itu kan ada tekniknya. Tekniknya itu kita bisa bermain di kayak ukuran (gilingan) grinder (mesin penggiling), di suhu air, gramasi main di situ," akunya.

Berdaya, itulah yang coba Eko buktikan kepada siapa saja yang mempertanyakan kapabilitasnya. Menjadi seorang penyandang disabilitas bukan berarti tak mampu.

"Saya pribadi, dengan kita memiliki kekurangan bukan jadi penghalang untuk bisa berkarya. Untuk bisa istilahnya berkat, bermanfaat bagi orang lain dengan apa yang kita punyai. Jadi orang lain bisa melihat, walaupun kita punya kekurangan, dengan kita mau berusaha, tidak putus asa, dibarengi doa, hasilnya akan terlihat. Syukur-syukur bisa membuat orang ikut termotivasi," pungkasnya.[]

Editor: Nafilah

berita terkait

Image

News

Wabah Corona

DIY Siapkan Tempat Pemakaman Khusus Bagi Jenazah Pasien Corona

Image

News

Wabah Corona

Dua Warga Sleman Positif Corona Usai Pulang dari Jakarta

Image

News

Wabah Corona

Tidak Ada Alasan Menolak Pemakaman Jenazah Orang yang Terinfeksi Covid-19

Image

News

Wabah Corona

Sultan Sebut Sederet Hotel di DIY yang Sepi Tamu Mulai Tawarkan Kamar untuk Ruang Karantina

Image

News

Merapi Kembali Erupsi, Kolom Letusan Terpantau Setinggi 3 Ribu Meter

Image

News

Wabah Corona

Sempat Berniat Kabur dari Karantina, Pasien Corona Berusia 60 Tahun di DIY Akhirnya Sembuh

Image

News

Wabah Corona

Ini Skema Penyaluran Bansos Jadup Corona di DIY yang Sasar 19 Ribu KK

Image

Hiburan

5 Spanduk Unik Portal Lockdown Kampung di Yogyakarta, Menggelitik Tapi Asyik

Image

News

Wabah Corona

Pemkot Yogyakarta: Jumlah Pendatang Selama Bulan Maret 2020 Sebanyak 550 Orang

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Peningkatan APD di Masyarakat Berdampak Pada Jumlah Sampah Berbahaya

Image
News

Dishub DKI Hentikan Sementara Penataan Stasiun

Proyek penataan kawasan stasiun yang sebelumnya ditargetkan selesai pada akhir Maret 2020, terpaksa dihentikan sementara,"

Image
News

Kemenkes Tidak Anjurkan Pemda dan Masyarakat Gunakan Bilik Disinfeksi

"Tidak menganjurkan penggunaan bilik desinfeksi di tempat dan fasilitas umum (TFU) serta permukiman,"

Image
News

Polda Jatim Mendirikan 95 Posko Observasi Pemudik

"Posko tersebar di 39 Polres se-Jatim, kemudian ditempatkan juga di pelabuhan, bandara, stasiun, maupun terminal,"

Image
News

Pakar: Perlakukan Limbah Medis Pasien COVID-19 Dengan Hati-hati

"Kami sudah berbicara dengan orang-orang yang terlibat dalam penanganan manajemen limbah saat SARS, Ebola, flu babi dan sebagainya,"

Image
News

Gubernur: Jumlah Pasien Positif COVID-19 di Surabaya 77 Orang

"Jumlah pasien positif COVID-19 bertambah 33 orang, sedangkan kemarin 44 orang sehingga totalnya 77 orang di Surabaya,"

Image
News

Pemprov Jabar Percepat Penanganan COVID-19 Melalui Balai Kesehatan

Balai ini menjadi bagian paling penting dan signifikan dalam kampanye Jawa Barat menanggulangi dan melawan COVID-19.

Image
News

2.002 Napi di Jateng Dikeluarkan Dari Lapas Cegah Penyebaran COVID-19

"Jumlahnya terus berubah sampai 7 April 2020 karena masih berproses terus,"

Image
News

Pemda DIY Siapkan Lahan Pemakaman Khusus Pasien Virus Corona

"Apabila masyarakat tidak menerima kita sudah ada, kabupaten sudah menyiapkan,"

Image
News

Semua Pasien Positif Corona Asal Magetan Dinyatakan Sembuh

"Kemarin hari Kamis (2/4/2020) ada lima pasien yang dinyatakan sembuh,"

terpopuler

  1. Sultan DIY Bocorkan Rencana Pusat Hambat Pemudik, dari Naikkan Tarif Tiket hingga Atur Jarak di Mobil Pribadi

  2. Ratusan Jasad Ditemukan Tergeletak di Rumah dan Jalanan, Presiden Ekuador Bangun Penampungan Korban COVID-19

  3. Buat Onar Selama Lockdown, Presiden Filipina Rodrigo Duterte Tak Segan Tembak Mati Warganya

  4. Arab Saudi Minta Umat Islam Tunda Rencana Ibadah Haji sampai Pandemi Corona Berakhir

  5. Pernah Pacari Angel Lelga, 5 Fakta Tak Terduga Kapolsek Kembangan Kompol Fahrul Sudiana

  6. Kompak Abis, 10 Potret Akrab Lima Anak Enno Lerian dan Priambodo Soesetyo

  7. Jokowi: Guru Tak Fokus Kegiatan Belajar-mengajar, Tapi Lebih Banyak Dipakai Buat Hal-hal Berkaitan Administrasi, Ini Tolong Digarisbawahi

  8. Sering Tak Disadari, Ini 5 Kebiasaan yang Membuat Rezeki Susah Datang

  9. Doni Monardo: Para Kepala Desa, Anda Telah Lakukan Berbagai Macam Upaya, Libatkan Seluruh Komponen yang Ada

  10. Kecewa Berat, Ferguson: UFC Harus Cabut Gelar Milik Khabib

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

COVID-19 dan Kita

Image
Dr. Idham Holik

Sebuah Harapan Pribadi: PERPPU Pemilihan Segera Terbit dan Opsi A Jadi Pilihan

Image
Achsanul Qosasi

Corona, Subsistensi dan Kredit

Image
Bisman Bhaktiar

Aspek Hukum Perpanjangan Pengusahaan Pertambangan Batubara PKP2B

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
News

Jarang Tersorot, 8 Potret Istri Wakil Bupati Luwu Timur, Anny Ali

Image
News

Siapkan Akomodasi Bagi Tim Medis, 8 Potret Wali Kota Bandung Turun Langsung Perangi Virus Corona

Image
News

Sister Goals! 8 Potret Najwa Shihab Bersama Kakak dan Adik Perempuannya