News

Moderna Ungkap Perlindungan Vaksinnya Menurun untuk Lawan Covid-19, Sarankan Suntikan Booster

Moderna pun mengisyaratkan perlunya dosis penguat atau suntikan booster.


Moderna Ungkap Perlindungan Vaksinnya Menurun untuk Lawan Covid-19, Sarankan Suntikan Booster
Botol vaksin Covid-19 berlogo Moderna. (REUTERS/Dado Ruvic)

AKURAT.CO, Data baru dari uji coba skala besar Moderna telah menunjukkan bahwa perlindungan vaksin Covid-19 yang ditawarkannya berkurang dari waktu ke waktu. Dalam pernyataannya, Moderna pun mengisyaratkan perlunya dosis penguat atau suntikan booster.

Sebagaimana diwartakan Reuters, laporan itu baru disampaikan Moderna dalam rilis beritanya pada Rabu (15/9). Dalam pernyataannya itu, Moderna memperkirakan bahwa dampak dari kekebalan yang menurun mungkin akan menghasilkan kasus tambahan hingga 600 ribu infeksi. Namun, hal itu masih perkiraan, kata perusahaan farmasi dan bioteknologi AS tersebut.

"Ini hanya satu perkiraan, tetapi kami percaya ini penting saat Anda menghadapi musim gugur dan musim dingin, setidaknya kami memperkirakan perkiraan dampak berkurangnya kekebalan akan menjadi 600 ribu kasus tambahan Covid-19," kata Presiden Moderna, Stephen Hoge dalam sebuah pernyataan selama panggilan dengan para investor.

Hoge tidak memproyeksikan berapa banyak kasus yang akan muncul dengan gejala parah, tetapi mengatakan beberapa akan memerlukan rawat inap.

Terlepas dari proyeksi tambahan kasus, data dari penelitian Moderna  sangat kontras dengan hasil dari beberapa penelitian terbaru soal perlindungan vaksin. Dalam penelitian-penelitian itu, perlindungan vaksin Moderna bertahan lebih lama daripada suntikan serupa dari Pfizer dan mitra Jermannya BioNTech. 

Saat itu, para ahli mengatakan bahwa perbedaan perlindungan  kemungkinan disebabkan oleh dosis RNA messenger (mRNA) Moderna yang lebih tinggi dan interval yang sedikit lebih lama antara suntikan pertama dan kedua.

Lalu, jika dilihat dari hasil studi Fase III mereka yang berskala besar, baik vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech, keduanya terbukti sangat efektif dalam mencegah Covid-19. 

Namun, analisis hari Rabu, telah menunjukkan sedikit ketimpangan. Pasalnya, dari penelitian itu, terungkap jumlah kasus infeksi dari orang yang divaksin Moderna 13 bulan lalu, lebih tinggi dibanding mereka yang divaksin 8 delapan bulan lalu.

Dalam analisisnya itu, Moderna membandingkan kinerja vaksin pada 14 ribu lebih sukarelawan yang disuntik antara Juli-Oktober 2020. Kemudian dari sukarelawan itu, 11 ribu di antaranya awalnya berada dalam kelompok plasebo. Lalu mereka ditawari suntikan antara Desember 2020 sampai Maret 2021 setelah Moderna mendapatkan otorisasi penggunaan darurat AS.

Kemudian pada Juli hingga Agustus tahun ini, para peneliti menemukan 88 kasus Covid-19 di antara mereka yang mendapat dua suntikan dalam periode terakhir. Sementara pada kelompok yang divaksin sebelumnya, peneliti mengindentifikasi hingga 162 kasus.

Secara keseluruhan, hanya 19 kasus yang dianggap parah. Sementara kecenderungan tingkat kasus parah lebih banyak terjadi pada kelompok yang divaksin pada periode pertama. Meskipun temuan ini tidak signifikan secara statistik, tetapi semua hasil  ini telah menjadi tolok ukur utama dalam menilai perlindungan vaksin Moderna yang berkurang.

Hasil itu sendiri diperoleh Moderna selama menjalani penelitian dari Juli sampai Agustus 2021. Ini ketika Delta menjadi strain yang dominan di dunia. Hasil penelitian ini sementara belum menjalani peer review atau peninjauan dari rekan sejawat.

Moderna Ungkap Perlindungan Vaksinnya Menurun untuk Lawan Covid-19, Isyaratkan Suntikan Booster - Foto 1
 Seorang petugas kesehatan memberikan suntikan vaksin Moderna kepada seorang wanita di tempat vaksinasi di New York, AS pada Januari-Reuters via Japan Times

Moderna pada 1 September mengajukan permohonannya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat  (FDA) untuk meminta izin untuk suntikan booster. 

Hoge mengatakan bahwa berdasarkan data studi tentang suntikan booster, vaksin Moderna terbukti dapat meningkatkan antibodi penetralisir ke tingkat yang lebih tinggi dibanding yang terlihat setelah dosis kedua.

"Kami yakin ini (booster) akan mengurangi kasus Covid-19. Kami juga percaya bahwa dosis ketiga mRNA-1273 memiliki peluang untuk memperpanjang kekebalan secara signifikan sepanjang tahun depan, dan saat kita berusaha untuk mengakhiri pandemi," katanya. 

Hoge juga mengatakan bahwa kinerja awal vaksin Moderna memiliki perlindungan yang kuat. Namun, Hoge tetap berpendapat bahwa perlindungan tidak boleh dibiarkan berkurang.

"Enam bulan pertama sangat bagus, tetapi Anda tidak dapat mengandalkan pelindingan masih stabil hingga satu tahun dan seterusnya," katanya.

Di hari yang sama, Perawatan Kesehatan California Selatan - Kaiser Permanente Thrive juga mempresentasikan data studinya. Namun, agak sedikit berbeda, dari studi terpisah ini, mereka menyebut bahwa Moderna terus memiliki kinerja baik terhadap varian Delta.

Hasil itu diperoleh setelah para peneliti di Kaiser Permanente membandingkan data dari kelompok yang mendapat dua dosis vaksin Moderna dan individu yang tidak divaksin. Adapun jumlah masing-masing kelompok yang diteliti itu berjumlah hingga 352 ribu orang lebih. 

Dari perbandingan kelompok itulah, peneliti menemukan bahwa vaksin Moderna 87 persen efektif mencegah diagnosis Covid-19, dan 96 persen efektif mencegah rawat inap. []