Rahmah

MUI: Distribusi Daging Kurban dalam Bentuk Olahan Hukumnya Boleh

Apakah boleh mendiskusikan daging kurban dalam bentuk olahan?


MUI: Distribusi Daging Kurban dalam Bentuk Olahan Hukumnya Boleh
Pekerja memberi makan sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) CV Berkah Usaha Baba Farm, Depok, Jawa Barat, Selasa (20/7/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Tak lama lagi, umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Di momentum istimewa ini, umat Islam beramai-ramai melaksanakan kurban.

Dalam ajaran Islam sendiri ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang bernilai sosial. Sebab dengan cara mebagikan hewan kurban, umat Islam akan bergotong royong membantu orang-orang sekitar yang membutuhkan.

Namun dalam pelaksanaannya, apakah boleh mendiskusikan daging kurban dalam bentuk olahan?

baca juga:

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indoneisia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang hukum membagikan daging kurban yang sudah diolah dan didistribusikan ke luar daerah. Melalui fatwa ini, MUI membolehkan pendistribusian daging kurban dalam bentuk olahan dalam kondisi tertentu.

Dalam fatwa tersebut juga dijelaskan bahwa menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak.

Berikut ini bunyi lengkap fatwanya seperti dikutip laman resmi MUI.

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor 37 Tahun 2019

Tentang

PENGAWETAN DAN PENDISTRIBUSIAN DAGING KURBAN DALAM BENTUK OLAHAN

Ketentuan Hukum

Pada prinsipnya, daging hewan kurban disunnahkan untuk:

a. didistribusikan segera (ala al-faur) setelah disembelih agar manfaat dan tujuan penyembelihan hewan kurban dapat terealisasi yaitu kebahagian bersama dengan menikmati daging kurban.

b. dibagikan dalam bentuk daging mentah, berbeda dengan aqiqah

c. didistribusikan untuk memenuhi hajat orang yang membutuhkan di daerah terdekat.

Menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak.

Atas dasar pertimbangan kemaslahatan, daging kurban boleh (mubah) untuk:

a. Didistribusikan secara tunda (ala al-tarakhi) untuk lebih memperluas nilai maslahat.

b. dikelola dengan cara diolah dan diawetkan, seperti dikalengkan dan diolah dalam bentuk kornet, rendang, atau sejenisnya.

c. Didistribusikan ke daerah di luar lokasi penyembelihan.

Ditetapkan di: Jakarta

Pada tanggal : 7 Dzul Hijjah 1440 H

7 Agustus 2019 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KOMISI FATWA

PROF. DR. H. HASANUDDIN AF., MA.

Ketua

DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA

Sekretaris. []