Lifestyle

Mom, Bayi Tak Boleh Pakai Masker Lho, Ini Risikonya

WHO menilai masker memiliki risiko tinggi untuk bayi


Mom, Bayi Tak Boleh Pakai Masker Lho, Ini Risikonya
WHO ingatkan bayi tidak perlu menggunakan masker

AKURAT.CO, Pasca libur Lebaran 2021 Indonesia mengalami peningkatan kasus aktif Covid-19. Hal tersebut terlihat dari jumlah kasus harian, angka kematian dan pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit terus bertambah.

Juru bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, Dokter Reisa Kartikasari Broto bahkan mengungkapkan jika kini  rumah sakit sudah penuh dengan pasien Covid-19.

Oleh sebab itu, masyarakat diharapakan tetap patuh pada protokol kesehatan 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi. 

Perlukah anak bayi menggunakan masker? 

Sampai saat ini, Organisasi kesehatan Dunia (WHO) belum mengeluarkan anjuran bayi menggunakan masker dan belum ada pula penelitian yang menguji tentang tingkat efektivitas penggunaan masker dalam pencegahan Covid-19 pada bayi. 

Namun, para dokter sepakat bahwa penggunaan masker pada bayi membawa risiko bagi keselamatan bayi. Penggunaan masker akan menghambat aliran oksigen masuk ke tubuh bayi.

"Masker tanpa sadar bisa membatasi oksigen yang masuk ke dalam tubuh bayi dan mereka tidak bisa melepasnya sendiri," kata Rebekah Wheeler, ahli kesehatan bersertifikasi dari Amerika Serikat, dilansir AKURAT.CO dari Insider. 

Berikut ini alasan kenapa tidak disarankan bayi menggunakan masker:

  • Saluran pernapasan bayi lebih kecil.
  • Bila terhambat masker, bayi bisa kekurangan oksigen dan meninggal.
  • Masker membuat bayi sulit bernapas sehingga rewel.
  • Bayi tak bisa melepas masker sendiri ketika merasa sulit bernapas.
  • Bayi cenderung mencoba melepaskan maskernya sehingga menyebabkan mereka sering menyentuh wajahnya. Ini dapat meningkatkan risiko penularan dan penyebaran virus.

Lalu bagimanakah cara agar mereka tetap aman dari ancaman virus corona?

  • Batasi kontak publik dengan bayi. Tidak perlu membawa bayi ikut serta ketika hendak ke luar rumah, jika memang memungkinkan.
  • Jika bayi digendong, arahkan wajahnya ke arah wajah penggendong. Begitu juga saat bati berada di kereta dorong.  Jangan menghadapkan bayi ke arah luar, melainkan pada orangtua atau pengasuh yang mendorong kereta.
  • Cuci tangan setelah dari luar rumah, sebelum menyentuh bayi dan anak-anak, sebelum menyusui, dan menyiapkan makanan.
  • Cuci dot bayi sesering mungkin.
  • Hindarilah kontak dengan orang yang memiliki gejala sakit.
  • Gunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah atau ketika sakit walaupun hanya di rumah saja.
  • Batasi kontak dengan bayi dan anak-anak  terutama saat mengalami gejala sakit. Tunggulah sampai gejalanya mereda. 

Disamping bayi, sejumlah ahli juga menyebut masker tidak perlu digunakan anak berusia lima tahun ke bawah. Meskipun begitu, anak-anak ini wajb mematuhi protokol kesehatan lainnya. 

Sementar, WHO sudah mewajibkan anak berusia 12 tahun ke atas untuk memakai masker, layaknya orang dewasa. Khususnya ketika mereka tidak dapat menjaga jarak setidaknya satu meter dari orang lain, dan ada penularan yang meluas di daerah tersebut. 

Sedangkan anak-anak antara enam dan 11 tahun harus memakainya dengan pendekatan berbasis risiko, seperti intensitas penularan di daerah tersebut, kemampuan anak untuk menggunakan masker, akses ke masker dan pengawasan orang dewasa yang memadai. 

"Studi menunjukkan anak-anak yang lebih tua berpotensi memainkan peran yang lebih aktif dalam penularan virus corona baru daripada anak-anak yang lebih muda," kata WHO dan UNICEF.

Sementara, untuk anak dengan sistem imun yang menurun (imunokompromi) atau pasien anak dengan fibrosis kistik (penyakit genetika yang sebabkan lendir-lendir di dalam tubuh menjadi kental dan lengket sehingga menyumbat saluran-saluran di dalam tubuh), gangguan disabilitas, atau kondisi kesehatan tertentu lain yang dapat terganggu saat pakai masker. Maka penggunaan masker tidak diwajibkan.[]