News

Myanmar Makin Menutup Diri, Jaringan Internet Putus-putus dan Antena Parabola Disita

Jaringan internet di Myanmar putus-putus dan antena parabola yang digunakan untuk mengakses siaran berita internasional disita otoritas


Myanmar Makin Menutup Diri, Jaringan Internet Putus-putus dan Antena Parabola Disita
Demonstran antikudeta berunjuk rasa di Kamayut, Yangon, pada Kamis (8/4) (Associated Press)

AKURAT.CO, Pemutusan akses informasi oleh pemerintah militer Myanmar semakin memburuk pada Kamis (8/4). Pasalnya, jaringan pita lebar serat, cara legal terakhir bagi rakyat biasa untuk mengakses internet, terputus-putus di sejumlah jaringan. Otoritas di sejumlah daerah juga mulai menyita antena parabola yang digunakan untuk mengakses siaran berita internasional.

Dilansir dari Associated Press, masih belum jelas apakah gangguan internet untuk setidaknya 2 operator, MBT dan Infinite Networks, bersifat sementara. Menurut MBT, layanannya terhenti akibat pemutusan jalur antara Yangon dan Mandalay, 2 kota terbesar di negara itu. Namun, pelanggan sudah mengeluhkan perlambatan layanan sejak seminggu lalu.

Pemerintah militer perlahan-lahan menghentikan layanan internet sejak kudeta. Awalnya, mereka memblokir media sosial, seperti Facebook, kemudian memutus layanan data seluler, tetapi hanya pada malam hari. Saat junta meningkatkan penggunaan kekuatan mematikan terhadap demonstran, mereka juga memberlakukan larangan total penggunaan data seluler.

Tak sampai di situ, penggunaan televisi satelit sebagai sumber informasi juga tampaknya terancam. Di Laputta dan kota lainnya di Delta Irrawaddy, kendaraan pemerintah daerah mengumumkan melalui pengeras suara bahwa penggunaan antena satelit parabola tak lagi legal, sehingga harus diserahkan ke kantor polisi. Polisi juga menggerebek toko yang menjual perangkat tersebut dan menyitanya.

 Associated Press

Menurut layanan berita daring Khit Thit Media dan Mizzima, tindakan serupa juga dilakukan di negara bagian Mon. Padahal, TV satelit menyediakan akses ke sumber berita internasional tentang Myanmar.

Sejak kudeta, semua surat kabar harian non-milik negara telah berhenti terbit, sedangkan laman berita daring berada di bawah tekanan berat. Lima layanan berita independen populer diberedel pada awal Maret dan diberi tahu untuk berhenti menerbitkan maupun siaran di seluruh platform. Namun, kebanyakan menentang perintah tersebut.

Sementara itu, sekitar 30 jurnalis yang ditangkap sejak kudeta masih ditahan. Sekitar separuh di antaranya didakwa melanggar undang-undang yang mencakup peredaran informasi yang dapat merugikan keamanan nasional atau mengganggu ketertiban umum. Pelanggaran ini dapat dihukum hingga 3 tahun penjara.

Dalam surat terbuka pada Selasa (6/4) untuk pemerintah militer Myanmar, Komite Perlindungan Jurnalis yang berbasis di New York menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat untuk semua jurnalis yang ditahan.

"Sejak pengambilalihan militer, kondisi kebebasan pers memburuk dengan cepat dan drastis di negara Anda. Menurut laporan berita, jurnalis dipukuli, ditembak, dan terluka akibat peluru tajam. Mereka juga ditangkap dengan sewenang-wenang dan didakwa oleh pasukan keamanan hanya karena melakukan tugas mereka untuk meliput demonstrasi dan tindakan keras pembalasan rezim Anda," kecam kelompok tersebut.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu