Ekonomi

Misbakhun Tanyakan Strategi BI Selanjutnya Jika Ketidakpastian Akibat COVID-19 Masih Panjang


Misbakhun Tanyakan Strategi BI Selanjutnya Jika Ketidakpastian Akibat COVID-19 Masih Panjang
Anggota DPR Fraksi Golkar Mukhammad Misbakhun saat menjadi pembicara dalam Dialektika Demokrasi di Media Center, Nusantara III, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Kamis (6/8/2020). Diskusi ini membahas tema 'Ancaman Resesi Ekonomi dan Solusinya'. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mempertanyakan langkah atau strategi Bank Indonesia (BI) sebagai pengambil kebijakan makroprudensial untuk mengantisipasi ketidakpastian akibat dampak pandemi COVID-19 yang diperkirakan masih panjang.

"Jika kesinambungan ketidakpastian ini berjalan apa strategi yang disiapkan oleh Gubernur Bank Indonesia baik itu dalam menjaga stabilitas nilai tukar maupun dalam menjaga inflasi," katanya dalam rapat kerja Komisi XI dengan Bank Indonesia secara virtual, Jakarta, Senin (28/9/2020).

Misbakhun menjelaskan, adapun hal-hal perlu diantisipasi Bank Indonesia di antaranya seperti inflasi. Menurutnya, inflasi saat ini bukan hanya rendah tetapi kecenderungannya menuju kepada deflasi. Hal ini dinilai menjadi suatu permasalahan ekonomi yang serius karena pada saat yang bersamaan pemerintah tengah berupaya meningkatkandaya beli masyarakat.

"Kalau kita bicara tentang deflasi ini juga menjadi sebuah permasalahan ekonomi yang serius, ketika pada saat yang sama kita sedang berusaha mengerek atau mengatrol upaya daya beli karena daya ekonomi kita 57,6 persen struktur pertumbuhan PDB kita ini di-drive oleh konsumsi dan 56,2 persen dari 57,6 persen itu adalah konsumsi rumah tangga," lanjutnya.

Di sisi lain, legislator Golkar ini juga mempertanyakan langkah atau strategi apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia apabila skema burden sharing diperpanjang bahkan hingga 2022.

"Apa antisipasi Bank Indonesia ketika burden sharing itu diperpanjang kemudian karena faktor ketidakpastian tadi dan saya sudah membaca diperpanjang sampai 2022 maka konsep burden sharing di 2020 ini akan memanjang ke 2021 memanjang lagi 2022," jelasnya.

Hal ini tentunya menurut Misbakhun untuk mengantisipasi respon dari pasar agar memberikan dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi.

"Tentu ini akan menjadi sinyal awal bagi pasar untuk melakukan apa antisipasi. Ketika pasar mengantisipasi apa antisipasi balik dari Bank Indonesia sebagai pengambil kebijakan di sektor keuangan sehingga antisipasi balik itu memberikan energi positif terhadap pertumbuhan ekonomi kita," ungkapnya. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu