News

Mudik Dilarang, MTI Sarankan Pemerintah Juga Hentikan Sementara Pergerakan Moda Transportasi


Mudik Dilarang, MTI Sarankan Pemerintah Juga Hentikan Sementara Pergerakan Moda Transportasi
Ratusan pemudik saat turun dari kereta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Minggu (9/6/2019). PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero memprediksi puncak arus balik pemudik Lebaran dengan kereta api ke Jakarta akan terjadi pada hari ini hingga minggu depan mendatang. Diprediksi sekitar 20 ribu-an pemudik akan turun dari stasiun pasar Senen dari berbagai daerah di kawasan Jawa. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Menteri Perhubungan ad interim, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan Larangan Mudik akan efektif diberlakukan mulai 24 April 2020.

"Larangan Mudik ini berlaku efektif terhitung sejak hari Jumat tanggal 24 April 2020. Ada sanksi-sanksinya, namun bentuk penerapan sanksi yang sudah disiapkan akan efektif dikerjakan mulai 7 Mei 2020," kata Luhut, di Jakarta, Selasa (21/4/2020). 

Menanggapi hal ini, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyarankan agar pelarangan mudik berjalan efektif, maka harus dimulai dengan penghentian operasi sementara moda transportasi, baik angkutan umum maupun pribadi.

“Sikap MTI secara umum dan masukan kawan-kawan dari wilayah, medianya (moda transportasi) yang harus kita cekal,” kata Ketua Umum MTI Agus Taufik Mulyono dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (21/4/2020). 

Agus mengatakan transportasi menjadi media penularan COVID-19 paling berpengaruh, karena membawa perpindahan manusia dari zona merah ke daerah tujuan mudik.

Namun, ia mengatakan pelarangan tersebut tidak lantas langsung dipatuhi masyarakat atau perantau di Jabodetabek.

"Sebab, di antaranya juga ada yang tetap bersikeras mudik, meskipun sudah ada pelarangan dari pemerintah, terutama bagi mereka yang tidak memiliki penghasilan lagi di Jabodetabek karena terimbas wabah COVID-19,“ jelasnya. 

Sementara itu, juga ada pemudik yang tetap ingin ke kampung halaman karena ingin bertemu keluarga dan sudah tradisi meskipun kebutuhan masih tercukupi dan memiliki pekerjaan tetap.

Untuk itu, Agus mengatakan perlu juga adanya pengawasan bagi mereka yang nekat mudik dengan kendaraan pribadi dan memilih melintasi jalan alternatif.

Agar pergerakan lebih bisa terbendung lagi, ia mengusulkan SPBU ditutup, sehingga kesempatan bagi pemudik untuk mengisi bahan bakar kendaraan pribadi menjadi hilang.

“Perlu dipertegas pada saat puncak nanti, jalan ditutup dan SPBU juga ditutup karena orang masih mau mudik lewat jalan tikus,” tukasnya.[]