News

Mudawamah, Kunci Merehabilitasi Kualitas Puasa untuk Raih Predikat Takwa

Berpuasa di bulan Ramadan harus dipahami sebagai ritual tahunan yang kaya makna teologis


Mudawamah, Kunci Merehabilitasi Kualitas Puasa untuk Raih Predikat Takwa
Mas'udi Jufri dalam Bincang Hikmah (Akurat.co/Lufaefi)

AKURAT.CO, Berpuasa di bulan Ramadan harus dipahami sebagai ritual tahunan yang kaya makna teologis. Bukan sekadar menahan lapar dan minum. Tapi bagaimana menjadikan momentum puasa sabagai momen penting untuk merehabilitasi atau memperbarui nilai keimanan dan ketakwaan.

"Bahwa dalam kenyataannya, perjalanan manusia penuh lika-liku yang tidak menentu, maka untuk menjadi pribadi yang bertakwa itu harus terus direhablitisasi, bagaimana? Kita isi momentum puasa ini dengan ibadah," kata Akademisi IAIN Kudus Mas'udi Jufri dalam Bincang Hikmah, Rabu (14/4/2021).

Ada pertanyaan bagaimana dengan pekerja yang tidak punya banyak waktu beribadah? Mas'udi menjelaskan bahwa agama itu memberikan kemudahan dalam beribadah.

Dia menyampaikan untuk melakukan ibadah yang bisa dilakukan. Jika tak memungkinkan membaca Alquran karena ada di tengah laut, bisa saja membaca yang dihafal. Seperti menbaca surat Al-Ikhlas.

"Bagaimana kita selalu mendekatkan diri kepada Allah. Nah disini mudawamah (konsistensi) yang harus saling kuatkan dalam beribadah kepada Allah. Sehingga rehabilitasi kita itu betul-betul tercapai menjadi manusia yang disebut Fi Ahsani Takwim," kata Mas'udi.

Lebih jauh Mas'udi menyampaikan bahwa untuk membanngun ketakwaan tak mudah. Perlu instrumen agar membangun ketakwaan terus berjalan. Di antaranya dengan saling mengingatkan dalam hal kebaikan, selalu mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah.

"Kita infiltrasi semua yang jelek saat menjalankan aspek keagamaan. Kita harus ingat kita akan kembali akan diturunkan derajat terendah jika berbuat buruk. Dengan beriman dan beramal adalah niscaya untuk bangkit," kata Mas'udi.

Mas'udi juga menjelaskan hakikat takwa adalah kontinyuitas. Maka saat rehabilitasi puasa itu harus muncul. Maka ketika dituntut istighar sebagai bagian dari rehabilitasi, lakukan, itu mengembalikan nilai ketuhanan. Sebab kalau tidak bisa memenej antara nilai insaniyah dan rububiyah, bisa-bisa lebih dominan nilai insaniyahnya.

"Karena itu teruslah merehabilitasi diri, bukan selesai Idul Fitri, maka ngajinya selesai juga, Bisa berbahaya. Bukan lempat toga karena lulus, bukan dimuseumkan alqurannya," kata Mas'udi. []

Erizky Bagus

https://akurat.co