News

Mulai 6 Juli WNA Wajib Kantongi Bukti Vaksinasi Kalau Mau Masuk Indonesia

WNA wajib tunjukkan bukti vaksinasi jikalau mau masuk Indonesia


Mulai 6 Juli WNA Wajib Kantongi Bukti Vaksinasi Kalau Mau Masuk Indonesia
Penumpang saat berada di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (10/11/2020). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Seluruh Warga Negara Asing (WNA) yang ingin masuk ke Indonesia wajib mengantongi kartu/bukti vaksinasi. Juri Bicara Menko Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi mengatakan kebijakan ini berlaku mulai tanggal 6 Juli 2021

"Seluruh WNA yang ke Indonesia, mulai 6 Juli 2021, harus menunjukkan kartu vaksin (fully vaccinated) dan hasil PCR negatif Covid-19 sebelum bisa masuk Indonesia," kata Jodi dalam keterangan tertulis mengutip pertanyaan Menko Marves, Luhut Binsar Panjaitan pada Minggu (4/7/2021).

Sementara itu, untuk diplomat dan kunjungan pejabat asing setingkat menteri sesuai dengan praktek hubungan diplomatik yang juga diterapkan negara lain, akan berlaku pengecualian.

Masih mengutip pernyataan Menko Luhut, Jodi menjelaskan untuk WNI yang akan masuk ke Indonesia namun belum mengantongi kartu vaksin, harus terlebih dahulu menunjukkan PCR negatif Covid-19 sebelum kedatangan. 

Setelah dikarantina dan terbukti negatif PCR, mereka akan langsung mendapatkan vaksinasi.

"Aturan karantina bagi WNA maupun WNI, akan menjalani karantina selama 8 hari dengan dua kali tes PCR, yaitu saat kedatangan dan pada hari ke 7," jelas Jodi.

Adapun mengenai batas karantina selama 8 hari, hal itu sesuai arahan Kementerian Kesehatan dengan pertimbangan:

1. Dibutuhkan pengetatan masa karantina pelaku perjalanan internasional sebagai bentuk peningkatan kewaspadaan menghadapi variant of concern.

2. Median inkubasi virus SARS-CoV-2 varian Delta dan Alpha adalah 4 hari. Maka, masa karantina 8 hari berarti mencakup dua kali lipat median masa inkubasi virus tersebut.

3. Karantina 8 hari dilakukan dengan kombinasi entry & exit testing RT-PCR yang dilakukan pada saat ketibaan pelaku perjalanan (hari pertama) dan diulang pada hari ke-7.

4. Entry testing dilakukan untuk mendeteksi sedini mungkin potensi penularan dari pelaku perjalanan.

5. Exit testing dilakukan pada hari ke-7 untuk menunggu masa inkubasi virus, sebagai antisipasi virus belum terdeteksi pada tes pertama.

6. Kombinasi karantina dan entry-exit testing (hari ke-1 dan ke-7) dapat mencegah penularan pasca karantina, dengan probabilitas penularan < 0,25 persen.

7. Implementasi karantina pelaku perjalanan perlu dilakukan dengan disiplin dan ketat, agar tidak terjadi penularan di masa karantina.[]