Ekonomi

Misbakhun Beberkan Alasan Minta OJK Ikut Rapat Bahas Asumsi Ekonomi Makro

Misbakhun Beberkan Alasan Minta OJK Ikut Rapat Bahas Asumsi Ekonomi Makro
Anggota DPR RI Komisi XI Mukhamad Misbakhun dalam Webinar ISEI Jakarta, Kamis (8/4/2021) (AKURAT. CO/Atikah Umiyani )

AKURAT.CO, Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengungkapkan alasannya meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengikuti rapat kerja antara pemerintah bersama DPR RI ketika membahas asumsi ekonomi makro.

Politisi Partai Golkar itu menerangkan, dengan memanggil OJK maka setiap target pertumbuhan ekonomi disamping Bank Indonesia (BI) sebagai penjaga stabilitas nilai tukar dan stabilitas harga, maka juga bisa diketahui berapa proyeksi pertumbuhan kredit sektor perbankan yang bisa disalurkan sebagai pendorong sektor riil untuk membantu proyeksi pertumbuhan ekonomi pemerintah melalui instrumen kebijakan fiskal dan belanja negara yang digunakan.

"Ini yang selalu saya sampaikan kenapa OJK perlu dipanggil bersama-sama ketika membahas asumsi ekonomi makro kita," jelasnya dalam Webinar ISEI Jakarta, Kamis (8/4/2021).

baca juga:

Sebab menurut Misbakhun, penyaluran kredit menjadi salah satu faktor penentu bagaimana topangan penyaluran kredit perbankan ke ekonomi Indonesia. Karena dimasing-masing sektor riil memberikan kontribusi secara sektoral ke agregat ekonomi tanah air.

" Kalau kita liat ternyata ada situasi yang memang ekonomi kita berat. Faktor confident tadi, bahwa kelompok kelas menengah belum bisa mempunyai kepercayaan terhadap semua kebijakan. Mereka liat ada masalah pandemi yang ditangani pemerintah dan penanganan pemerintah ini menunjukan progres yang bagus, tapi kemudian mereka juga masih menunggu," paparnya.

Oleh karena itu, Misbakhun meminta pemerintah untuk mencari akar permasalahan mengenai sektor apa saja sebenernya yang harus didorong dari sektor kelas menengah.

Sekadar informasi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku tetap optimistis terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional 2021 dapat tercapai di kisaran 4,5%-5,3%. Hal tersebut, menurut dia, salah satunya tercermin dari beberapa indikator ekonomi yang mengalami tren perbaikan.

“Tercermin dari PMI manufaktur yang berada di atas level ekspansif 50 atau 50,9%, realisasi investasi dan penyaluran KUR di tahun 2020 ini paling tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya, IHSG serta nilai tukar Rupiah yang telah kembali,” katanya dalam diskusi mengenai Optimalisasi UU Cipta Kerja Sebagai Strategi Utama Akselerasi Investasi Indonesia, Jakarta, Selasa (30/3/2021).

Menko Airlangga memaparkan perbaikan tersebut di antaranya Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level ekspansif yakni 50. Kemudian realisasi investasi dan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2020 lebih tinggi dibandingkan posisi tahun sebelumnya.[]

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu