Zainul A. Sukrin

Direktur Politika Institute
News

New Normal dan Mengerucutnya Oligarki

New Normal dan Mengerucutnya Oligarki
Seorang tamu sedang dicek suhu tubuhnya sebelum memasuki salah satu hotel di Jakarta, Senin (8/6/2020). Pelonggaran dalam aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masa transisi, disambut baik dari berbagai kalangan. Seperti yang dilakukan sejumlah hotel, mereka bersiap untuk menerapkan protokol kesehatan demi pencegahan penyebaran COVID-19. (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO, Negara yang tidak bisa keluar dari kehendak pribadi adalah negara yang tidak normal. Seperti negara yang dikuasai oleh kelompok minoritas dalam negara yang memiliki sumber daya kekuasaan atau yang disebut oligarki.

Kehendak pribadi atau oligark dalam negara cenderung menciptakan ketidakadilan. Rakyat tidak lagi berdaulat. Oleh sebabnya negara tidak mampu menciptakan kebaikan dan kepentingan umum. Elite pemerintah dan legislator, cenderung menjadi corong atau alat kepentingan pribadi-pribadi tersebut. Semuanya menjadi bagian dari ketidaknormalan atau menyebabkan negara gagal.

Situasi ini, cenderung dikunci oleh adanya pergeseran dan perubahan sosial baru. Fukuyama (2017) menyebutkan bahwa perubahan sosial terkini membentuk masyarakat informasi yang menjadikan pengetahuan sebagai dasar kekayaan, kekuasaan, dan hubungan sosial.

baca juga:

Argumen Fukuyama tersebut menghilangkan hakikat kedaulatan rakyat yang disebut di atas. Dalam tatanan baru ini, Fukuyama juga menyebutkan akan semakin berkembangbiaknya kejahatan, suburnya struktur keluarga, penurunan kepercayaan, dan kemenangan individualisme terhadap masyarakat.

Maka dalam sejarah Pandemi Covid-19 cederung sebagai fenomena dan atau peristiwa dalam lingkungan sosial baru. Dan new normal yang dicetuskan saat ini tidak boleh dimaknai secara sederhana dan dangkal. Seperti sebatas pada konteks protokol kesehatan yaitu mengganti pola hidup baru, yaitu yang mengedepankan hidup sehat misalnya setelah pandemi Covid-19 masyarakat selalu memakai masker dan handsanitaizer.

Namun, new normal yang digagas saat ini semacam proklamasi politik. New normal cenderung dapat dinilai sebagai titik nol dari rezim politik global yang baru. Saat ini ada pergeseran kekuasaan yang semakin menggerucut pada kelompok kecil orang (oligarki) yang memiliki sumber daya utama atau pengetahuan yang menentukan kekayaan, kekuasaan, dan mengontrol hubungan sosial masyarakat tidak hanya dalam negara tetapi secara global.

New Normal Sesungguhnya

New normal dalam konteks protokol kesehatan menjadi sesuatu yang paradoks. Karena resep untuk memutuskan rantai penyebaran Covid-19 yaitu dengan menjaga jarak, hindari dan jangan membuat kerumunan, dan lain-lain cenderung gagal. Namun saat ini diterapkanlah new normal.

Rumit menikmati dan mempercayai kenormalan ini. Dan yang menjadi reverensi utama diterapkan new normal adalah data infografi yang terpapar mulai menurun, sedangkan yang sembuh menguat. Tapi yang lebih menarik di tengah dicetuskannya new normal yaitu di sosial media mulai viral berbagai vidio dan diskursus yang merespon Covid-19 sebagai peristiwa yang rancu dan ganjil. Seperti, adanya suap untuk melabelisasi jenajah Covid-19, pandemi adalah konspirasi global, dan lain-lain.

Kesimpulan dari Pandemi Covid-19 adalah ketidakpastian dan kebingungan. Tapi yang menjadi poin utama dengan adanya pandemi ialah masyarakat teradabtasi dengan tatanan kehidupan sosial baru. Tagar di rumah aja, membuat masyarakat terbiasa dengan berbagai aktivitas virtual. Rapat, bekerja, membeli makanan, pakaian, dan lain-lain dilakukan secara online atau di sosial media dan pasar-pasar online.

Hubungan sosial yang tidak lagi ada jarak dan yang menyekat. Dunia virtual memfasilitasi seluruh kebutuhan warga dan rakyat, termasuk dengan negara. Terutama dalam memberikan dukungan dan tuntutan pada kebijakan negara.

Lingkungan baru yang tercipta inilah yang menjadi bagian new normal yang sesungguhnya. Dan Pandemi Covid-19 cenderung sebagai usaha sistematis untuk mewujudkan masyarakat baru atau masyarakat informasi yang dicita-citakan oleh oligarki tersebut. Oligark yang melakukan kerja-kerja tersebut begitu jahat, manusia cenderung dikurbankan untuk menstimulus kepentingannya. Seperti sejak adanya pandemi, masyarakat dihantui rasa kecemasan dan ketakutan.

Kekuasaan oligarki tersebut, dapat mengontrol warga dan negara. Karena kemampuan mengalihfungsikan teknologi, para oligark tersebut memiliki bank data. Dalam sejarah Covid-19, Bill Gates sejak awal pernah mengingatkan akan adanya pandemi global ini.

Selain itu, Amerika yang menuntut China untuk bertanggung jawab terhadap Pandemi Covid-19, Bill Gates berpihak sekaligus penengah. Hal ini, seolah individu mengalahkan masyarakat atau kelompok penekan dalam memberikan tuntutan dan dukungan dalam negara. Dan berpihaknya Bill Gates terhadap China dalam konflik dengan Amerika karena tergerusnya kepercayaan. Kemudian negara (Amerika) tidak berdaya terhadap arus ketidakpercayaan warganya.

Oleh sebab itu, oligarki saat ini semakin menggerucut pada kelompok kecil orang yang memiliki bank data/big data yang menentukan kekayaan, kekuasaan, dan mengontrol hubungan sosial antara negara dan warga, dan negara dengan negara. Mereka berkuasa dan berwenang atas berbagai dinamika dan peristiwa sejarah saat ini. Karena suara dan status politik cenderung dikontrol olehnya.

Diskursus tentang oligarki setelah new normal tidak akan terbatas di dalam negara, kelompok minoritas tersebut ada di luar negara (dunia), yang tidak lagi hanya memiliki aset tanah yang luas, usaha perdagangan, kekayaan material, kemandirian usaha, dan kekuasaan ekonomi. Namun memiliki bank data/big data.

Kemudian diskurus hegemoni, berkembang. Tidak lagi sebatas konteks budaya, namun cenderung seluruh aspek. Terutama dalam politik dan ekonomi. Hegemoni seperti mengontrol warga dan negara, dan relasi keduanya. Dan new normal, sebagai kehidupan sosial politik baru yang dimana kehendak sosial, ekonomi, dan politik tidak terlepas dari para oligark tersebut. Sebut saja pemilik Google, Facebook, Amazon, Alibaba, Microsoft dan Apple.

Jadi new normal merupakan kesimpulan dari respon publik atas kehidupan sosial baru. Ekosistem baru dapat diterima. Dan setelah pandemi ini, kemungkinan kita akan memasuki perubahan-perubahan yang mencengangkan. Seperti penggunaan mata uang virtual dan sejenisnya sebagai alat tukar. Hal tersebut menjadi bagian dari sejarah kekuasaan oligark tersebut.[]

Sunardi Panjaitan

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu