News

Miris! Lari dari Perang, Mahasiswa Ukraina Malah Ditolak Gelar Kedokterannya oleh Nigeria

Otoritas Nigeria menyatakan bahwa pelatihan medis online yang dilakukan di bagian mana pun di dunia, dianggap tidak memenuhi standar.


Miris! Lari dari Perang, Mahasiswa Ukraina Malah Ditolak Gelar Kedokterannya oleh Nigeria
Banyak orang Afrika berjuang untuk menyeberangi perbatasan ke Polandia setelah pecahnya perang di Ukraina. (Getty Images via BBC)

AKURAT.CO Pesan dari dewan medis Nigeria untuk mahasiswa universitas Ukraina terdengar sangat sadis. Setelah terjebak oleh perang di Ukraina awal tahun ini, Moses Damilola Fehintola merasa lega ketika ia berhasil melarikan diri dan dapat melanjutkan gelar kedokterannya secara online.

Namun, suatu hari, sebuah pesan WhatsApp dengan huruf kapital muncul di ponselnya. Pesan itu memberi tahu Fehintola bahwa kualifikasi pembelajaran jarak jauhnya tidak akan diakui sama sekali. Bahasa pesan itu dingin dan formal.

"Kami ingin memberi tahu Masyarakat Umum bahwa Sertifikat Gelar Medis dan Gigi yang dikeluarkan oleh Sekolah Kedokteran dari Ukraina mulai tahun 2022 TIDAK akan diakui oleh Dewan Medis dan Gigi Nigeria (MDCN) sampai aktivitas akademik normal dilanjutkan,"

baca juga:

Membaca itu, Fehintola tersentak. Pandangan mahasiswa itu sejenak kabur. Ia kemudian bergumam putus asa menyebut nama Tuhannya.

"Ya Tuhan Yesus," kata Fehintola merespons pesan mengejutkan tersebut.

Saat itu, Fehintola sedang bersama ibunya, menuju ke kampung halamannya di Nigeria. Ibunya yang melihat putranya tercengang, menjadi penasaran,

"Apa yang sedang terjadi?" tanya ibu Fehintola, saat mereka berkendara ke sebuah pasar lokal di negara bagian Oyo, di barat daya Nigeria. 

Fehintola, bagaimanapun, hanya bisa menggumamkan beberapa kata, mencoba mengecilkan masalah yang menimpanya.

"Berita itu sangat memukul saya... Begitu banyak pikiran membanjiri pikiran saya. Saya benar-benar berharap bisa lulus dari Ukraina, terlepas dari apa pun yang terjadi," ujarnya.

Miris, Lari dari Perang, Para Mahasiswa Ukraina Malah Ditolak Gelar Kedokterannya oleh Nigeria - Foto 1
 Fehintola Moses Damilola, terlihat di sebelah paling kanan, berfoto dengan sesama mahasiswa. Fehintola telah berada di Ukraina sejak dia berusia 17 tahun-BBC

Ini adalah tahun keenam sekaligus yang terakhir bagi Fehintola untuk menjalani studinya di di Universitas Negeri Sumy, Ukraina. Sayang, hanya beberapa bulan sebelum Fehintola bisa merampungkan gelarnya, kota Sumy dikepung pasukan Rusia.

Pria berusia 22 tahun itu terjebak selama beberapa minggu sebelum dia berhasil pulang ke negaranya. Fehintola hanyalah satu dari lebih dari 1.000 warga Nigeria, sebagian besar pelajar, yang kembali dari Ukraina.

Terlepas dari pertempuran yang berkecamuk, Universitas Negeri Sumy dan institusi Ukraina lainnya berupaya terus memberikan pembelajaran daring. Jadi, Fehintola berasumsi bahwa dia akan dapat mencapai mimpinya untuk bekerja sebagai dokter.

Namun, rencananya tersebut kini hancur berantakan.

"Sekarang, di Nigeria, saya hanya mencoba melakukan praktik klinis, karena saya ingin memenuhi persyaratan untuk dapat berpraktik sebagai dokter di Nigeria. Pertama, saya mengajukan permintaan kepada Kementerian Kesehatan negara bagian agar saya bisa ditugaskan di sebuah rumah sakit. Tapi, ketika sampai di rumah sakit, direktur medis di sana berkata: 'Oh, Anda dari Ukraina, bukankah itu tempat sertifikatnya dibatalkan? oleh MDCN?"'

