Olahraga

Multi Event Olahraga Internasional Diyakini Mampu Tinggalkan Legacy

Multi Event Olahraga Internasional Diyakini Mampu Tinggalkan Legacy
Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari (kiri) bersama Ketua Indonesia Asean Paragames Committe (INASPOC), Gibran Rakabuming Raka (NOC Indonesia)

AKURAT.CO, Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) percaya, penyelenggaraan multi-event olahraga internasional seperti Asean Para Games Solo 2022 mampu meninggalkan legacy.

Hal tersebut disampaikan Ketua NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari yang menyaksikan langsung gelaran Asean Para Games Solo 2022. Menurutnya, dari gelaran ini akan banyak pembelajaran yang dapat diambil.

"Olahraga selalu meninggalkan legacy dan ini terjadi di penyelenggaraan multi-event di Indonesia, baik Asian Games, Asian Para Games, termasuk ASEAN Para Games Solo," kata pria yang karib disapa Okto tersebut.

baca juga:

"Banyak legacy yang ditinggalkan dan kami bisa banyak belajar di sini, salah satunya terkait broadcasting karena ini pertama kali 14 pertandingan ditayangkan live di ASEAN Para Games."

Pembelajaran yang dimaksud, dapat diadopsi oleh NOC Indonesia. Khususnya dalam menyiapkan diri menjadi tuan rumah ANOC World Beach Games 2023 Bali. 

Ini akan menjadi multi-event olahraga pantai dan air paling prestisius yang diadakan di Indonesia. Setidaknya akan ada 1.200 atlet dari 100 negara akan hadir, termasuk para petinggi organisasi olahraga.

"Kami juga bisa banyak belajar karena Indonesia akan menjadi tuan rumah AWBG dan jumlah cabor yang dipertandingkan sama seperti ASEAN Para Games Solo, yakni 14 cabor," sebut Okto.

"Artinya kami dapat belajar juga menyelenggarakan pertandingan dengan cost yang efisien dan waktu yang pendek."

Senada dengan harapan Okto, Ketua Indonesia Asean Paragames Committe (INASPOC), Gibran Rakabuming Raka juga berharap penyelenggaraan multi-event olahraga untuk atlet difabel kali ini dapat meninggalkan legacy.

“Harapannya dengan adanya penyelenggaraan ASEAN Para Games ini adalah semoga Solo bisa lebih ramah dengan teman-teman difabel kita, dan warga Solo dapat lebih aware dengan atlet-atlet kita,” kata Gibran yang juga menjabat sebagai Wali Kota Solo

ASEAN Para Games ke-11 sejatinya diadakan di Vietnam, sebagaimana SEA Games edisi ke-31, Mei lalu. Namun, Vietnam memutuskan tidak menyelenggarakannya, sehingga Indonesia menawarkan secara sukarela untuk menjadi tuan rumah demi kepentingan atlet difabel se-Asia Tenggara yang tidak sempat merasakan kompetisi sejak 2019.[]