Ekonomi

Mitigasi Dampak Corona, Ini 3 Jurus Intervensi BI Menstabilkan Rupiah


Mitigasi Dampak Corona, Ini 3 Jurus Intervensi BI Menstabilkan Rupiah
Petugas jasa penukaran uang asing PT Ayu Masagung menghitung pecahan uang Rp100.000 di Pasar Senen, Jakarta, Kamis (1/3). Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS melemah dan menyentuh Rp13.800 per Dolar AS (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menggunakan tiga instrumen intervensi guna memitigasi dampak COVID-19 agar sektor moneter Tanah Air tetap stabil.

"Yang akan kami lakukan khusus untuk stabilisasi sektor moneter, kami melakukan triple intervention," kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti saat hadir pada CNBC Economic Outlook 2020 di Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Dilansir dari Antara, menurut dia, tiga instrumen itu adalah Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), pasar spot, dan pasar obligasi.

Destry menjelaskan, DNDF merupakan instrumen lindung nilai atau hedging kepada investor yang masuk ke Indonesia.

DNDF, lanjut dia, penyelesaiannya dilakukan di Indonesia menggunakan Rupiah yang terbukti berhasil menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah selama 2018-2019.

"Ini sangat efektif untuk men-smoothing nilai tukar kita sendiri," katanya.

BI, lanjut dia, juga menggunakan pasar spot namun jumlahnya tidak banyak.

"Ada suatu korelasi erat antara inflow offshore terhadap spot market. Saat jual, sebagian akan beli spot, sebagian lagi tetap mempertahankan di Rupiah," imbuhnya.

Intervensi ketiga, lanjut dia, yakni BI masuk di pasar obligasi atau bonds market untuk surat berharga negara (SBN).

"Kami juga ingin menstabilkan sektor keuangan khususnya rupiah sehingga yield SBN 6,5 persen, kembali juga dilihat kredibilitas pemerintah yang sangat positif," ucapnya.

Sebelumnya, BI mengoreksi target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 dari sebelumnya 5,1-5,5 persen menjadi 5-5,4 persen.

Koreksi itu disebabkan pengaruh ekonomi global yakni dampak COVID-19. []

Sumber: Antara