Lifestyle

Jeritan Putri Bangsawan dari Desa Adat Sijunjung

Asal-usul nama desa adat ini berasal dari cerita tutur secara turun temurun. Di ambil dari teriakan perempuan yang terjepit himpitan batu di Sungai Mananti


Jeritan Putri Bangsawan dari Desa Adat Sijunjung
Patung seorang putri di Desa Si Junjung (Instagram/rika_nursanti)

AKURAT.CO, Jalan berliku di pinggiran Bukit Barisan akan mengantarkanmu menuju Desa Adat Sijunjung di Desa Koto Padang Ranah dan Tanah Bato, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Berjarak sekitar 110 kilometer dari pusat Kota Padang, desa adat ini bisa ditempuh dalam empat jam perjalanan dari pusat Kota Padang.

Desa ini menyimpan banyak destinasi menarik yang patut diacungi jempol. Sebab, beragam destinasi bagi pencinta kegiatan alam bebas tersaji di sini.

Usai menyusuri perkebunan karet, kamu akan menginjakkan kaki di pusat kota Sijunjung – Muaro Sijunjung. Pusat kotanya berada sekitar 20 kilometer dari jalur Lintas Sumatera. 

Cukup mudah menemukan perkampungan adat ini yang memanjang dan saling berhadap-hadapan, di salah satu ruas jalan yang tak jauh dari kantor bupati setempat hanya sekitar 15 menit perjalanan dengan kendaraan. Jembatan sepanjang 200 meter yang membentang di Batang Sukam, menjadi pintu masuk ke Desa Adat Sijunjung.

Namun, ada cerita di balik patung perempuan berpakaian adat yang berdiri kokoh saat memasuki kampung ini. Apa hubungannya dengan patung perempuan yang berdiri di pertigaan jalan dan tepat berada di tengah-tengah desa adat ini?

Dikutip dari Padang Kita, perempuan ini, menurut cerita Rajo Endah, dikenal dengan sebutan Puti Junjung. Puti merupakan sebutan untuk seorang perempuan bangsawan di Minang atau lebih akrab disebut dengan ‘Putri’.

Cerita asal-usul desa adat ini berlanjut dalam bahasa tutur secara turun temurun. Nama Sijunjung diambil dari hasil rapat yang digelar petinggi kampung. Kebuntuan terkait nama terjawab saat suara perempuan minta tolong yang memecah keheningan. Suara itu berasal dari tepi Sungai Mananti.

Tak satu pun yang mampu menyelamatkan perempuan yang terjepit di himpitan batu. Perempuan ini dikenal dengan Si Niar, nama kebangsawanan Puti Junjuang.

Hanya Syech Amaluddin berhasil membebaskan Puti Junjuang yang terjepit itu. Peristiwa itu yang kemudian menjadikan Ninik Mamak (lembaga adat) sepakat menamakan daerah ini dengan Sijunjuang. Puti Junjuang itu yang dibuatkan patungnya.

Hal ini juga diperkuat dengan data dari Pemerintah Sijunjung, yang menunjukkan Nagari Sijunjun atau tempat desa adat Sijunjung diyakini sudah ada sejak abad XII.

Meski sudah ada sejak abad ke-12, jumlah rumah adat di desa ini stagnan di angka 76. Angka ini bertahan sejak tahun 1950-an yakni lima tahun pasca Soerkano-Hatta membacakan teks Proklamasi di Lapangan Merdeka, ribuan kilometer dari Sijunjung.

Tidak mudah memang untuk mendirikan rumah adat di Desa Adat ini. Harus ada persetujuan pangulu (penghulu) untuk menambahnya, yang disepakati melalui rapat adat. Pangulu adalah pimpinan dalam adat Minangkabau. Status Pangulu diberi gelar datuak dan berperan penting dalam memutuskan perkara.

Selain itu, dalam pembangunan rumah gadang, juga mesti ada pedapat dari monti (menteri) dan tungganai (penjaga kampung). Ketiga pemimpin adat ini sebagai tungku tigo sajarangan. Ketiga pimpinan adat ini mesti hadir ketika rumah adat dibangun.

Pendapat Pangulu menjadi syarat wajib untuk membangun rumah adat baru di Desa Adat Sijunjung. Jika tak ada pangulu, maka rumah adat tak akan dibangun.[]