Lifestyle

Move On, Dong! Ini Cara Aman Berdamai dengan Masa Lalu

Simak penjelasan Psikolog Klinis Associate APDC Indonesia, Iswan Saputro, M.Psi, Psikolog


Move On, Dong! Ini Cara Aman Berdamai dengan Masa Lalu
Ilustrasi putus cinta (nypost.com)

AKURAT.CO, Putus itu memang tidak enak. Karena pada awalnya, semua hubungan dijalin untuk waktu yang lama. Bersama, dan selamanya. Tapi di tengah jalan, tentu akan banyak perubahan yang terjadi, yang membuat kamu atau dia lebih dahulu mengambil langkah untuk pisah.

Kamu boleh sedih. Tapi, jangan terlalu dalam. Ambillah cara yang paling baik, sesegera mungkin agar kamu cepat move on. Mungkin sesekali, saat ini kamu masih sering terjebak dalam nostalgia pahit yang ingin selalu disangkal.

Tapi, Psikolog Klinis Associate APDC Indonesia, Iswan Saputro, M.Psi, Psikolog., mengatakan, berdamai dengan masa lalu ataupun trauma memang tak semudah kedengarannya. Namun yang perlu diingat, manusia sendiri tak bisa melupakan masa lalu, bahkan menghapusnya.

Yang bisa dilakukan adalah memfokuskan diri dalam merespon emosi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu, ataupun hal-hal yang bersifat traumatik.

Ia mengingatkan, berdamai dengan masa lalu tak sama dengan melupakan masa lalu. Berdamai dengan masa lalu atau trauma adalah ketika kamu mengingat masa lalu, maka responnya akan jauh berbeda dan lebih positif.

“Kalau ditanya bisa gak melupakan masa lalu atau trauma? Jawaban saya nggak. Tapi yang bisa kita intervensi, atau terapi adalah bagaimana kita merespon masa lalu itu sendiri. Yang pertama bisa kita lakukan adalah memvalidasi emosi kita sendiri. Itu paling basic banget. Karena biasanya beberapa orang itu ketika mendengat kata trauma itu sudah takut duluan. Lalu, langkah kedua yang perlu dicoba adalah dengan katarsis emosi,” papar Iswan, dalam sesi IG Live, baru-baru ini.

Dijelaskannya bahwa katarsis yang disebut juga penyaluran atas emosi yang dirasakan oleh seseorang. Bentuk emosi itu biasanya berupa rasa marah, frustrasi, ataupun sedih yang dilampiaskan pada aktivitas fisik atau kegiatan lain yang bisa melepaskan stres.

“Jadi dengan katarsis, kita bisa menyalurkannya ke arah yang lebih positif. Umumnya, tindakan ini bisa diterima supaya dapat menurunkan tingkat stres ataupun emosi negatif yang dirasakan,” paparnya.

“Kita perlu membiarkan katarsis atau meluapkan emosinya. Biarkan orang itu nangis, biarkan dia menyampaikan keresahan-keresahannya, ketakutan-ketakutan yang dia miliki. Karena kita harus memvalidasi emosionalnya. Kita harus building trust, kemudian bagaimana kita berempati, kita harus tahu dulu apa yang dia rasakan. Walaupun ecara umum kita sudah bisa membayangkan. Tapi kita coba biar semuanya keluar dari mulut orang itu sendiri. Tujuannya, biar dia tenang dulu,” sambung Iswan.

Lanjutnya, yang harus dipahami tentang trauma itu sendiri adalah jelas bahwa trauma ini sifatnya sangat personal. Tiap orang punya story masing-masing dalam menginterprestasi masa lalunya.

Jadi kata dia, usahakan ketika berhadapan dengan orang yang memiliki trauma, jangan ‘menabrakakannya’ dengan value apapun. Karena itu akan membuat orang yang traumatis merasa tertolak dan gagal.

“Kedua, jangan ‘adu nasib’. Karena trauma itu sangat subjektif tiap orang. Karena toleransi rasa sakit tiap orang itu berbeda, jangan dipukul rata. Ada momen yang harus kita pahami bahwa tiap orang punya struggle-nya masing-masing. Dan ini berlaku juga buat diri kita sendiri. Kalau kita aware tentang masalah yang membuat kita trauma, sense of crisis kita bermain,” terang Iswan.

Lantas, jika sudah bisa move on dengan masa lalu ataupun trauma, apa hal itu bakal recall di masa depan?

Soal itu, kata Iswan, tentu hal itu akan sangat mungkin terjadi. Tapi yang perlu dicatat, mungkin reaksimu nantinya tak akan seluar biasa di awal sebelum proses terapi atau konseling.

“Karena kita gak bisa melupakan masa lalu ataupun trauma. Dan ingat, proses menyembuhkan trauma ini sangat personal, makanya gak ada kompetisi di sana,” ujarnya.

Ia menyarankan bahwa ketika kamu sedang merasakan perasaan sedih, kesal, emosi, dan lain-lainnya, kamu harus bisa mencoba melampiaskan dengan berbicara dengan teman, mendengarkan musik, menulis jurnal, membaca buku, nonton film, olah raga, atau hal lainnya.[]

Lihat Sumber Artikel di HerStory Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan HerStory. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari HerStory.