Lifestyle

Nafkah? Itu Baru 1 Tugas Suami, Lainnya Mana?

Nafkah operasioan dan nafkah probadi itu beda, loh!


Nafkah? Itu Baru 1 Tugas Suami, Lainnya Mana?
Citra Ayu Mustika (AKURAT.CO/Bonifasius Sedu Beribe)

AKURAT.CO, Kamu, wanita dewasa yang sedang bersiap untuk berumah tangga, apakah kamu sudah cukup siap untuk memiliki anak? Ya, pertanyaan di atas mungkin saja klasik buat kamu, tapi ini adalah hal wajib yang kamu mesti jawab dengan sungguh dan yakin.

Karena setelah memasuki bahtera rumah tangga, kamu akan disuguhi dengan segudang masalah yang menanti. Selain merencanakan untuk kapan memiliki anak, kamu juga harus memastikan kesiapanmu soal ingin memiliki berapa anak. Ini lagi-lagi sepele, tapi sangat penting, sebagaimana yang disampaikan Citra Ayu Mustika, seorang mompreneur yang juga aktif mengedukasi tentang pentingnya ASI dan hubungan seksual yang sehat bagi suami istri dalam sesi Live Instagram Akurat.co yang dipandu Redaktur Lifestyle Akurat.co, Irma Fauzia, baru-baru ini.

Citra memulai bahwa memiliki berapa anak sangat erat hubungannya dengan kesehatan fisik dan mental seorang ibu. Ia mengilustrasikan, misalnya pada saat kamu memiliki karir yang sedang menanjak di perusahaan tempatmu bekerja. Pada saat yang sama, kamu dihadiahi seorang anak yang tentu langsung menyita lebih dari separuh waktu, tenaga dan pikiranmu. Apa yang harus kamu lakukan? Lanjut bekerja? Resign? Sewa pembantu? Titipkan ke orangtua?

“Risiko kesehatan dan keselamatan wanita sejak saat hamil dan melahirkan adalah dia dan janinnya yang menanggung. Suaminya gak menanggung, loh! Yang terancam mati itu elu dan bayi lu,” bukanya.

Setelah masa itu selesai, tugas seorang ibu berlanjut lagi sebagai seorang pendidik. Si kecil harus dididik dengan baik sesuai dengan agama, dan norma sosial yang baik.

Citra membuat tiga catatan penting.

Kontrasepsi

Maka agar ibu selalu tetap sehat, fit dan “waras”, obrolan soal kontrasepsi dengan sang suami menjadi sangat penting. Karena bukan menjadi rahasia umum di Indonesia, menurut Citra, masih banyak wanita yang tidak memakai kontrasepsi karena tidak diizinkan suaminya. Ini adalah hal yang sangat fatal.

“Mindset para suami di sini harus dibangun bahwa kontrasepsi di sini tidak hanya menjadi tanggung jawab wanita saja. Pria pun punya pilihan berkontrasepsi, dengan kondom atau pil KB misalnya,” katanya.