Lifestyle

Napak Tilas Perjalanan Industri Surabaya Tempo Dulu di Kawasan Kota Tua

Bila sudah bosan dengan suasana mal dan taman bermain yang ditawarkan di Surabaya. Datanglah ke kawasan Kota Tua Surabaya


Napak Tilas Perjalanan Industri Surabaya Tempo Dulu di Kawasan Kota Tua
Pelabuhan Tanjung Perak sudah ada sejak abad ke-13, yang merupakan saksi kemajuan Industri di Surabaya pada masa Kolonial Belanda (INSTGRAM/lilikkumairo)

AKURAT.CO, Berkunjung ke Surabaya, Jawa Timur, tak mungkin kehabisan tujuan wisata. Kota Pahlawan ini memiliki sejuta tempat yang bisa dijadikan untuk mengisi waktu luang.

Bila sudah bosan dengan suasana mal dan taman bermain yang ditawarkan di Surabaya  datang ke kawasan Kota Tua Surabaya yang terletak di Suabaya Timur, bisa dijadikan pilihan kamu. 

Menurut sejarah, Kota Surabaya menjadi kota kedua terpadat di Indonesia setelah Batavia atau Jakarta di masa Kolonial Belanda. Sebab, Pemerintah Belanda kala itu membangun Kota Surabaya menjadi kota Pusat Industri karna letaknya dekat dengan pelabuhan bongkar muat yakni Pelabuhan Tanjung Perak.

Sebab, sejak abad 13, Tanjung Perak merupakan wilayah pertemuan perdagangan yang dikenal di era keemasan Kerajaan Majapahit. Dimana berbagai wilayah kepulauan Nusantara utamanya di Sulawesi, Kalimantan, Bali Nusa Tenggara hingga ke wilayah Asia Timur, Asia Selatan dan Jazirah Arab bakal melalui pelabuhan ini. 

Tak hanya pelabuhan yang bisa membuktikan bahwa Surabaya dulunya kota Industri, bila kamu mengunjungi kawasan Kota Tua di Surabaya ini, kamu akan menemukan gedung-gedung tua berasitektur khas Eropa yang kala itu berfungsi untuk menunjang kegiatan industri atau transaksi perdagangan. 

Salah satu gedung tua yang bertujuan kegiatan Industri di masa Kolonial Belanda yakni Gedung Cerutu. Sesuai dengan namanya, gedung ini didesain dengan memiliki bagian berupa menara yang bentuknya seperti cerutu.

Gedung Cerutu yang memiliki warna putih dengan atap berwarna merah tembaga ini, letaknya berdampingan dengan Hotel Ibis atau di depan Gedung Internatio. 

Awalnya, gedung ini dibangun sebagai kantor perusahaan gula pada tahun 1916, oleh N.V. Maatsschappij Tot Exploitatie van Het Bureau Gebroders Knaud. Gedung Cerutu ini juga pernah digunakan sebagai Kantor Said Oemar Bagil dan kantor Bank Bumi Daya. 

Karena sejarahnya, gedung ini dijadikan landmark kawasan kota lama dan pada tahun tahun 2009 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sesuai SK. Walikota Surabaya No.188.45/004/402.1.04/1998 No unit 40. 

Selain Gedung Cerutu, Jalan Karet yang berada di Surabaya juga merupakan bagian sejarah dari perkembangan Surabaya menjadi pusat Industri. Sebab, banyak perusahaan Belanda bergerak di sektor perdagangan termasuk karet dan gula, yang mendirikan gedung di jalan ini. 

Tak hanya perusahaan karet dan gula, di jalan ini juga dibangun perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Belanda, yaitu perusahaan dagang Belanda Nederlansche Handels Maatschappij.

Nederlansche Handels Maatschappij adalah suatu perusahaan dagang Belanda yang didirikan berdasarkan Besluit No.163 pada tanggal 29 Maret 1824 atas prakarsa Raja Willem I dari Belanda, untuk mempromosikan dan mengembangkan perdagangan, pengiriman dan pertanian termasuk perdagangan, pengiriman komoditi pertanian di Surabaya.

Jalan Karet juga termasuk Kawasan Pecinan. Di jalan ini, terdapat tempat tinggal keluarga Chna kaya menjalankan bisnis besar di Surabaya dan di Pulau Jawa. Kemudian bangunan itu menjadi Rumah Abu dari tiga keluarga yaitu Rumah Abu Han, Rumah Abu The dan Rumah Abu Tjoa. 

Saat ini, bangunan di Jalan Karet dijadikan gudang lantaran dekat juga dengan Pasar Atom. Selain itu, ada juga bangunan peninggalan kolonial yang terbengkalai lantaran tidak ditempati dan juga tidak diketahui pemiliknya. 

Namun, bangunan kolonial yang terbengkalai dan rumah abu keluarga China kaya ini sering dijadikan spot untuk berfoto.

Selain gedung dan jalan, daerah Kota Tua Surabaya ini juga dekat dengan peninggalan sejarah lainnya seperti Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November.

Peninggalan lainnya yang ada di Kota Tua Surabaya adalah Jembatan Merah. Jembatan ini dikenal sebagai jembatan pertumpahan darah saat terjadinya perang perobekan bendara yang dipimpin Budi Utomo pada 10 November 1945.

Kawasan Kota Tua Surabaya ini lokasinya sedikit jauh dari pusat keramaian, akan terasa menyeramkan jika berjalan sendirian. Pasalnya, daerah ini terbilang cukup sepi dan banyaknya bangunan kuno tanpa penghuni berdiri di sana.

Jika kamu tertarik ingin mengeksplor kawasan Kota Tua Surabaya, kamu bisa menginap di Hotel Arcadia. Hotel Arcadia adalah hotel bergaya tempo dulu yang berdiri di kawasan Jembatan Merah Plaza.

Hotel ini didesain bergaya Eropa di awal abad 20. Sebelum bernama Hotel Arcadia, bangunan ini sebelumnya juga dikenal bernama Hotel Ibis.

View this post on Instagram

A post shared by SYAM.AE (@abdul_jabbars)

Kisaran harga menginap di hotel ini, yakni Rp300.000 hingga Rp500.000 per malam. Hotel tersebut juga dekat dengan Stasiun Pasar Turi.

Buat kamu yang suka wisata napak tilas bernilai sejarah panjang, kamu wajib berwisata ke Kota Tua Surabaya setelah masa PPKM.[]