News

Muak Protokol Covid-19 Kerap Berubah, Guru di Prancis Gelar Protes Massal, Ratusan Sekolah Tutup

Perubahan protokol pengujian Covid-19 untuk sekolah Prancis telah memicu ribuan guru di seluruh negeri untuk mogok kerja dan berdemo massal.


Muak Protokol Covid-19 Kerap Berubah, Guru di Prancis Gelar Protes Massal, Ratusan Sekolah Tutup
Demonstran berkumpul di kota Clermont-Ferrand pada hari Kamis ketika serikat guru dan siswa Prancis menyerukan pemogokan nasional sebagai protes atas protokol Covid-19 pemerintah untuk sekolah. (Adrien Fillon/Hans Lucas/Reuters)

AKURAT.CO  Perubahan protokol pengujian Covid-19 untuk sekolah Prancis telah memicu ribuan guru di seluruh negeri untuk mogok kerja dan berdemo massal.

Seperti diwartakan CNN, demo dari para guru itu pecah pada Kamis (13/1), dengan demonstran mengeluhkan aturan yang selalu berubah. Juru  bicara dari salah satu serikat pengajar Prancis, mengungkap protokol yang berubah itu 'secara terus-menerus memicu kekacauan'. Menurut juru bicara itu, aturan yang berubah itu juga dianggap bisa membahayakan nyawa guru.

Kementerian Pendidikan Prancis mengonfirmasi demo itu, mengatakan bahwa sekitar 31 persen dari semua guru sekolah Prancis telah mogok pada Kamis. Kemudian dari total guru yang ikut protes itu, 38 persennya  berasal dari pengajar sekolah dasar, dan hampir 24 persen adalah guru di sekolah menengah.

baca juga:

Namun, angka dari kementerian tersebut secara signifikan lebih rendah daripada data yang diberikan oleh serikat guru Prancis pada hari sebelumnya. 

"Ini menjadi bukti bahwa sekali lagi, kementerian telah meremehkan besarnya pemogokan," kata juru bicara Gabungan Nasional Guru Sekolah Dasar, Guislene David, ketika ditanya tentang perbedaan tersebut.

Sementara itu, menurut kantor wali kota di Paris, jumlah  guru yang melakukan pemogokan mencapai hingga 58 persen. Wali kota juga menyebut bahwa karena aksi itu, hampir 200 sekolah tutup pada Kamis.

Sebuah protes yang diselenggarakan oleh serikat guru dimulai sekitar jam makan siang di Paris. Namun, sekelompok kecil guru sudah terlihat turun ke jalan dan menuju pusat monumen Arc de Triomphe di Paris. Situasi serupa juga terjadi kota-kota lain sejak Kamis pagi.

Seorang anggota serikat pekerja Prancis kemudian mengatakan bahwa aksi pemogokan para guru bukanlah bentuk menentang penanganan virus, melainkan pemogokan terhadap kurangnya konsultasi.

Aksi protes para guru telah ditanggapi oleh Perdana Menteri Prancis Jean Castex dan Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer. Mereka kemudian mengatakan agenda pertemuan dengan perwakilan semua guru yang mogok pada Kamis sore. 

Seorang juru bicara Kementerian Pendidikan juga telah mengonfirmasi hal itu, menyebut Castex dan Blanquer akan menghadiri pertemuan tersebut. Menyusul itu, laporan menyebut bahwa Menteri Kesehatan Olivier Veran, akan ikut bergabung. Namun, berhubung Veran sedang  menjalani isolasi karena positif Covid-19, ia akan ikut bernegosiasi dengan para guru melalui konferensi video. 

Pada hari Selasa (11/1), Prancis mencatat jumlah infeksi harian Covid-19 tertinggi sejak pandemi dimulai, dengan total 368.149 kasus baru, menurut data yang dirilis oleh pemerintah Prancis. Lebih lanjut, 361.719 kasus baru dicatat pada hari Rabu (12/1).

-Para guru sudah 'muak'

Muak dengan Protokol Covid-19 yang Kerap Berubah, Guru di Prancis Gelar Protes Massal, Ratusan Sekolah Tutup - Foto 1
 Guru Prancis mengambil bagian dalam demonstrasi di Nice pada hari Kamis mengenai protokol Covid-19 pemerintah untuk sekolah - Eric Gailard/Reuters

Para pemimpin serikat mengatakan anggota mereka frustrasi dengan pedoman penanganan pandemi yang terus berubah. 

Pada 2 Januari, menjelang semester sekolah baru, Blanquer menguraikan aturan anyar soal Covid-19 untuk sekolah.

Aturan tersebut menyatakan bahwa jika kasus positif Covid-19 terdeteksi di suatu kelas, maka semua siswa lain harus mengikuti tiga tes Covid-19 dalam empat hari. Aturan itu dikatakan adalah syarat untuk siswa tetap bisa bersekolah. Kemudian dalam aturannya, para siswa harus terlebih dahulu mengikuti tes PCR atau antigen. Dari pengujian itu, dua tes dilakukan secara mandiri di rumah, di hari ke-2 dan ke-4.

Namun, yang kemudian ikut menjadi masalah adalah bahwa aturan itu baru diketahui pihak sekolah hanya sehari sebelum tahun ajaran baru dimulai. Hal ini turut diungkap oleh Laurent Berger, kepala Konfederasi Buruh Demokrat Prancis, yang serikat pekerjanya bergabung dalam pemogokan Kamis. Berger juga menambahkan bahwa peraturan selalu berubah 'sepanjang waktu'.

"Guru dan para staf sudah muak," ujar Berger, sambil menuduh Blanquer 'salah menangani' pandemi di sekolah.

Pada Senin (10/1), aturan berubah lagi. Castex mengumumkan selama wawancara dengan stasiun TV Prancis, France 2, bahwa siswa sekarang hanya diminta untuk mengambil tiga tes Covid-19 yang dilakukan sendiri di rumah.

Jika tes pertama negatif, anak-anak dapat kembali ke sekolah keesokan harinya, sebelum mengambil tes kedua di rumah malam itu, kata juru bicara kementerian kesehatan Prancis. 

Lalu perubahan lain yang diumumkan Castex adalah bahwa mulai Selasa (11/1), orang tua dari anak-anak yang merupakan kontak dekat dari kasus positif tidak perlu lagi langsung menjemput anaknya. Dengan kata lain, para orang  tua itu bisa menunggu hingga hari sekolah berakhir. Namun, untuk kesekian kali, perubahan ini justru disampaikan melalui media, termasuk Castex diwawancara oleh stasiun TV Prancis, France 2.

"Kami diberi tahu oleh media dan bukannya menteri. 

"Guru dan sekolah Prancis sudah muak. Mengingat fakta bahwa pihak berwenang terus mengubah aturan, menyebabkan kekacauan terus-menerus di sekolah," ujar David, dari Gabungan Nasional Guru Sekolah Dasar. 

David juga menambahkan bahwa protokol pengujian justru akan memungkinkan virus dengan mudah masuk ke sekolah dan tidak melindungi para guru.[]