Rahmah

Muslim Wajib Tahu! Begini Hukum Menjual Daging Hewan Kurban

Islam melarang menjadikan kulit dan sebagainya itu untuk upah bagi tukang jagal


Muslim Wajib Tahu! Begini Hukum Menjual Daging Hewan Kurban
Puluhan warga saat mengantri untuk mendapatkan bingkisan daging kurban di Kawasan Kembangan, Jakarta Barat, Sabtu (1/8/2020). Keinginan warga untuk mendapatkan daging kurban membuat mereka nekat berdesakan agar tidak kehabisan bingkisan yang berisi daging kambing dan sapi tersebut. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Sebentar lagi tanggal 10 Dzulhijah. Itu artinya akan ada proses penyembelihan hewan kurban di masjid-masjid atau musala terdekat. Setelah pemotongan hewan kurban selesai, sebagian orang menjual kulit dan kepala hewan kurban. Alasannya beragam, ada yang menjual karena kulit memiliki nilai jual yang tinggi sehingga mereka menjual dan mendapatkan uang hasil penjualan kulit tersebut. Ada juga yang memang ingin menjual saja daripada mubazir, serta alasan-alasan yang lainnya.

Imam Nawawi mengatakan, berbagai macam teks redaksional dalam mazhab Syafi'i menyatakan bahwa menjual hewan kurban yang meliputi daging, kulit, tanduk, dan rambut, semuanya dilarang. Begitu pula menjadikannya sebagai upah para penjagal.  Beliau berkata;

واتفقت نصوص الشافعي والاصحاب على انه لا يجوز بيع شئ من الهدي والاضحية نذرا  كان أو تطوعا سواء في ذلك اللحم والشحم والجلد والقرن والصوف وغيره ولا يجوز جعل الجلد وغيره اجرة للجزار بل يتصدق به المضحي والمهدي أو يتخذ منه ما ينتفع بعينه كسقاء أو دلو أو خف وغير ذلك

Artinya, “Beragam redaksi tekstual madzhab Syafi'i dan para pengikutnya mengatakan, tidak boleh menjual apapun dari hadiah (al-hadyu) haji maupun kurban baik berupa nadzar atau yang sunah. (Pelarangan itu) baik berupa daging, lemak, tanduk, rambut dan sebagainya."

Selain itu, juga dilarang menjadikan kulit dan sebagainya  untuk upah bagi tukang jagal. Akan tetapi (yang diperbolehkan) adalah seorang yang berkurban dan orang yang berhadiah menyedekahkannya atau juga boleh mengambilnya dengan dimanfaatkan barangnya seperti dibuat untuk kantung air atau timba, muzah (sejenis sepatu) dan sebagainya. (Lihat Imam Nawawi, Al-Majmu', Maktabah Al-Irsyad, juz 8, halaman 397).

Apabila terpaksa tidak ada yang mau memakan kulit tersebut, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain seperti dibuat terbang, bedug, dan lain sebagainya. Itupun jika tidak dari kurban nadzar. Kalau kurban nadzar atau kurban wajib maka harus diberikan ke orang lain sebagaimana diungkapkan oleh Imam As-Syarbini dalam kitab Al-Iqna'.

Dengan kata lain, panitia bisa memotong-motong kulit tersebut lalu dicampur dengan daging sehingga semuanya terdistribusikan kepada masyarakat secara merata. Bagi orang yang kurang mampu, kulit bisa dimanfaatkan untuk konsumsi lebih.

Bukan tanpa risiko, akibat dari menjual kulit dan kepala hewan sebagaimana yang berlaku, bisa menjadikan kurban tersebut tidak sah. Artinya, hewan yang disembelih pada hari raya kurban hanya menjadi sembelihan biasa, orang yang berkurban tidak mendapat fadlilah pahala berkurban sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

من باع جلد أضحيته فلا أضحية له) أي لا يحصل له الثواب الموعود للمضحي على أضحيته

Artinya, “Barangsiapa yang menjual kulit kurbannya, maka tidak ada kurban bagi dirinya. Artinya dia tidak mendapat pahala yang dijanjikan kepada orang yang berkurban atas pengorbanannya,” (HR Hakim dalam kitab Faidhul Qadir, Maktabah Syamilah, juz 6, halaman 121).

Kesimpulan dari penjelasan di atas, hewan kurban yang meliputi daging, kulit, dan tanduk semuanya tidak diperbolehkan untuk dijual. Apabila dijual, orang yang berkurban tidak mendapatkan pahalanya. Sedangkan penerima daging juga tidak boleh menjual daging atau kulit yang ia terima kecuali penerima tersebut merupakan orang fakir.[]

Sumber: Nu Online