"Saya sangat terkejut, dan saya hanya harus mengatakan: 'Ya'. Karena itulah kebenarannya. Sejak saat itu, saya menerima pandangan sama, dan saya tahu akan ada stigma, sikap seperti: 'Orang ini dari Ukraina , sertifikatnya tidak valid.'" ungkap Fehintola berbicara kepada BBC.

MDCN belum menanggapi permintaan komentar dari BBC.

Meski telah menerima nasibnya, tetapi Fehintola dalam hati tetap kecewa. Ia pun menggambarkan kebijakan MDCN diskriminatif. Namun, setelah berpikir keras Fehintola memilih untuk mengambil hikmah, mencoba menyulap kondisi sulitnya sebagai sebagai sumber motivasi.

"Saya akan mengatakan ini kepada Nigeria: jika itu yang diinginkan Nigeria, biarlah. Saya akan mencari negara lain untuk berlatih dan itu akan menjadi kekalahan Nigeria," kata Fehintola dengan  nada menggebu.

Pendapat senada dilontarkan oleh Grace Ladi Musa, yang telah lima tahun mengambil gelar kedokteran di Universitas Kedokteran Kyiv ketika perang pecah. Dalam pernyataan tegasnya, Grace sangat setuju dengan apa yang dikatakan rekan seperjuangannya tersebut.

"Itu memang tidak adil,"  tandasnya.

Wanita berusia 23 tahun itu mengatakan kepada BBC bahwa rencana yang dia miliki untuk hidupnya telah terbalik. Pertama, perang, kemudian oleh kenyataan mengejutkan bahwa studinya dianggap tidak valid.

"Saya berharap kementerian pendidikan Nigeria akan memikirkan keputusan itu kembali," lanjut Grace.

Miris, Lari dari Perang, Para Mahasiswa Ukraina Malah Ditolak Gelar Kedokterannya oleh Nigeria - Foto 2
 Grace Ladi Musa berharap dewan medis di negaranya akan berubah pikiran-GRACE LADI MUSA via BBC

Lebih frontal, mahasiswa kedokteran lain bahkan memiliki kata-kata jauh lebih pedas untuk pihak berwenang Nigeria.

"Negara kita sendiri menolak kita. Orang-orang mencoba membuat diri mereka terdidik lebih baik untuk kembali ke rumah dan membuat negara lebih baik, tetapi Anda malah mengirim mereka pergi," komentar Emmanuella Oiza, 17 tahun, yang tahun ini berada di tahun kedua untuk studi kedokterannya di Universitas Negeri Sumy.

Seorang mahasiswa kedokteran lain, sementara  itu, berpikir soal bagaimana cara memecahkan masalah.  

"Satu-satunya solusi adalah memobilisasi," kata mahasiswa itu, Samuel Otunla yang berusia 24 tahun.

Samuel mengaku memiliki rencana, untuk menyatukan semua pelajar Nigeria yang kembali dan mengajukan petisi kepada pemerintah. Tujuan gerakan itu, imbuh Samuel, tidak lain agar keputusan bisa dicabut. Otoritas telah gagal mengelola pendidikan, karena belajar di luar negeri telah menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka yang mampu.

Miris, Lari dari Perang, Para Mahasiswa Ukraina Malah Ditolak Gelar Kedokterannya oleh Nigeria - Foto 3
FEHINTOLA MOSES DAMILOLA via BBC

MDCN telah menyarankan mahasiswa yang sedang belajar kedokteran atau kedokteran gigi di sekolah kedokteran Ukraina, untuk mencari transfer ke lembaga terakreditasi di negara lain.

Dewan itu juga menyatakan bahwa pelatihan medis online yang dilakukan di bagian mana pun di dunia, dianggap tidak memenuhi standar. Mereka juga menegaskan tidak akan mengakui sertifikat gelar medis apa pun yang dikeluarkan pada akhir pelatihan medis online dari manapun.

Namun, putusan Nigeria itu, tidak melihat kondisi Ukraina yang sedang dilanda perang, di mana lembaga-lembaga pendidikan terpaksa memilih jalur pembelajaran daring.

"Kami ingin mengabdi pada tanah air kami. Kami ingin membantu menyelamatkan nyawa di komunitas kami sendiri, itulah yang mendorong kami untuk menjadi dokter," kata Fehintola.

Tak terpengaruh dengan keputusan negaranya sendiri, Fehintola lantas memberikan penghormatan kepada Ukraina.

"Sebuah negara yang mampu maju dalam masa perang untuk memastikan siswa mereka masih mendapatkan persyaratan yang diperlukan untuk studi, mereka benar-benar pahlawan dalam situasi ini," kata Fehintola memberi penegasan. []