Lifestyle

Mom, Yuk Selamatkan Si Kecil dari Penularan HIV

Seorang ibu dapat menularkan virus HIV ke anaknya selama kehamilan, persalinan dan menyusui. Ini cara mencegah penularan HIV selama kehamilan


Mom, Yuk Selamatkan Si Kecil dari Penularan HIV
Ilustrasi ibu hamil yang menantikan kelahiran (PIXABAY.COM)

AKURAT.CO, Human Immunodeficiency Virus (HIV) umumnya ditularkan lewat perilaku berisiko, seperti hubungan seks tanpa kondom atau penggunaan jarum suntik bersama. Selain itu, seorang ibu dapat menularkan virus HIV ke anaknya selama kehamilan, persalinan dan menyusui. 

Risiko penularan HIV dari ibu hamil yang positif sekitar dua hingga sepuluh persen. Sementara penularan HIV lewat ASI bisa mencapai lima hingga 20 persen.

Terkait kondisi ini, Dr Maya Trisiswati, MKM lantas menyarankan ibu hamil yang terinfeksi HIV untuk tidak bersembunyi, dan segera mengikuti Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPAI), termasuk harus rutin minum antiretroviral (ARV) setiap hari. ARV sendiri sudah dibuktikan aman untuk ibu hamil. 

"Angka kejadiannya 25 sampai 45 persen. Itu bisa ditekan sampai dengan dibawah delapan persen, di luar negeri bisa sampai dua persen, apabila ibu hamil mengikuti program Penceragan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA)," ujar Dr Maya dalam workshop kesehatan yang diikuti Akurat.co, Senin, (13/9/2021). 

ARV akan menerakan HIV dalam tubuh hingga bisa tidak terdeteksi. Pada saat tidak terdeteksi, maka HIV tidak bisa menular kepada bayi. Kondisi ini pun akan memungkinkan ibu hamil untuk melakukan persalinan pervaginam. Tentunya, penolong persalinan sudah paham tentang HIV, memakai APD dan menerapkan prosedur lainnya sehingga persentase penularan tetap nol. 

"Sebaiknya secepatnya akses ARV.  Pengalaman membuktikan mampu menekan jumlah virus sehingga bisa ibu melahirkan bayi tanpa menularkan HIV," tegasnya. 

Setelah melewati persalinan, virus HIV juga masih bisa tertular lewat air susu ibu (ASI). Oleh sebab itu, ibu hamil harus memastikan HIV terus tertekan dan tidak terdeteksi. Dengan begitu, ibu hamil bisa  memberikan ASI eksklusif kepada Si Kecil dengan aman. Namun, segera hentikan pemberian ASI jika puting terluka. 

"Jika konsumsi ARV dengan baik, maka bumil bisa memberi ASI eksklusif dengan baik," tukasnya.

Adapun kondisi bayi akan tetap dipantau secara rutin hingga usia 18 bulan. Sejak berusia enam minggu dari kelahirannya, bayi akan melakukan pemeriksaan PCR atau early infant diagnosis (EID). Apabila sang bayi ternyata tertular HIV, maka dokter akan memberikan ARV cair. Dosis yang diberikan tergantung kepada berat badan bayi  tersebut.[]