News

Mirisnya Situasi Corona di Myanmar, Warga Krisis Oksigen hingga Dokter Harus Bersembunyi karena Diburu Junta  

Berbagai kota besar di Myanmar terus dilanda krisis oksigen dengan orang-orang rela mengantre hingga berjam-jam


Mirisnya Situasi Corona di Myanmar, Warga Krisis Oksigen hingga Dokter Harus Bersembunyi karena Diburu Junta  
Relawan dengan mengenakan alat pelindung diri (APD) berdoa di depan jenazah orang yang meninggal karena COVID-19 di Mandalay pada 14 Juli (STR/AFP/GETTY IMAGE)

AKURAT.CO, Gelombang infeksi COVID-19 yang parah makin menghancurkan Myanmar yang sudah bertekuk lutut akibat kudeta militer.

Seperti diwartakan CNN, berbagai kota besar di Myanmar terus dilanda krisis oksigen dengan orang-orang rela mengantre hingga berjam-jam untuk mendapatkan jatah pasokan. Sementara itu, sejumlah warga yang sakit parah meninggal di rumah karena takut berobat ke rumah sakit Myanmar yang kekurangan staf dan fasilitas.

Muramnya situasi krisis COVID-19 di Myanmar itu pun terekam dalam berbagai foto. Dalam sejumlah potret yang diambil dari kota terbesar Yangon misalnya, barisan keluarga pasien COVID-19 menunggu di pabrik oksigen dengan harapan mengisi ulang tangki.

Terlihat pula krematorium yang penuh dengan pelayat dan peti mati. Di sana, para pekerja pemakaman dan sukarelawan dengan pakaian hazmat bekerja tanpa henti di kuburan untuk mengubur barisan jenazah pasien COVID-19.

Setiap hari, anggota keluarga yang putus asa menjelajahi grup Facebook dan aplikasi terenkripsi untuk mencari pasokan oksigen. Kata-kata seperti 'mendesak', 'darurat', dan 'tolong bantu saya' diulang-ulang dalam aliran pesan yang konstan. Sementara yang lain membantu dengan menawarkan tank oksigen milik keluarga mereka yang sudah meninggal. 

"Kakek saya kekurangan oksigen. Tolong bantu dia. Apakah ada tempat di mana dia bisa mendapatkan oksigen?" tanya seorang pengguna yang khawatir di grup Facebook. 

Kesaksian krisis oksigen di Myanmar itu juga ikut diungkap oleh Snowy, salah satu warga yang tergabung dalam kelompok penyedia oksigen.

Snowy (25) mencoba terus mengirim tangki oksigen dan pasokan lain kepada mereka yang memposting di media sosial. Setiap hari dia menghubungi pemasok oksigen swasta dan mengirimkan tangki kepada mereka yang membutuhkan. Namun, pasokannya tidak pernah cukup. 

"Mereka berkata, 'selamatkan kami, selamatkan kami.' Tapi bagaimana saya bisa menyelamatkan mereka? Saya bukan dokter. Saya hanya bisa memberi mereka akses oksigen ketika saya bisa mendapatkannya. Ada beberapa orang yang meninggal karena kami tidak bisa mendapatkan oksigen tepat waktu," katanya meminta untuk menggunakan nama samaran untuk melindungi keselamatannya.