News

MUI Desak Pemerintah Indonesia Turun Tangan Bantu Warga Yaman yang Kelaparan

MUI mendesak Pemerintah Indonesia untuk membantu penyelesaian konflik bersenjata yang dampaknya terhadap penduduk Yaman.


MUI Desak Pemerintah Indonesia Turun Tangan Bantu Warga Yaman yang Kelaparan
Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerahkan bantuan kemanusian berupa paket sembako untuk warga terdampak pandemi Covid-19 atau virus corona.

AKURAT.CO, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak Pemerintah Indonesia untuk membantu penyelesaian konflik bersenjata yang dampaknya terhadap penduduk Yaman. Mereka kelaparan.

Wakil Sekjen MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasamanya Internal (HLNKI) Habib Ali Hasan Bahar mengimbau Pemerintah Indonesia untuk mengintensifkan koordinasi dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Tujuannya untuk membantu penyelesaian konflik secara damai, dan membantu mengatasi kelaparan di negeri Yaman itu,” katanya, Senin (8/3/2021).

baca juga:

Dia mengatakan, MUI juga mendesak agar semua pihak yang terlibat dalam peperangan di Yaman untuk segera melakukan gencatan senjata. Sebab, konflik bersenjata di era pandemi saat ini itu justru bakal merugikan warga Yaman sendiri.

“Serta melakukan perundingan untuk menyelesaikan pertikaian mereka secara damai sesuai dengan spirit Islam yang berarti kedamaian,” ujarnya.

Ketua MUI Bidang HLNKI Sudarnoto Abdul Hakim menambahkan, PBB menyerukan penggalangan dana untuk membantu penduduk Yaman yang kelaparan karena peperangan. Seruan itu disambut MUI dengan menyerukan kepada umat Islam Indonesia menggalang bantuan untuk krisis kemanusiaan dan kelaparan di Yaman.

“MUI menyerukan kepada umat Islam Indonesia umumnya, dan ormas Islam dan lembaga kemanusiaan di Indonesia khususnya untuk menggalang dana guna membantu saudara kita di Yaman yang sedang mengalami kelaparan akibat peperangan tersebut,” ujarnya.[]

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu