Ekonomi

Neraca Perdagangan Maret 2021 Alami Surplus Hingga US$1,57 Miliar, Apa Pemicunya?

BPS memaparkan bahwasanya neraca perdagangan RI mengalami surplus sebesar US$1,57 miliar pada Maret 2021


Neraca Perdagangan Maret 2021 Alami Surplus Hingga US$1,57 Miliar, Apa Pemicunya?
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (3/11/2018). Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai ekspor dan impor pada Juli 2018. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia tembus US$ 16,24 miliar atau tumbuh 19,33% secara tahunan. Sementara impor naik 31,56% tahunan menjadi US$18,27 miliar. Sehingga defisit neraca perdagangan bulan lalu mencapai US$2,03 miliar. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Beberapa waktu lalu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memaparkan bahwasanya neraca perdagangan RI mengalami surplus sebesar US$1,57 miliar pada Maret 2021 dengan total nilai ekspor senilai US$18,35 miliar dan impor US$16,79 miliar. 

“Surplus ini jauh lebih bagus dibandingkan surplus pada Maret tahun lalu maupun pada 2019, yang waktu itu surplusnya sebesar US$0,7 miliar,” ucap Suhariyanto saat menggelar konferensi pers secara virtual di Jakarta, melansir Antara, Kamis (15/4/2021).

Jika dilihat berdasarkan sektor dan penggunaan barang, Suhariyanto memaparkan performa ekspor dan impor RI pada Maret 2021 sangat bagus sekali, karena ekspor meningkat 30,47% dan impor naik 25,73%.

“Ekspornya meningkat 30,47% yang terjadi karena peningkatan ekspor yang tinggi baik karena sektor pertanian, industri, maupun sektor tambang. Sementara impornya juga naik tinggi, yakni 25,73% karena adanya kenaikan impor baik untuk barang konsumsi, barang penolong maupun batang modal,” ujar Suhariyanto.

Menurut Kepala BPS itu, pergerakan ekspor dan impor yang tinggi tersebut sejalan dengan beberapa indikator, misalnya Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur RI yang dilansir IHS Markit, di mana angkanya ekspansif pada Maret 2021 yakni 53,2.

Jika dilihat dari PMI Manufaktur global, tambah dia, pertumbuhannya cukup tinggi seiring dengan bergulirnya vaksinasi, peningkatan aktivitas masyarakat, dan permintaan berbagai komoditas yang meningkat dan menyebabkan peningkatan harga.

“Tentunya ini sangat bagus untuk perkembangan ekspor dan impor Indonesia. Ke depannya, kita tentunya berharap bahwa performa pada Maret ini bisa terulang di bulan-bulan berikutnya,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Sebagain informasi, berdasarkan data yang diterima oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2020 lalu, BPS mencatat neraca perdagangan RI surplus sebesar US$743 juta

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kinerja impor yang menurun signifikan dan angka ekspor yang mengalami kenaikan menjadi penyebab surplus negara perdagangan pada Maret 2020.

Sumber: Antara

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co