Ekonomi

Misbakhun Tekankan Quantitative Easing Dengan Pencetakan Uang Dilakukan Terkontrol dan Hati-hati


Misbakhun Tekankan Quantitative Easing Dengan Pencetakan Uang Dilakukan Terkontrol dan Hati-hati
Anggota DPR Fraksi Golkar Mukhammad Misbakhun bersama Peneliti Senior INDEF Enny Sri Hartati dan Direktur IndoSterling Aset Manajemen Stevan Purba saat menjadi pembicara dalam acara IndoSterling Forum yang bekerjasama dengan Akurat.co dengan tema 'Memprediksi Iklim Investasi Indonesia Pasca Pilpres 2019 di Gedung Abdul Muis, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Kamis (16/5/2019). Dalam diskusi ini hadir juga Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegor (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan perlu diberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kebijakan Quantitative Easing untuk menambah pasokan uang melalui pencetakan uang dilakukan dengan kontrol dan hati-hati.

"Pemahaman Quantitative Easing yang harus dikuatkan ke masyarakat kepada publik adalah mencetak itu adalah mencetak uang dengan kontrol yang hati-hati," ujarnya melalui diskusi virtual, Jumat (10/4/2020).

Pencetakan uang yang dilakukan dengan kontrol yang hati-hati dimaksud adalah telah mempersiapkan apa saja keperluan menggunakan Quantitative Easing agar tidak terjadi inflasi yang terlalu tinggi.

"Kemudian uang itu juga ada dipersiapkan untuk keperluan apa mengeluarkan nya rilis kedalam sistem keuangan yang ada. Injeksinya juga sangat hati-hati untuk mengontrol agar jangan sampai, mempengaruhi inflasi pasti tapi jangan sampai kemudian karena tidak terkontrol kemudian inflasinya menjadi sangat tinggi," jelasnya.

Lebih lanjut legislator Golkar ini mengatakan bahwa usulannya mengenai Quantitative Easing berkaca pada Amerika Serikat saat krisis 2008 dimana bank sentral AS The Fed juga mengambil kebijakan Quantitative Easing.

"Tahun 2008, AS sangat dalam terkena karena mereka pusat episentrum dari krisis global financial crisis itu. Pada saat itu AS akhirnya memutuskan Quantitative Easing," ungkapnya.

Misbakhun menilai perlu dipahami bahwa Quantitative Easing bukan hanya melakukan pencetakan uang secara tunai, namun juga melalui surat utang negara.

"Jangan beranggapan bahwa mencetak uang itu suka-suka mereka tidak. Tentunya kan harus ada surat utang dan bank sentral yang akan membeli," tambahnya.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) telah melakukan langkah pelonggaran kuantitatif atau quantitative easing (QE) dengan melakukan injeksi likuiditas, sebesar  Rp 300 triliun. Ini untuk memastikan likuiditas di pasar keuangan tetap terjaga di tengah tekanan pandemi virus korona Covid-19.[]