Rahmah

Muridnya Keluhkan Masalah Pembelajaran, Ini Tanggapan Abu Nawas 

Suatu waktu, para murid Abu Nawas keluhkan cara pengajaran gurunya itu.


Muridnya Keluhkan Masalah Pembelajaran, Ini Tanggapan Abu Nawas 
Abu Nawas (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Suatu waktu, Abu Nawas mendapat kritik dari murid-muridnya. Usut punya usut, ternyata para muridnya itu merasa kurang berkenan dengan cara pengajaran gurunya itu. Mereka berharap, metode pengajaran dapat sesuai dengan konteks keadaan.

Ternyata kritikan itu sampai di telinga Abu Nawas. Namun Abu Nawas tidak menanggapinya dengan serius. Abu Nawas justru mengaggap wajar dengan adanya hal tersebut. Ia berpikir, kritikan tersebut akan membangun dirinya lebih baik lagi.

Keesokan harinya, saat sedang bersantai dengan murid-muridnya, Abu Nawas menceritakan kisah seorang pelajar kepada penjual buku.

"Wahai tuan, ini tidak ada buku anatomi yang lebih baru lagi? Buku-buku yang ada di sini sudah berumur 10 tahun atau bahkan lebih!" protes pelajar itu. 

"Tidak ada penambahan tulang apapun dalam tubuh manusia selama sepuluh tahun terakhir ini wahai anak muda," jelas sang penjual buku.

"Demikian juga sama halnya," sambung Abu Nawas, kemudian melanjutkan ceritanya "tidak ada penambahan apapun dalam kodrat manusia selama 10.000 tahun terakhir ini,".

Para santri di ruangan itu hanya bisa terdiam ketika sang guru bercerita. Kemudian Abu Nawas menatap tajam murid-muridnya ketika menutup cerita tersebut.

Namun tak lama setelah itu, sebuah kritikan lain kembali datang ditujukan kepada Abu Nawas. Kritik tersebut berangkat dari kekecewaan salah seorang murid yang menganggap Abu Nawas tidak dapat membedakan mana forum formal dan non formal.

Kritik tersebut datang pada suatu hari, saat sedang duduk bersama sesuai pengajian, ada seorang santri yang keceplosan berkata kalau gurunya itu seperti badut. Akan tetapi, ada murid yang lain menyanggah dan berkata,

"Engkau salah tangkap saudara. Seorang badut akan membuat engkau menertawainya, seorang guru membuat kamu menertawai diri sendiri," lanjutnya. 

Sebenarnya, Abu Nawas juga mendengar percakapan para santrinya itu. Akan tetapi, ia hanya menanggapinya dengan senyuman. Karena sekali lagi, ia merasa tidak terganggu dengan berbagai kritikan tersebut.

"Apakah sesuatu menjadi sungguh-sungguh benar, ketika tidak ada seorang pun yang menertawakannya?," kata Abu Nawas sambil tersenyum kecil. []