Rahmah

MUI Segera Putuskan Fatwa Hewan Qurban Terpapar PMK

MUI akan melakukan pendalaman bersama sejumlah ahli dan Kementerian terkait untuk memutuskan fatwa apakah hewan terinfeksi virus Penyakit Mulut dan Kuku.


MUI Segera Putuskan Fatwa Hewan Qurban Terpapar PMK
Pekerja memberi makan sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) CV Berkah Usaha Baba Farm, Depok, Jawa Barat, Selasa (20/7/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun 2022 ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan melakukan pendalaman bersama sejumlah ahli dan Kementerian terkait untuk memutuskan fatwa apakah hewan terinfeksi virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) boleh dijadikan hewan qurban atau tidak pada Jumat, 27 Mei 2022.

Pernyataan tersebut ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, saat dihubungi MUIDigital, Senin (23/5/2022) sore.

“Setelah kita mendengar pendalaman dari ahli terkait virus PMK. Kita baru mengeluarkan statement fatwa tentang hewan yang terpapar virus PMK sah atau tidak untuk dijadikan (hewan) k qurban,” kata Kiai Mifatahul Huda dikutip laman resmi MUI.

baca juga:

Kiai Miftahul Huda menambahkan, pendalaman materi tersebut akan melibatkan Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan. Menurutnya, hewan qurban yang biasanya didatangkan dari beberapa daerah di Indonesia ini memerlukan aturan-aturan yang harus diterbitkan oleh kementerian terkait. Hal ini bertujuan untuk mencegah penularan terhadap hewan qurban yang lain.

Kendati, lanjut dia menyampaikan, ada pernyataan dari dokter yang masih memperbolehkan hewan yang terpapar virus PMK ini dikonsumsi. Tetapi, lanjutnya, untuk hewan qurban memiliki persyaratan khusus.

“Hewan qurban itu berbeda hukumnya dengan hewan yang disembelih untuk dikonsumsi dagingnya secara biasa,” jelasnya.

Selain itu, kiai Miftahul Huda mengatakan bahwa persyaratan hewan qurban di antaranya harus sehat secara fisik. Baik anggota tubuhnya tidak ada yang cacat, maupun tidak memiliki gangguan virus.

“Oleh karena itu, harus berhati-hati, meskipun ada pernyataan dari dokter bahwa daging hewan yang sudah terpapar virus PMK itu layak dikonsumsi. Tetapi untuk hewan qurban memiliki persyaratan khusus,” kata dia.

Lebih lanjut, Kiai Miftahul Huda menilai dampak dari virus PMK ini terhadap hewan menyebabkan hewan tersebut tidak bisa jalan karena menyerang tubuh kaki.

"Hewan pincang saja tidak boleh digunakan untuk qurban, apalagi yang tidak bisa jalan,” imbuhnya.

Lebih-lebih lagi, kata dia menyebut, di beberapa daerah yang sudah terpapar pandemi PMK ini banyak sekali sapi-sapi yang mati karena virus ini.

“Dan juga, kami membaca-baca literatur bahwa hewan yang sudah terpapar virus PMK ini ada bagian-bagian tubuh yang tidak boleh dikonsumsi, bagian mulut, kaki, dan jeroan (daleman),” jelasnya.

Sebab menurut literatur tersebut, Kiai Miftahul Huda menyebut, jeroan atau daleman hewan tersebut merupakan tempat berkembang biaknya virus PMK ditubuh hewan.

Karena itu, pihaknya mengingatkan bahwa hewan qurban nantinya akan menjadi tabungan di akhirat untuk ditunggangi. Sehingga dia menyarankan untuk memilih hewan qurban yang gagah dan sempurna fisiknya.

"Sehingga layak ditunggangi di hari akhir nanti. Oleh karena itu, harus berhati-hati memilih hewan qurban agar layak dan diterima oleh Allah SWT,” tandasnya. []