Rahmah

MUI Beri Penjelasan Hukum Soal Uang Kembalian Diganti dengan Permen

Uang kembalian diganti dengan permen, bagaimana hukumnya?


MUI Beri Penjelasan Hukum Soal Uang Kembalian Diganti dengan Permen
Sejumlah pedagang melayani pembeli jelang waktu berbuka puasa di Kawasan Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat (3/4/2022). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Terkadang saat kita membeli sesuatu di mini market atau sebuah warung, kita mendapat kembalian uang yang diganti dengan permen. Hal ini disebabkan karena warung tersebut, tak memiliki uang kembalian dengan jumlah kecil.

Lantas bagaimana Islam memandang hal tersebut?

Seperti dikutip lama resmi MUI, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan dua pandangan terkait malasah di atas.

baca juga:

Pertama, transaksi jual beli dengan cara diam, yaitu ketika diberi permen karena tidak ada uang kembalian, bila tidak dibantah maka itu jual beli yang dimengerti dan didiamkan, hukumnya sah karena dianggap jual beli dengan cara diam melalui isyarat absah.

Dalam kaidah ushul yang didasari pada ayat yaitu:

فاستبشروه ببيعكم الذي بايعتم به

Artinya; jual beli tanpa ijab kabul sah karena Allah telah membeli amal shaleh seorang muslim dengan pembayaran surga tanpa ijab kabul.

Kedua , bila tidak rela diberi permen harus bicara dan menolak karena bila tidak menolak maka jual beli permen itu sah dengan dasar kaidah.

البائعان بالخيار ما لم يتفرقا

Dua, orang yang bertransaksi didasari pada pilihan (keinginan) selama tidak berpisah.

Adapun benang merah dari permasalahan tersebut adalah apabila tidak mendatangkan protes, maka sah jual beli permennya. Hal ini sebagaimana Sayyid Abi Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha’ dalam Hasyiyah I’anah at-Thalibin berpendapat dikutip NU Online:

 ـ (والحاصل) المعاطاة: هي أن يتفق البائع والمشتري على الثمن والمثمن، ثم يدفع البائع المثمن للمشتري، وهو يدفع الثمن له، سواء كان مع سكوتهما، أو مع وجود لفظ إيجاب أو قبول من أحدهما، أو مع وجود لفظ منهما لكن لا من الالفاظ المتقدمة 

“Kesimpulan. Mu’athah adalah sepakatnya penjual dan pembeli atas harga dan barang yang dihargai lalu penjual memberikan barang pada pembeli dan pembeli memberikan nominal uang pada pembeli. Baik keadaan mereka berdua sama-sama diam ataupun terdapat ucapan serah terima dari salah satu dari penjual dan pembeli, atau terdapat perkataan dari keduanya namun bukan berupa perkataan yang biasa terlaku dalam jual beli.” (Sayyid Abi Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha’, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 3, hal. 8).

Akan tetapi, jika menolak dan dipaksakan itu adalah kezaliman. Meskipun demikian, yang perlu diperhatikan dengan sumbangan ke tempat yang tak jelas sebaiknya ditolak karena mereka bukan panitia absah sumbangan seperti BAZNAS. Terkecuali apabila ada kerjasama dengan lembaga yang diyakini dilakukan secara bertanggung jawab, maka tidak masalah. Apabila ada potensi disalahgunakan maka harus ditolak sumbangan tersebut. Wallahu A'lam Bishawab. []