News

Miris! PBB: Tempat Paling Mematikan bagi Wanita dan Anak Perempuan adalah Rumah Sendiri

Miris! PBB: Tempat Paling Mematikan bagi Wanita dan Anak Perempuan adalah Rumah Sendiri
Menurut laporan PBB, 56 persen dari 81 ribu wanita dan anak perempuan korban pembunuhan tahun lalu meregang nyawa di tangan pasangan atau kerabat mereka. (EPA-EFE)

AKURAT.CO Tempat paling mematikan bagi banyak wanita dan anak perempuan di seluruh dunia justru di rumahnya sendiri, menurut laporan baru PBB. Penelitian oleh Kantor PBB Bidang Narkoba dan Kejahatan (UNODC) serta kelompok U.N. Women ini dirilis pada Rabu (23/11).

Berdasarkan laporan tersebut, 56 persen dari 81 ribu wanita dan anak perempuan korban pembunuhan tahun lalu meregang nyawa di tangan suami, pasangan, atau kerabat mereka. Diperkirakan 45 ribu wanita dan anak perempuan dibunuh oleh pasangan atau anggota keluarga pada 2021.

"Di balik setiap data femisida, ada kisah seorang wanita atau anak gadis yang gagal. Kematian ini dapat dicegah. Alat dan pengetahuan untuk melakukannya sudah ada," ungkap Sima Bahous, direktur eksekutif U.N. Women, dilansir dari United Press International.

baca juga:

Laporan PBB tentang kekerasan terhadap perempuan ini datang 2 hari sebelum Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada Jumat (25/11).

"Tak ada wanita atau anak gadis yang harus takut akan hidupnya karena jati dirinya. Untuk menghentikan segala bentuk pembunuhan terkait gender terhadap wanita dan anak perempuan, kita perlu menghitung setiap korban, di mana saja, dan meningkatkan pemahaman tentang risiko dan pemicu femisida. Dengan begitu, kita dapat merancang pencegahan dan tanggapan peradilan pidana yang lebih baik dan lebih efektif," saran Ghana Waly, direktur eksekutif UNODC.

Berdasarkan data penelitian PBB, satu wanita atau anak perempuan dibunuh oleh pasangan intim atau anggota keluarganya setiap 11 menit.

"Kekerasan terhadap wanita dan anak perempuan adalah pelanggaran HAM terluas di dunia. Setiap 11 menit, seorang wanita atau anak perempuan dibunuh oleh pasangan intim atau anggota keluarga. Kita tahu bahwa tekanan lain, dari pandemi Covid-19 hingga gejolak ekonomi, tak terhindarkan untuk mengarah pada pelecehan fisik maupun verbal yang lebih parah lagi," kecam Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Rabu (23/11).

Pidatonya juga mengutuk kekerasan daring yang merajalela, ujaran kebencian misoginis, dan pelecehan seksual.

Meski kekerasan dalam rumah tangga menjadi masalah di seluruh dunia, penelitian PBB menemukan kesenjangan regional. Asia mencatat jumlah terbesar pembunuhan terkait gender di dalam negeri pada 2021. Laporan ini juga menemukan peningkatan signifikan dalam pembunuhan terkait gender di rumah selama pandemi Covid-19 di Amerika Utara serta di Eropa Barat dan Selatan.

"Diskriminasi, kekerasan, dan pelecehan yang menargetkan separuh umat manusia ini harus dibayar mahal. Ini membatasi partisipasi wanita dan anak perempuan di semua lapisan masyarakat, menyangkal hak-hak dasar dan kebebasan mereka, serta menghalangi pemulihan ekonomi yang setara dan pertumbuhan berkelanjutan yang dibutuhkan dunia kita," pungkasnya. []