News

Miris! Pejabat India Ejek Permintaan Siswi terhadap Pengadaan Pembalut Bersih, 'Hari Ini Minta Pembalut, Besok Minta Kondom'

Miris! Pejabat India Ejek Permintaan Siswi terhadap Pengadaan Pembalut Bersih, 'Hari Ini Minta Pembalut, Besok Minta Kondom'
Jutaan anak perempuan di India putus sekolah setiap tahun karena kurangnya akses ke fasilitas kebersihan untuk menstruasi (Getty Images via BBC)

AKURAT.CO  Seorang pejabat India mendadak jadi perbincangan lantaran mengejek seorang siswi yang meminta pengadaan pembalut gratis. Reaksinya itu pun kini telah menuai kecaman luas dari warga di India.

Kasus ini terjadi saat acara lokakarya yang diselenggarakan pemerintah setempat dengan UNICEF, di negara bagian Bihar di bagian timur negara itu. Di acara, seorang remaja putri membahas tentang pembalut gratis, yang selama ini telah menjadi bagian dari masalah kesehatan bagi para perempuan di India. Di hadapan pejabat itu, gadis ini lantas meminta pengadaan akan pembalut gratis.

Namun, alih-alih menanggapi dengan solusi, pegawai negeri sipil India itu justru melontarkan cemoohan. Ia pun mengatakan bahwa gadis itu akan segera mengharapkan pemerintah untuk menyediakan pakaian, sepatu, dan bahkan kondom gratis.

baca juga:

Di India, menstruasi adalah topik yang tabu, dengan wanita yang sedang haid kerap dipaksa untuk menjalaninya di bawah batasan ketat.

Bahkan tiap tahunnya, ada hampir 23 juta anak perempuan yang putus sekolah setelah mulai menstruasi karena kurangnya akses ke fasilitas kebersihan.

Bihar sendiri adalah salah satu negara bagian termiskin di India, dan hanya 59persen wanita yang menggunakan metode perlindungan menstruasi yang higienis. Hal ini telah dilaporkan oleh Survei Kesehatan Keluarga Nasional (NFHS-5), peninjauan rumah tangga paling komprehensif tentang indikator kesehatan dan sosial oleh pemerintah.

Acara itu, yang diadakan pada Selasa (27/9) di ibukota Patna bertajuk 'Sashakt Beti, Samriddh Bihar' (Putri yang Diberdayakan, Bihar Sejahtera). Siswi itu bertanya kepada pejabat tersebut apakah pemerintah bisa menyediakan pembalut gratis, yang di pasaran dihargai 20-30 rupee (Rp3.700-5.600).

Pejabat itu, yang diberi pertanyaan, diidentifikasi sebagai Harjot Kaur Bhamra, seorang birokrat senior di Kementerian Kesejahteraan Perempuan dan Anak. Ia pun diketahui mengepalai Perusahaan Pengembangan Perempuan dan Anak di negara bagian itu. 

Kepadanya pejabat tinggi itu, pelajar itu juga berbicara tentang toilet yang rusak di sekolahnya dan kesulitan dalam menggunakannya. 

Laporan menyebut bahwa lokakarya dihadiri oleh para remaja, terutama siswa berusia 15-16 tahun.

Menanggapi pertanyaan soal akses ke kebersihan, Bhamra justru tampak kesal, kata BBC dalam laporannya. 

"Mengapa Anda perlu mengambil semuanya dari pemerintah?" 

"Cara berpikir ini perlu diubah. Lakukanlah sendiri," kata Bhamra ketus.

Bagaimanapun, remaja tersebut tak menyerah. Ia pun bersikeras meminta solusi dari pemerintah yang telah dipilih oleh rakyat. 

Namun, Bhamra lagi-lagi merasa geram, menjawab dengan amarah, hingga menyebut soal 'kebodohan'.

"Ini adalah puncak kebodohan. Jangan memilih kalau begitu. Jadilah Pakistan. Apakah Anda memilih untuk uang dan layanan?" lanjutnya.

Video percakapan antara Bhamra dan siswi itu pun langsung viral di media sosial. Banyak warga yang kemudian menjadi emosi, menyebut komentar Bhamra 'memalukan'. Ada pula yang mengatakan bahwa pejabat itu 'tidak layak' menjadi pegawai negeri.

Bhamra, dalam tanggapannya, menampik laporan tersebut, mengklaimnya 'salah dan jahat'. Ia juga mengancam akan mengambil tindakan hukum terhadap surat kabar Hindi yang pertama kali melaporkan komentarnya.

"Saya dikenal sebagai salah satu pembela hak dan pemberdayaan perempuan yang paling gencar," katanya sambil menyalahkan 'oknum-oknum nakal' karena mencoba 'memfitnah' reputasinya. []