News

Miris! Cerita Sopir Taksi Raup Rp9.000 Sehari di Tengah Pandemi Covid-19


Miris! Cerita Sopir Taksi Raup Rp9.000 Sehari di Tengah Pandemi Covid-19
Beni Saputra, pengemudi taksi di sebuah perusahaan taksi biru. (AKURAT.CO/Yohanes Antonius)

AKURAT.CO, Pandemi virus corona atau Covid-19 yang mengancam warga Jakarta berimbas terhadap penghasilan pekerja harian. Salah satunya, pendapatan pengemudi taksi konvensional.

Beni Saputra, pengemudi taksi di sebuah perusahaan taksi biru merasakan betul dampak kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19. Dia mengaku pernah mendapat Rp9 ribu setelah 12 jam beroperasi. Pengalaman itu baru dirasakannya sejak setahun mengemudi di balik taksi berwarna biru itu.

"Tiga hari lalu dapatnya cuma Rp9 ribu. Itu sih udah paling nyesek," kata Beni kepada AKURAT.CO saat ditemui di kawasan Jalan Panjang Jakarta Selatan, Jumat (10/4/2020).

Pria Asal Solo Jawa Tengah ini menuturkan, merosotnya pendapatan dirasakan semenjak pemerintah mengimbau masyarakat untuk bekerja dari rumah.

"Dapat 100 ribu saja susah. Paling Rp75 sampai Rp80 ribu sehari. Biasanya nih dapat Rp200 ribu bisa juga lebih dalam sehari," akunya.

Meski demikian, Beni tidak keberatan dengan kebijakan pemerintah untuk memutus mata rantai Covid-19. Bahkan, dia mendukung adanya penetapan status  pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta yang mulai aktif hari ini.

Padahal, penerapan PSBB berdampak terhadap angkutan umum, termasuk taksi. Angkutan umum dibatasi dalam mengangkut penupang. Mereka hanya oleh mengangkut 50 persen penumpang dari kapasitas mobilnya. Dengan demikian, Beni sebagai sopir taksi hanya boleh mengangkut tiga penumpang karena kapasitas mobilnya lima orang.

Beni senang dengan aturan itu. Dia menilai aturan itu merupakan upaya pencegahan penularan penyakit menular ini.

“Kita enggak tahu yang naik sehat atau enggak. Kalau dia (penumpang) nularin ke kita, terus dibawa pulang ke rumahkan malah ngebahayain satu keluarga itu," pungkasnya.

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam melakukan upaya pencegahan kerap kali bikin Beni jengkel. Dia sering mengangkut penumpang dengan jumlah lebih dari tiga orang sebelum PSBB diterapkan. Bahkan banyak dari mereka yang tak mengenakan masker lalu duduk berhimpitan di dalam taksi.

“Masih sering ketemu juga yang begitu, sekali naik lima orang, enggak pake masker pula, kesal juga sih sebenarnya, mau ditegur, tapi takut salah,” ucapnya

Dengan adanya PSBB ini, Beni kini punya alasan menolak orderan kalau penumpang yang hendak menggunakan jasanya lebih dari jumlah yang ditentukan.

Bila bertemu dengan kelompok penumpang bandel ini, Beni lebih menyarankan agar mereka menggunakan dua taksi, atau praktisnya mereka menggunakan angkutan massal umum yang lain semisal Transjakarta.

“Kalau untuk saat ini, enggak dulu deh, jumlahnya lebih dari tiga orang saya sih saranin pesan dua taksi,” katanya lagi.

Untuk memproteksi diri dari ancaman corona, Beni memang menyediakan sabun pencuci tangan bagi setiap penumpangnya. Mereka wajib membersihkan tangan sebelum masuk ke dalam kendaraanya.

"Kalau masker sih saya enggak siapin. Karena susah dicari harganya juga mahal sedangkan pendapatan kita enggak nentu. Jadi saya cuma siapin ini," ucapnya sambil menunjuk sebotol hand sanitizer yang ditaruh di bagian depan mobil.[]

Arief Munandar

https://akurat.co