Rizal Maulana Malik

Pemimpin Redaksi Akurat.co
Lifestyle

Nasib Citayam Fashion Week dan Inspirasi dari Harajuku 

Nasib Citayam Fashion Week dan Inspirasi dari Harajuku 
Para remaja dari berbagai daerah pinggiran Jakarta berjalan di kawasan Taman Sudirman, Jakarta, Sabtu (9/7/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Citayam Fashion Week (CFW) yang belakangan makin populer setelah diserbu para selebritis dan pejabat publik ke Stasiun Dukuh Atas, menarik untuk terus diikuti perkembangannya. Akankah CFW menjadi pusat kreativitas anak muda seperti di Harajuku Jepang? Atau akan layu sebelum berkembang ? 

Ada kesamaan antara fenomena Harajuku dengan CFW jika dilihat dari awal kemunculannya. Harajuku adalah sebuah nama kawasan di sekitar Shinjuku dan Shibuya di Tokyo, lokasi utamanya juga di stasiun kereta Harajuku dan sepanjang Jalan Omotesando. Dari sanalah sekitar tahun 1980-an, anak muda Jepang bertemu dan berinteraksi. Nongkrong dengan gaya  pakaian  yang nyeleneh. Bahkan bisa dibilang gila. 

Dari Harajuku fashion street itu lahir dan dikenal mode terbaru 'genre fashion'  yang tidak dikenal sebelumnya. Ada model cosplay (memakai kostum karakter tertentu) , gaya Gyaru yang kekanak-kanakan, gaya punk hingga gaya Lolita yang sensual terinspirasi dari fesyen Victoria Barat. Harajuku juga tidak hanya sekedar ajang pamer pakaian, tapi sebuah gerakan melawan aturan dan tekanan tradisi. 

baca juga:

Karena kesamaan 'moment' itu, kini muncul sebutan "Haradukuh"  plesetan dari Harajuku dan Dukuh Atas. He he boleh juga. 

Namun bayangan kita akan perjalanan CFW ke depan masih jadi teka teki. CFW harusnya  didukung agar terus  berkembang dengan modal kreativitas anak muda, sebagai kekuatan utama. Seperti juga di Harajuku, ide dan gagasan menjadi salah satu faktor perubahan di sana. Mereka selalu mencari ide seperti apa mode pakaian Jepang ke depan. Anak-anak dari Citayam juga ditantang bisa melakukan itu. 

Peran mahasiswa jurusan desainer atau kecantikan, atau para desainer profesional justru terbuka di sini. Mereka bisa mengajak anak-anak CFW untuk berkolaborasi. Bereksperimen soal mode dan kecantikan. Seperti juga di Harajuku, mode di sana semakin menarik dan dilirik setelah para siswa desainer atau kecantikan sering mengajak anak muda Harajuku ke proyek sekolah mereka untuk menjadi model, asisten dan lainnya. 

Peran dan bantuan artis penyanyi juga bisa dilakukan. Misalnya, para artis bisa memakai pakaian model monokrom yang sering dipakai anak muda CFW, saat konser atau lounching lagu baru. Gerakan mode sepertinya harus beriringan dengan musik dan dance. Seperti gerakan hip hop di Amerika yang melahirkan musik Rapp dan breakdance. 

Ada juga sejumlah musisi muda yang turut mengangkat fenomena CFW ini.Kalau kita buka di youtube, ada beberapa musisi yang khusus membuat lagu CFW atau SCBD. Grup musik MASGIB misalnya dengan judul SDCB, bergenre rapp. Ada juga Bany Zella dengan judul Citayam Sudirman. Akan lebih hebat jika artis top lain membuat lagu khusus CFW ini. 

Seperti juga Artis top Gwen Stefani menjadikan Harajuku sebagai kiblat modenya. Misalnya, saat mempromosikan lagu perdananya Love Angel pada 2003. Bahkan iya bernyanyi lagu Harajuku Girl. 

Dukungan lain juga diperlukan dari pemerintah DKI Jakarta. Sinyal positif Gubernur Anies Baswedan bisa jadi modal. Rencana relokasi bisa dikaji dulu lebih dalam. Dukuh Atas dipilih anak SCBD karena akses dan transportasi yang mudah dan murah. Dekat juga ke pusat belanja pakaian Tanah Abang. Harusnya ini jadi peluang bagi para pedagang pakaian. Tinggal dipikirkan oleh asosiasi bagaimana agar kegiatan ini bisa nyambung dan berimbas ke penjualan pakaian. 

Harajuku di sekitarannya ada toko-toko pakaian. Menjual pakaian unik dan nyeleneh. Bisa di 'ATM' sama para pedagang. 

Pemprov DKI sebenarnya tinggal mengatur agar semua kepentingan bisa dipertemukan. Jika ada pengguna jalan lain terganggu, bisa aja event catwalknya dibuat rutin setiap Sabtu dan Minggu. Fasilitasi juga untuk menambah daya tarik, ada konser musik mini. Dan satu lagi, bebaskan sepanjang jalan akses ke Dukuh Atas dari kendaraan.  Car free day 'tambahan'. 

CFW memang masih berumur muda. Perlu konsistensi dan kreativitas jangka panjang agar 'gerekan' ini terus hidup, bergairah dan mendorong bergairahnya industri kreatif . Jakarta sebagai barometer, juga bisa menjadi trigger daerah lain. Dan ini sudah terbukti. Sudah "mewabah" ke Malang, Surabaya dan Bandung. Salam SCBD!