News

Naik Pesawat Wajib PCR, Susi Pudjiastuti: Yang Darat Tidak Penting?

Aturan terbaru perjalanan udara ditetapkan dalam Inmendagri Nomor 53 Tahun 2021


Naik Pesawat Wajib PCR, Susi Pudjiastuti: Yang Darat Tidak Penting?
Ilustrasi: Petugas kesehatan mengambil sampel lendir seorang warga saat tes usap PCR COVID-19 massal di Kantor Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Selasa (26/1/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban menyambut positif aturan pelaku perjalanan udara wajib menunjukkan hasil negatif tes PCR sebagai syarat penerbangan. 

Ia menilai aturan penerbangan yang diberlakukan 19 Oktober hingga 1 November 2021 oleh pemerintah ini sudah tepat.

"Saya pikir kebijakan tes PCR negatif sebelum naik pesawat itu penting," tulis Zubairi dalam cuitan di akun Twitternya, @ProfesorZubairi, Sabtu (23/10/2021).

Zubairi mengatakan, meski tubuh memproduksi antibodi dengan vaksin Virus Corona itu, tapi tidak serta merta mencegah penularan. Oleh karenanya masker pun tetap wajib digunakan di tempat tertutup seperti dalam pesawat.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ikut menyoroti cuitan Zubairi. Susi yang juga pengusaha penerbangan mempertanyakan mengapa PCR hanya diwajibkan bagi penumpang pesawat sementara pelaku perjalanan kereta maupun bus hanya disyaratkan antigen, bahkan ada yang tidak memakai tes sama sekali.

"Yang darat tidak penting?" tanya Susi di @susipudjiastuti.

Mendapat pertanyaan menohok dari Susi, Zubairi menepis. Zubairi merasa komentar Susi keluar konteks.

"Saya tidak bilang bahwa yang darat itu tidak penting," saut Zubairi.

Seperti diketahui, Pemerintah memperbarui aturan perjalanan udara melalui Inmendagri Nomor 53 Tahun 2021 Tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3, Level 2, Dan Level 1 Corona Virus Disease 2019 Di Wilayah Jawa Dan Bali.

Di dalam Inmendagri itu terdapat poin syarat untuk penumpang transportasi udara Jawa-Bali diwajibkan tes PCR meskipun sudah dua kali divaksin. Sementara di aturan sebelumnya calon penumpang hanya perlu menyerahkan hasil rapid antigen.

Perubahan ini disebut-sebut terkait adanya izin 100 persen kapasitas penumpang pesawat.[]