Rahmah

MUI: Masyarakat Perlu Hindari Hewan Kurban Terpapar PMK

MUI DIY meminta masyarakat menghindari hewan ternak baik sapi, kambing maupun kerbau yang terpapar atau bergejala penyakit mulut dan kuku untuk kurban.


MUI: Masyarakat Perlu Hindari Hewan Kurban Terpapar PMK
Petugas Balai Veteriner Subang memeriksa kesehatan hewan kurban jelang perayaan Hari Raya Iduladha di tempat penampungan hewan kurban, Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (15/7/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO  Menjelang Hari Raya Idul Adha 2022, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta masyarakat menghindari hewan ternak baik sapi, kambing maupun kerbau yang terpapar atau bergejala penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk kurban.

“Hewan terpapar PMK itu kan berpenyakit, kalau ada hewan yang sehat sebaiknya kita tidak menggunakan hewan sakit karena akan berdampak pada hal-hal yang mudharat,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI DIY, KH Makhrus Munajat, Jumat (20/5/2022) dikutip laman resmi MUI.

Meskipun begitu, terlepas dari kemunculan wabah PMK, Makhrus menklai sesuai syariat Islam dalam berqurban masyarakat memang diwajibkan memilih hewan yang sehat. Sehingga tidak untuk hewan kurban yang cacat fisik serta cukup umur.

baca juga:

“Bahkan yang (cacat) fisik pun kita tidak boleh misalnya tanduk hilang, hewan yang ekornya putus, telinganya hilang satu juga tidak boleh,” ucapnya.

Dengan demikian, lanjut Makhrus menyampaikan, selama masih ada hewan yang sehat, pihaknya meminta kepada masyarakat tidak memilih hewan yang terpapar maupun bergejala PMK. Begitu juga untuk hewab yang terkena antraks atau cacing hati maka harus dihindari.

Makhrus menambahkan, seandainya masyarakat tidak mengetahui bahwa ternak yang telah disembelih sebagai hewan kurban ternyata terpapar virus penyebab PMK, maka pihaknya menyebut tetap halal untuk dikonsumsi.

“Ketika disembelih pun dagingnya halal dimakan. Dagingnya sah dimakan,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Hendra Wibawa menyampaikan, masyarakat yang hendak berkurban dapat memilah hewan yang terpapar PMK dari sejumlah gejala klinis seperti mulut melepuh dan lendir berlebih, demam, serta luka pada bagian kaki.

Sebab secara prinsip, kata Hendra menuturkan, PMK bukan tergolong “zoonosis” atau penyakit yang dapat ditularkan hewan ke manusia. Karena itu, pihaknya menyebut, apabila daging hewan yang terpapar terpaksa dikonsumsi oleh manusia, maka tidak membahayakan.

Karena itu, pihaknya juag masyarakat yang mengonsumsi menghindari bagian kaki, kepala, dan jeroan atau organ dalam hewan. Bagian-bagian itu, kata dia, merupakan bagian yang banyak terpapar virus penyebab PMK.

“Tidak membahayakan manusia, jadi risiko zoonosis-nya diabaikan karena belum ada penyakit PMK pada manusia. Ini berbeda dengan penyakit mulutnya manusia,” pungkasnya. []